BLITAR – Di balik dentuman knalpot dan adrenalin jalanan, muncul sebuah fenomena tak biasa: anak-anak racing ramai-ramai ikut pengajian. Di tengah mereka, berdiri sosok yang dulunya juga pernah hidup di jalur yang sama—Gus Iqdam, pendakwah muda asal Blitar yang kini jadi ikon santri jalanan.
Gus Iqdam tidak datang dari latar belakang sempurna. Ia blak-blakan mengakui masa lalunya sebagai remaja pecinta motor, yang hobinya standing, jumping, dan keliling tanpa arah. Tapi justru dari masa lalu itulah, kini ia berhasil menyentuh hati anak-anak muda yang selama ini jauh dari dunia ngaji.
“Jamaah saya mayoritas anak racing. Dulu saya juga seperti mereka. Cinta montor, lebih suka ngelayap daripada ngaji,” ucap Gus Iqdam dalam salah satu pengajiannya yang ramai dihadiri komunitas motor dari berbagai daerah.
Baca Juga: Peluang Cuan Pertanian Hidroponik Makin Dilirik Sebagian Masyarakat di Blitar Terutama Kalangan Muda
Dakwah Gaya Jalanan, Tapi Ngajinya Dalam
Fenomena pengajian ala Gus Iqdam berbeda dari yang biasa. Tak ada aturan kaku, tak ada kesan menggurui. Bahkan, suasana pengajiannya mirip kumpul komunitas: penuh canda, obrolan kasual, tapi tetap sarat pesan religius.
Ia tak keberatan melihat jamaahnya datang dengan jaket motor, helm digantung di stang, dan gaya yang mungkin dianggap “urakan” oleh sebagian orang. “Saya justru bangga. Dulu mereka larinya ke balapan liar, sekarang larinya ke pengajian,” ungkap Gus Iqdam dengan senyum.
Yang menarik, pengajiannya kerap digelar malam hari, waktu yang dulunya identik dengan kebut-kebutan. Tapi kini berubah jadi malam dzikir, tahlil, dan muhasabah bareng di bawah langit Blitar.
Baca Juga: Melihat Pos Curhat Kenasih di Kelurahan Pakunden Blitar yang Jadi Tempat Aman untuk Curhat
Dari Balapan ke Barisan Shaf
Perubahan tak hanya terlihat dari kebiasaan. Banyak anak racing yang kini rutin datang ke pondok, bahkan ikut ngaji secara aktif. Beberapa di antaranya kini menjadi santri penuh waktu. Mereka dulunya dikenal sebagai pembuat onar di jalan, tapi kini ikut membantu menjaga ketertiban di majelis.
“Saya itu dulu suka bikin susah orang tua. Sekarang saya jadi sering ngajak teman-teman ngaji. Karena saya merasa, Gus Iqdam itu ngerti kita banget,” kata Fikri, salah satu mantan anak racing yang kini jadi santri Gus Iqdam.
Pendekatan personal, kejujuran tentang masa lalu, dan gaya bicara yang gaul menjadi daya tarik tersendiri. “Saya tidak pernah sok suci. Saya kasih tahu mereka, saya juga pernah bodoh. Tapi kita bisa berubah bareng-bareng,” ujar Gus Iqdam.
Baca Juga: Sujud Menghadap Timur, Ritual Suci Pada Kepercayaan Sapta Dharma
Santri yang Nggak Malu Sama Masa Lalu
Berbeda dari pendakwah yang cenderung menghindari masa lalu kelamnya, Gus Iqdam justru menjadikan pengalaman nakalnya sebagai jembatan dakwah. Ia tahu persis bagaimana rasanya dianggap “anak gagal”, dan bagaimana sulitnya mencari arah hidup saat usia remaja.
“Kalau saya bisa berubah, kenapa mereka enggak? Mereka cuma butuh orang yang bisa memahami, bukan menghakimi,” ucapnya. Dari pendekatan itu lahirlah komunitas santri jalanan—para pemuda yang dulunya doyan kebut-kebutan, kini rutin ikut kajian dan bahkan mulai belajar ngaji secara formal.
NU Kota Blitar melihat fenomena ini sebagai terobosan. “Gus Iqdam adalah representasi dakwah baru. Menyentuh mereka yang selama ini tersisih dari ruang-ruang keagamaan formal,” ujar salah satu tokoh NU setempat.
Baca Juga: Mengenal Istilah Wewaroh Pitu, Pedoman Hidup Bagi Kepercayaan Sapta Dharma
Lifestyle Santri Baru: Kopling, Kitab, dan Kawan
Kini, komunitas di sekitar Gus Iqdam berkembang pesat. Beberapa anak racing yang rutin ikut pengajian bahkan mulai membuat konten edukatif islami. Sebagian lainnya memadukan hobi motor dengan aktivitas sosial seperti berbagi takjil, bantuan bencana, hingga komunitas hijrah.
Dakwah Gus Iqdam tak hanya berhenti di ceramah. Ia memberi ruang agar anak-anak muda ini tumbuh dengan identitas baru: santri yang tetap bisa stylish, suka motor, tapi juga cinta Qur’an dan majelis ilmu.
Bagi banyak anak muda, ini adalah bentuk Islam yang bisa mereka dekati. Islam yang tak menuntut kesempurnaan di awal, tapi membuka pintu seluas-luasnya untuk siapa saja yang ingin kembali.
Baca Juga: Mengenal Istilah Wewaroh Pitu, Pedoman Hidup Bagi Kepercayaan Sapta Dharma