Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mencari Prasasti Balitar I: Sejarah Tentang Blitar Dari Kerajaan Majapahit Masa Raja Jayanegara

Yanu Aribowo • Selasa, 5 Agustus 2025 | 21:00 WIB
BLITAR – Di tengah geliat pembangunan transportasi modern hari ini, tak banyak yang tahu bahwa pada era 1920-an, kuda adalah simbol status dan alat mobilitas utama bagi kalangan bangsawan Blitar.
BLITAR – Di tengah geliat pembangunan transportasi modern hari ini, tak banyak yang tahu bahwa pada era 1920-an, kuda adalah simbol status dan alat mobilitas utama bagi kalangan bangsawan Blitar.

BLITAR - Hari Jadi Blitar selalu diperingati setiap tahunnya di wilayah Blitar Raya. Tanggal 5 Agustus menjadi momen yang ditetapkan sebagai Hari Jadi Blitar.

Tanggal itu berdasarkan dari Prasasti Balitar I, tertanggal 5 Agustus 1324 Masehi atau 1246 Saka.

Prasasti Balitar I dikeluarkan pada masa Kerajaan Majapahit, masa raja kedua, Raja Jayanegara, yang memerintah pada periode 1231 Saka (1309 Masehi) hingga 1250 Saka (1328 Masehi). Terkait penemuannya, tidak disebutkan lokasi detail penemuan Prasasti Balitar I dan hanya disebutkan di wilayah Blitar.

Dalam buku Burat Sari I karya Danardhana dijelaskan, dari laporan Hoepermans dalam Rapporten Oudheidkundig Dienst (ROD) 1913, dijelaskan jika di Desa Blitar atau kini Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, masih terdapat tinggalan arkeologi berupa kepala kala dan prasasti dengan angka tahun 1246 Saka (1324 Masehi), yang salinannya berada di Museum Nasional dengan kode D 134.

Namun, dalam buku Hari Jadi Kabupaten Blitar 1976 dijelaskan bahwa koleksi Museum Nasional berkode D 134 adalah Prasasti Palungan atau Balitar II dengan angka tahun 1252 Saka (1330 Masehi).

Di lain sisi, dalam laporan Jan Laurens Andries Brandes asal Belanda, Prasasti Balitar I dulunya tercatat sebagai salah satu koleksi arkeologi di museum yang berada di lingkungan Pendapa Ronggo Hadi Negoro (RHN).

Prasasti ini pernah diteliti Brandes dalam karyanya Oud-Javaansche Oorkonden (OJO) pada 1913 Masehi berdasarkan laporan Verbeek tahun 1908 Masehi, dengan pembacaan awal 1236 Saka (1314 Masehi).

Hasil penelitian tersebut selanjutnya dikoreksi oleh Louis Charles Damais, sejarawan asal Prancis pada 1955 Masehi dalam Bulletin de l'École française d'Extrême-Orient (BEFEO).

"Prasasti yang in situ yang lokasinya di lingkungan Pendapa RHN oleh Damais selanjutnya dibaca 1246 Saka atau 5 Agustus 1324 Masehi," jelas Sejarawan Blitar, Ferry Riyandika.

Jadi, pada periode 1908-1955 Masehi posisi Prasasti Balitar I masih berada di lingkungan Pendapa RHN.

Namun, pada pelaksanaan peringatan Hari Jadi Blitar pada 1976 Masehi yang ditancapkan dalam peresmian adalah Prasasti Petung Ombo atau Panumbangan II, seperti yang kini ditemui di halaman Pendapa RHN.

Prasasti Petung Ombo berasal dari Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, yang memiliki angka tahun 1191 Saka (1269 Masehi).

Prasasti ini berasal dari masa Kerajaan Singhasari dengan Raja Krtanegara. Sedangkan, posisi Prasasti Balitar I saat ini belum diketahui lagi keberadaannya. (ynu)

Editor : M. Subchan Abdullah
#prasasti balitar #blitar #sejarah blitar #sejarawan #kerajaan majapahit #Raja Jayanegara #Ferry Riyandika