BLITAR – Pandemi COVID-19 telah mengubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat, tak terkecuali dalam ranah budaya.
Salah satu tempat yang terdampak signifikan adalah Reco Sewu, sebuah kompleks makam megah yang terletak di Kecamatan Besuki, Tulungagung.
Tepatnya di Wilayah Pantai Popoh. Dahulu dikenal sebagai pusat spiritual dan ziarah budaya, kini tempat ini nyaris tergerus oleh zaman.
Reco Sewu bukan sekadar makam. Ia adalah lambang persinggungan antara keyakinan Islam Kejawen, penghormatan leluhur, dan tradisi ngalap berkah.
Sejak diresmikan pada tahun 1995, tempat ini menjadi magnet bagi peziarah dari berbagai daerah, terutama pada malam-malam tertentu seperti Jumat Legi atau Selasa Kliwon, di mana aktivitas spiritual mencapai puncaknya.
Namun pandemi membawa perubahan drastis. Larangan keramaian, kekhawatiran akan penularan virus, hingga ketatnya mobilitas membuat peziarah enggan berkunjung.
Menurut penuturan penjaga kompleks, jumlah pengunjung menurun drastis hingga lebih dari 70%.
Padahal sebelumnya, sebagian besar peziarah datang untuk melakukan ritual spiritual di area Palerman Nyai Roro Kidul maupun memanfaatkan pancuran air suci “Cuci Pasurian” sebagai sarana mensucikan diri.
“Dulu ramai mas, apalagi malam Jumat Legi. Sekarang, ya sepi. Kadang sehari cuma satu dua orang yang datang,” ujar sang penjaga dengan nada prihatin.
Pandemi tak hanya mengubah jumlah pengunjung, tetapi juga menggeser makna spiritualitas di kalangan masyarakat modern.
Dalam dunia yang semakin digital dan cepat, nilai-nilai seperti nyepi batin, ziarah, atau ngalap berkah mulai kehilangan ruang terutama di kalangan muda.
Meskipun situasi pandemi kini mulai mereda, Reco Sewu belum sepenuhnya pulih dari keterpurukan aktivitasnya.
Spiritualitas yang dahulu hidup di setiap sudut kompleks ini kini terasa memudar, menanti untuk dihidupkan kembali oleh generasi yang bersedia melihat nilai di balik tradisi.
Reco Sewu menjadi cermin dari tantangan yang dihadapi banyak situs budaya dan spiritual di Indonesia bagaimana bertahan di tengah zaman ketika tradisi harus bersaing dengan kecepatan dan modernitas.(*)
Editor : M. Subchan Abdullah