BLITAR – Sebagai anak bungsu dari keluarga pesantren yang kental dengan tradisi keislaman, Gus Iqdam dulunya justru paling jauh dari dunia ngaji. Sementara kakak-kakaknya dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an dan mondok di pesantren-pesantren ternama, ia lebih memilih bergaul di jalanan dan menghabiskan waktu dengan motor.
Namun semua berubah setelah percakapan sederhana dengan sang abah. Gus Iqdam mengungkap, titik balik hidupnya terjadi bukan karena ceramah panjang, tetapi karena satu kalimat penuh makna: “Le, mosok putune Mbah Kiai ora tau mondok?” Kalimat itu bukan hanya sindiran, tapi bentuk cinta yang mendalam dari seorang ayah pada anaknya yang nyaris tak tersentuh nilai-nilai pesantren.
Kini, Gus Iqdam menjadi panutan ribuan anak muda dan santri. Sosoknya yang humoris, jujur, dan membumi mampu menjangkau lapisan masyarakat yang selama ini jauh dari dunia keagamaan. Tapi semua itu bermula dari langkah kecil sang abah yang tahu cara mengetuk hati anaknya tanpa paksaan kasar.
Baca Juga: Peluang Cuan Pertanian Hidroponik Makin Dilirik Sebagian Masyarakat di Blitar Terutama Kalangan Muda
Bukan Anak Kiai Ideal, Tapi Justru Diistimewakan Takdir
Dalam banyak pengajiannya, Gus Iqdam kerap menyebut bahwa ia bukanlah anak yang patut dibanggakan pada masa kecilnya. Hobinya motoran, suka standing, dan bandel membuatnya jauh dari harapan keluarga kiai. Bahkan ia sendiri merasa tak layak menyandang status “Gus”.
“Saya itu dulu nakal, MTS lulus 2013, hobi montor, standing. Pokoknya jauh dari ngaji. Sementara saudara saya semua mondok, hafal Qur’an, kuliah di UB, pinter semua,” kata Gus Iqdam blak-blakan.
Sadar bahwa anak bungsunya ini sulit didekati lewat cara biasa, sang abah memakai pendekatan emosional yang sangat Jawa: tidak memaksa, tapi menanamkan rasa malu dan tanggung jawab dengan lembut. “Cukup dengan bilang, ‘mosok cucu kiai gak mondok’, saya langsung mikir,” ujar Gus Iqdam.
Baca Juga: Melihat Pos Curhat Kenasih di Kelurahan Pakunden Blitar yang Jadi Tempat Aman untuk Curhat
Langkah Kecil, Dampak Besar
Dari perasaan sungkan itulah akhirnya Gus Iqdam mengiyakan ajakan mondok. Tapi jujur, ia mengaku saat itu tidak mencari ilmu, hanya sekadar “pantes-pantes” agar tidak mempermalukan keluarga. Namun siapa sangka, dari keterpaksaan itu justru datang hidayah yang mengubah hidupnya.
“Saya mondok di Queen Al-Falah. Awalnya cuma buat nyenengke abah. Tapi di situ saya mulai ketemu orang-orang baik, lingkungan yang beda, suasana yang menentramkan,” kenangnya. Dari situ pula, ia mulai mengenal guru-guru yang sabar dan ajaran Islam yang menyentuh logika dan hati.
Prosesnya tidak instan. Tapi seiring waktu, Gus Iqdam menyadari bahwa sang abah bukan hanya menyuruh mondok karena formalitas keluarga, tapi karena ingin menyelamatkan jiwanya.
Baca Juga: Perjuangan Seorang Perempuan, Lawan Tekanan Sosial Terhadap Stereotipe Perempuan
Kekuatan Ayah yang Lembut tapi Menancap
Cerita Gus Iqdam ini menjadi contoh nyata bagaimana peran orang tua, khususnya ayah, bisa menentukan arah masa depan anak. Bukan dengan kekerasan, tapi lewat pendekatan yang strategis dan menyentuh.
“Dulu saya kira abah saya itu cuma kiai kampung biasa. Tapi ternyata, beliau punya cara luar biasa untuk menaklukkan saya,” ucapnya haru. Ia bahkan mengakui, keberhasilannya saat ini tak lepas dari strategi sang abah.
Kalimat itu kini menjadi nasihat bagi banyak orang tua yang hadir di pengajiannya. Bahwa anak nakal bukan berarti tidak bisa berubah. Dan bahwa perubahan butuh kesabaran, bukan paksaan.
Baca Juga: Jejak Sejarah Lahirnya Kepercayaan Sapta Dharma, Makna Sujud Menghadap Timur
Relasi Ayah-Anak yang Jarang Diangkat, Kini Jadi Inspirasi
Hubungan antara Gus Iqdam dan sang abah kini menjadi inspirasi banyak keluarga. Dalam dunia dakwah yang sering kali diwarnai ceramah keras, cerita seperti ini justru menyentuh. Ia membuka ruang bagi santri dan orang tua untuk merefleksikan pendekatan dalam mendidik, terutama ketika berhadapan dengan anak-anak zaman sekarang yang lebih keras kepala dan penuh pengaruh luar.
NU Kota Blitar menyebut, kisah Gus Iqdam relevan untuk generasi masa kini karena menyentuh sisi emosional dan nilai-nilai keluarga Jawa yang mulai memudar. “Ada pelajaran dalam kesederhanaan cara abahnya mendidik. Ini dakwah yang lahir dari rumah, dari kasih sayang, bukan hanya mimbar,” ungkap salah satu tokoh NU Blitar.