BLITAR – Terletak di Kecamatan Besuki, Tulungagung, tak jauh dari Wilayah Pantai Popoh, berdiri sebuah bangunan megah khas Kejawen yakni Reco Sewu.
Bukan hanya dikenal sebagai makam pendiri rokok Reco Pentung, melainkan juga sebagai pusat simbolisme budaya Jawa yang bermakna luas.
Arsitektur dan tatanan spiritual di kompleks ini menyimpan banyak pesan tersembunyi, mulai dari deretan arca Dwarapala, sosok naga di empat penjuru mata angin, hingga pengulangan angka sembilan dalam hampir setiap elemen bangunan.
Salah satu elemen paling mencolok di Reco Sewu adalah kehadiran patung naga, makhluk mitologis dalam tradisi Jawa sering diasosiasikan dengan kekuatan alam, penjaga spiritual, dan keseimbangan antara dunia nyata dan dunia gaib.
Keempat naga yang diletakkan menghadap ke empat penjuru angin dipercaya melambangkan penjagaan terhadap ruang sakral, sekaligus representasi dari empat elemen kehidupan.
Di sisi lain, terdapat ratusan arca Dwarapala, sebuah patung penjaga gerbang yang biasanya ditempatkan di kompleks candi.
Di Reco Sewu, arca-arca ini menjadi simbol penjaga spiritual yang menapis energi negatif dan menjaga kesucian tempat.
Penempatan mereka bukan sembarangan, melainkan mengikuti tata letak tertentu yang berakar dari filosofi Kejawen.
Tak kalah menarik, angka 9 menjadi angka keramat yang berulang kali muncul di Reco Sewu.
Sembilan naga, sembilan tangga, hingga sembilan undakan menjadi bagian dari rancangan arsitektural.
Dalam filosofi Jawa, angka sembilan melambangkan kesempurnaan hidup, akhir dari perjalanan spiritual manusia menuju Tuhan. Angka ini juga berkaitan dengan jumlah wali dalam Islam Jawa (Wali Songo).
Baca Juga: Cuan dari Crypto? Ini Tips Gak Kaleng-Kaleng Buat Pemula Biar Gak Boncos Tapi Dapat Uang Tambahan
Menurut penjaga kompleks, semua simbol ini tidak diciptakan secara acak.
“Simbole simbol iki ndak sembarangan. Iki tatanan budaya lan spiritual sing kudu dijaga,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa pendiri Reco Sewu membangun kompleks ini dengan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai budaya Jawa dan kepercayaan spiritual.
Setiap sudutnya berbicara bukan dengan suara, melainkan melalui simbol dan getaran spiritual yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mau menyelami maknanya.(*)
Editor : M. Subchan Abdullah