Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Berebut Air Suci Gong Kyai Pradah! Tradisi Jamasan di Blitar yang Bikin Warga Rela Antre Panjang

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Rabu, 6 Agustus 2025 | 22:00 WIB
Setiap tanggal 1 Syawal dan 12 Rabiul Awal, ribuan warga dari berbagai penjuru Blitar dan luar kota tumpah ruah di Lodoyo, Kecamatan Sutojayan. Mereka bukan hanya untuk menyaksikan ritual budaya
Setiap tanggal 1 Syawal dan 12 Rabiul Awal, ribuan warga dari berbagai penjuru Blitar dan luar kota tumpah ruah di Lodoyo, Kecamatan Sutojayan. Mereka bukan hanya untuk menyaksikan ritual budaya

BLITAR – Setiap tanggal 1 Syawal dan 12 Rabiul Awal, ribuan warga dari berbagai penjuru Blitar dan luar kota tumpah ruah di Lodoyo, Kecamatan Sutojayan. Mereka bukan hanya untuk menyaksikan ritual budaya, tetapi juga untuk berebut air bekas jamasan Gong Kyai Pradah—sebuah pusaka keramat yang diyakini menyimpan kekuatan spiritual tinggi.

Tradisi jamasan Gong Kyai Pradah ini telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun. Masyarakat percaya, air yang digunakan untuk menyucikan gong keramat tersebut dapat menyembuhkan penyakit dan membawa ketentraman batin. Tak heran, begitu air jamasan selesai digunakan untuk membersihkan pusaka, masyarakat langsung menyerbunya dengan wadah masing-masing—mulai dari botol bekas air mineral hingga jeriken kecil.

Gong Kyai Pradah sendiri bukan sekadar benda tua biasa. Ia merupakan pusaka peninggalan era kerajaan Mataram yang kini menjadi bagian penting dari warisan budaya tak benda Kabupaten Blitar. Gong ini dipercaya memiliki daya magis, bahkan pernah digunakan untuk menyerukan perlawanan dalam sejarah kerajaan Jawa. Salah satu kisah yang melegenda adalah saat gong ini dipukul, bukan manusia yang datang, tapi harimau. Sejak itu, gong ini juga dikenal dengan nama Kyai Macan.

Baca Juga: Antisipasi Perundungan di Sekolah, Diskominfotik Kota Blitar Siap Dilibatkan Integrasikan Kamera CCTV

Ritual Sarat Makna, Keramat dan Khusyuk

Upacara jamasan atau penyucian Gong Kyai Pradah dilakukan dengan penuh tata cara adat. Biasanya diawali dengan kirab pusaka dari Gedung Pusaka Kalipang menuju lokasi jamasan, diiringi oleh tokoh adat, abdi dalem, dan gamelan tradisional. Suasana sakral terasa kuat—aroma kembang setaman menyebar, bunyi gamelan mengalun lirih, dan wajah warga tampak khusyuk berdoa.

Air yang digunakan untuk menyucikan gong berasal dari sumber-sumber pilihan, yang sebelumnya telah dicampur dengan bunga tujuh rupa. Setelah gong dibasuh, air bekas cucian inilah yang menjadi rebutan. Sebagian warga meminumnya langsung, sebagian lagi membawa pulang untuk dicampur mandi, dan tak sedikit pula yang menyimpannya untuk pengobatan tradisional.

Salah satu warga, Pak Tohir, mengaku sudah 11 tahun berturut-turut datang ke jamasan Kyai Pradah. “Anak saya dulu sempat sakit parah, katanya mustahil sembuh. Tapi setelah minum air ini, Alhamdulillah pulih. Sejak itu saya gak pernah absen,” ujarnya.

Baca Juga: Tantangan Bagi Para Pengusaha di Indonesia, Ahok Ungkap Indonesia Tidak Ramah untuk Berbisnis

Tradisi yang Tak Sekadar Ritual

Menurut pengamat budaya lokal yang tergabung dalam komunitas Berbagi Tahu, tradisi jamasan Gong Kyai Pradah bukan hanya soal mistik atau keramat, tetapi juga bagian dari pelestarian nilai-nilai luhur nenek moyang. Ia merekatkan masyarakat dengan sejarah, menjembatani generasi muda agar mengenal akar budaya lokal mereka.

“Kita seringkali lupa bahwa kekuatan suatu daerah itu bukan hanya pada bangunan atau industrinya, tapi juga pada budayanya. Jamasan Kyai Pradah ini adalah salah satu kekayaan itu. Kalau tak dilestarikan, kita kehilangan jati diri,” ujar Dwi Yuliani, peneliti budaya dari Berbagi Tahu.

Tak hanya masyarakat lokal, tradisi ini juga mulai dilirik wisatawan budaya dan spiritual dari luar daerah. Bahkan, beberapa travel spiritual dari Yogyakarta dan Bali telah memasukkan jamasan Gong Kyai Pradah sebagai bagian dari destinasi wisata ritual tahunan mereka.

Baca Juga: Sejumlah Warga Blitar Ini Hibahkan Tanah Untuk Negara, Kok Bisa Ada Apa?

Melestarikan di Tengah Modernitas

Di era digital seperti sekarang, tradisi ini tak luput dari dokumentasi dan viral di media sosial. Setiap tahun, unggahan video warga yang berebut air jamasan, serta prosesi kirab Gong Kyai Pradah selalu ramai di TikTok dan Instagram. Hashtag seperti #JamasanKyaiPradah dan #AirSuciLodoyo kerap muncul di trending lokal Jawa Timur.

Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan pun terus mendukung pelestarian ritual ini. Selain memasukkannya dalam kalender event tahunan Kabupaten Blitar, pihak pemda juga sedang mengupayakan agar jamasan Gong Kyai Pradah diakui secara nasional sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Warisan Leluhur yang Masih Hidup

Meski zaman telah berubah, Gong Kyai Pradah tetap menjadi simbol spiritualitas, harapan, dan kekuatan kolektif masyarakat Blitar. Ia bukan hanya benda pusaka, tetapi juga pengingat akan sejarah panjang, kisah Pangeran Prabu yang terus dikenang, dan kekuatan kultural masyarakat Jawa yang masih bertahan.

Baca Juga: ⁠Jawa Pos Radar Blitar Apresiasi Suksesnya Hari Jadi ke-701 Blitar, Ini Harapannya

Di tengah dunia yang makin rasional, tradisi seperti ini justru menunjukkan bahwa keyakinan dan budaya tetap punya tempat di hati masyarakat. Dan Gong Kyai Pradah, dengan segala mitos dan kekuatannya, tetap berdentang dalam sanubari masyarakat Lodoyo.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #gong kyai pradah