Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Reco Sewu Tulungagung, Tradisi Spiritualitas Islam Kejawen

Prima Suci Maharani • Rabu, 6 Agustus 2025 | 02:00 WIB
Reco Sewu Tulungagung (Dikutip dari akun Instagram @disbudparkabtulungagung)
Reco Sewu Tulungagung (Dikutip dari akun Instagram @disbudparkabtulungagung)

BLITAR – Terletak tak jauh dari Pantai Popoh, di Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, berdiri megah sebuah kompleks makam yang tak biasa, yakni Reco Sewu.

Di sinilah Mbah Soemiran Karsodiwirjo pendiri perusahaan rokok legendaris Reco Pentung dimakamkan bersama istrinya.

Lebih dari sekadar tempat peristirahatan terakhir, Reco Sewu adalah simbol nyata dari perpaduan Islam Kejawen dengan tradisi budaya Jawa.

Bangunan ini bukan sekadar makam biasa. Sejak awal didirikan tahun 1990 hingga diresmikan tahun 1995, kompleks ini dirancang sebagai tradisi spiritual.

Terdapat lebih dari 2.999 arca Dwarapala menghiasi setiap sisi bangunan, berpadu dengan nuansa sakral.

Angka sembilan, menurut penuturan penjaga lokasi, melambangkan Wali Songo, tokoh penyebar Islam di Tanah Jawa.

Walau Mbah Soemiran adalah seorang muslim, arsitektur makam dan tata letaknya menunjukkan akulturasi yang kental dengan nilai-nilai Kejawen ajaran spiritual yang merangkul alam, leluhur, dan kepercayaan lokal.

Uniknya, di sisi bangunan terdapat juga Palerman Nyai Roro Kidul, sebuah area yang digunakan untuk ritual ngalap berkah oleh sebagian pengunjung.

Meski tempat ini kini tak seramai dulu akibat pandemi, dahulu lebih dari 70% peziarah datang khusus untuk melakukan ritual di tempat ini, terlebih pada malam Jumat Legi atau Selasa Kliwon.

Ada pula pancuran air suci yang disebut "Cuci Pasurian", dipercaya memiliki nilai spiritual dan simbol kehidupan.

Air yang terus mengalir ini bukan sekadar ornamen, melainkan bagian dari filosofi Jawa bahwa air memberi kehidupan tanpa membeda-bedakan.

Reco Sewu menjadi bukti nyata bahwa Islam di Jawa bersifat fleksibel dan mampu berdampingan harmonis dengan budaya lokal.

Di sini, agama dan tradisi bersinergi membentuk ruang spiritual yang kaya makna.

Tidak hanya bagi pihak keluarga, tetapi juga bagi siapa pun yang ingin belajar tentang akar budaya Jawa yang hidup dalam keseharian.(*)

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#budaya jawa #Jejak Sejarah #patung #nilai spiritual #candi #warisan budaya #situs sejarah #tulungagung #arca #warisan leluhur #sejarah indonesia