Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

⁠Cerita Warga Blitar 30 Tahun Tekuni Kerajinan Wayang: Hasilnya Tembus hingga Mancanegara

Muhamad Yusuf Zulkarnain • Senin, 4 Agustus 2025 | 20:30 WIB
⁠Cerita Warga Blitar 30 Tahun Tekuni Kerajinan Wayang: Hasilnya Tembus hingga Mancanegara
⁠Cerita Warga Blitar 30 Tahun Tekuni Kerajinan Wayang: Hasilnya Tembus hingga Mancanegara

BLITAR - Aroma cat dan kulit yang ditatah telaten masih menguar dari sebuah rumah sederhana di Desa Gleduk.

Di sanalah, Khoiruddin, seorang pria berusia 53 tahun, dengan setia menjaga warisan leluhur yang mendarah daging dalam jiwanya: seni lukis wayang kulit.

Matanya masih tampak berbinar saat tangannya dengan lincah menorehkan kuas di atas lembaran kulit. Sorot mata itu seolah bercerita tentang dedikasi puluhan tahun yang tak lekang oleh waktu.

Ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah panggilan jiwa yang telah menghidupi keluarganya selama lebih dari tiga dekade.

Kisah ini bermula dari masa kecil Khoiruddin. Pergelaran wayang kulit yang sering ia tonton di kampungnya berhasil membetot hatinya.

Sosok-sosok ksatria, raksasa, hingga punakawan itu seakan hidup dan menari-nari di benaknya. Rasa kagum itu tak berhenti di angan-angan.

"Sejak SMP, saya mulai menggambar tokoh-tokoh wayang di atas kertas karton," kenang Khoiruddin, saat ditemui di kediamannya.

Kecintaan itu semakin membara saat ia duduk di bangku SMAN 1 Blitar. Dari sekadar hobi, dia mulai berani menerima pesanan.

Beberapa teman dan kenalannya menjadi pelanggan pertama. Bahkan, pesanan pertamanya datang dari seorang dalang yang akan menggunakan wayangnya untuk sebuah pertunjukan.

Sebuah kebanggaan yang tak ternilai harganya bagi seorang remaja kala itu. "Dulu di tahun 1980-an, harganya masih standar. Satu wayang mungkin laku sekitar Rp 500 sampai Rp 1.000 saja," ujarnya sambil tersenyum.

Waktu terus berjalan dan zaman pun berubah. Namun, kesetiaan Khoiruddin pada pakem dan kualitas tak pernah surut.

Ketekunannya berbuah manis. Wayang hasil goresan tangannya kini tak lagi dihargai ratusan perak.

Seiring tumbuhnya apresiasi terhadap seni tradisi, harga satu buah wayang karyanya kini bisa mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 5 juta, tergantung pada kerumitan detail dan tokoh yang dibuat.

Dari bengkel kerjanya yang sederhana, karya-karya Khoiruddin telah terbang melintasi pulau-pulau di seluruh negeri.

Tak hanya itu, beberapa karyanya bahkan sudah dikoleksi oleh pencinta seni dari luar negeri. Tangan terampilnya telah membuktikan bahwa seni tradisi mampu menembus batas geografis dan budaya.

Proses pembuatan wayang kulit dimulai dari pemilihan bahan. Dia biasanya menggunakan kulit sapi atau kerbau pilihan yang sudah diproses khusus dari Solo agar siap untuk dilukis.

Kemudian membuat sketsa tokoh pewayangan di atas kertas karton. Pola inilah yang menjadi panduan untuk proses menatah (memahat) kulit dengan presisi. Setelah bentuk wayang jadi, barulah tahap paling seru dimulai yakni pewarnaan.

“Diwarnai dengan cat pigmen khusus, agar menghidupkan setiap karakter dengan sapuan warna yang cerah, detail, dan tentunya lebih tahan lama,” akunya.

Bagi Anda yang ingin melihat langsung wayang kulit karya Khoiruddin atau mungkin ingin memesan salah satu koleksinya, bisa langsung datang ke rumahnya di Dusun Sumber Agung, RT 02/RW 08, Desa Gleduk, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar. (*/c1/ady) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#pagelaran wayang #kerajinan wayang kulit #Kota Blitar #wayang kulit