BLITAR – Gong besar berwarna kehitaman itu tampak diam di Gedung Pusaka Kalipang, Lodoyo. Tapi jangan salah, Gong Kyai Pradah bukanlah benda mati biasa. Masyarakat Blitar, khususnya di Kecamatan Sutojayan, meyakini gong sakti ini memiliki kekuatan magis. Bahkan, konon jika dipukul tujuh kali, bukan manusia yang datang... melainkan harimau!
Legenda ini bukan dongeng modern karangan penggemar horor. Kisahnya telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman Pangeran Prabu—tokoh sejarah dari Surakarta yang dibuang ke hutan Lodoyo. Dalam babad lokal disebutkan, suatu ketika pengikut setia Pangeran Prabu, yakni Ki Ahmad Tariman, kehilangan jejak tuannya saat bertapa. Dalam keputusasaan, ia memukul Gong Kyai Pradah tujuh kali. Yang datang bukan manusia, tapi beberapa ekor harimau besar.
Anehnya, harimau-harimau tersebut tidak menyerang. Mereka justru berputar-putar di sekitar Ki Ahmad Tariman dan berjalan menuju arah tertentu, seolah-olah memberi petunjuk. Benar saja, saat Ki Ahmad mengikuti arah itu, ia akhirnya menemukan Pangeran Prabu dalam keadaan selamat. Sejak peristiwa itu, Gong Kyai Pradah juga dikenal dengan nama Kyai Macan—macan berarti harimau dalam bahasa Jawa.
Baca Juga: Antisipasi Perundungan di Sekolah, Diskominfotik Kota Blitar Siap Dilibatkan Integrasikan Kamera CCTV
Antara Fakta Sejarah dan Kepercayaan Masyarakat
Gong Kyai Pradah diyakini merupakan peninggalan dari zaman Panembahan Senopati, pendiri Mataram. Dahulu, gong ini dipakai sebagai alat penyeru perang—bukan hanya karena suaranya menggelegar, tapi juga karena dianggap mampu membangkitkan semangat dan menghadirkan kekuatan supranatural dalam pertempuran.
Saat Panembahan Senopati hendak mengusir prajurit dari Kerajaan Pajang, gong ini dipukul di tengah kobaran api jerami dan letusan Gunung Merapi. Suasana mencekam yang ditimbulkan oleh suara gong konon berhasil membuat pasukan musuh gentar dan mundur. Gong ini kemudian diwariskan dan sampai ke tangan Pangeran Prabu ketika ia dibuang ke hutan Lodoyo oleh adiknya, Sri Susuhunan Pakubuwono I.
Di Lodoyo, Gong Kyai Pradah kemudian dijaga turun-temurun oleh warga lokal yang dipercaya oleh para sesepuh. Meski zaman berganti dan nalar makin rasional, kisah mistis seputar gong ini tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Blitar.
Baca Juga: Tantangan Bagi Para Pengusaha di Indonesia, Ahok Ungkap Indonesia Tidak Ramah untuk Berbisnis
Masih Digunakan dalam Ritual Jamasan
Hingga kini, Gong Kyai Pradah masih digunakan dalam ritual jamasan—yakni prosesi penyucian benda pusaka yang digelar tiap tanggal 1 Syawal dan 12 Rabiul Awal. Selain sarat dengan makna spiritual, tradisi ini juga menjadi ajang berkumpulnya ribuan warga yang percaya bahwa air bekas jamasan memiliki khasiat menyembuhkan.
Namun yang tak banyak tahu, saat prosesi jamasan berlangsung, para tokoh adat juga melakukan ritual khusus untuk “menenangkan” energi gong. Suara gong tidak lagi dibunyikan sembarangan. Sebab, dalam kepercayaan masyarakat setempat, bunyi gong yang tidak sesuai pakem bisa mengundang “penjaga gaib” pusaka tersebut.
Pak Darto, salah satu sesepuh dari Kalipang, mengatakan bahwa gong ini seolah punya ‘ruh’. “Ndak sembarang dipukul. Kalau salah niat, bisa bikin orang kesurupan atau mimpi didatangi macan. Jadi harus ada yang ‘mbuka jalur’ dulu,” katanya saat ditemui usai prosesi jamasan tahun lalu.
Baca Juga: Sejumlah Warga Blitar Ini Hibahkan Tanah Untuk Negara, Kok Bisa Ada Apa?
Viral di Medsos, Tapi Tetap Dijaga Sakralitasnya
Kisah mistis Gong Kyai Pradah tak hanya tersebar lewat tutur lisan, tapi juga mulai ramai dibicarakan di media sosial. Potongan video ritual jamasan dan cerita soal harimau muncul di TikTok dan YouTube. Banyak anak muda yang penasaran dan datang ke Kalipang untuk melihat langsung gong yang bisa “memanggil macan”.
Namun, tokoh-tokoh adat dan pemelihara pusaka tetap mewanti-wanti agar jangan menjadikan Gong Kyai Pradah sekadar objek konten. “Ini bukan buat konten horor-hororan. Ada sejarahnya, ada leluhurnya. Kalau tidak menghormati, bisa ‘kesambet’,” ujar Bu Yuli, cucu dari salah satu juru kunci terdahulu.
Warisan Budaya dan Misteri yang Terjaga
Dalam catatan Komunitas Berbagi Tahu, Gong Kyai Pradah telah menjadi bagian dari living heritage masyarakat Blitar. Tidak hanya sebagai artefak sejarah, tetapi juga sebagai pusat nilai-nilai kepercayaan, spiritualitas, dan simbol perjuangan.
Baca Juga: “Apa Kabar Indonesia”, Bertegur Sapa Tentang Kondisi Indonesia Bersama Ahok
Meski zaman telah maju, masyarakat Kalipang tetap memelihara pusaka ini dengan penuh hormat. Tak ada teknologi yang bisa menandingi warisan rasa, tradisi, dan kisah-kisah mistis yang melekat kuat dalam pusaka ini.
Dan meski harimau mungkin tak akan benar-benar muncul lagi saat gong dipukul, legenda Kyai Macan tetap hidup dan terus menjadi kisah yang dituturkan ulang—dari kakek ke cucu, dari ritual ke ritual, dari masa lalu hingga masa depan.
Editor : Anggi Septian A.P.