Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Istana Gebang: Rumah Masa Kecil Bung Karno yang Luasnya Hampir 2 Hektare

Anggi Septiani • Rabu, 6 Agustus 2025 | 23:00 WIB

Istana Gebang: Rumah Masa Kecil Bung Karno yang Luasnya Hampir 2 Hektare
Istana Gebang: Rumah Masa Kecil Bung Karno yang Luasnya Hampir 2 Hektare

Blitar- menyimpan banyak jejak sejarah Indonesia, salah satunya adalah Istana Gebang — rumah masa kecil Bung Karno yang kini menjadi destinasi wisata sejarah dan edukatif.

Terletak strategis di Jalan Sultan Agung, Kota Blitar, Istana Gebang tidak hanya menjadi saksi bisu kehidupan awal Presiden pertama Indonesia, tetapi juga menjadi simbol warisan budaya yang masih lestari hingga kini.

Dengan luas hampir 2 hektare atau tepatnya sekitar 1,7 hektare, Istana Gebang berdiri megah di tengah kawasan yang dulunya merupakan perumahan pegawai perkeretaapian Hindia Belanda.

Baca Juga: Vietnam Lebih Unggul Daripada Indonesia? Ahok Beberkan Fakta Tentang Investasi Asing di Vietnam

Tidak jauh dari Stasiun Blitar, pengunjung dapat mengakses lokasi ini dengan mudah, menjadikannya salah satu tempat wisata sejarah yang sangat ramah bagi pelancong.

Keistimewaan Istana Gebang tidak hanya pada nilai sejarahnya, tetapi juga pada kelengkapan bangunan dan barang peninggalan asli yang masih terawat hingga sekarang.

Rumah besar bergaya kolonial ini menjadi saksi perkembangan kehidupan Soekarno muda ketika tinggal bersama orang tuanya. Hampir seluruh bagian rumah tetap mempertahankan bentuk aslinya sejak dibangun tahun 1884.

Rumah Warisan yang Menjadi Museum Hidup

Sejak resmi dikelola sebagai situs sejarah dan museum pada 7 Januari 2012, Istana Gebang menjadi salah satu destinasi edukasi unggulan di Kota Blitar.

Setiap sudut bangunan ini menyimpan cerita, mulai dari kamar remaja Bung Karno, ruang tamu keluarga, ruang makan, hingga dapur dan sumur tua yang masih aktif digunakan.

Bangunan utama yang disebut sebagai rumah induk ini dahulu merupakan tempat tinggal seorang kepala PT KAI berkebangsaan Belanda bernama Christian Portier.

Baca Juga: Antisipasi Perundungan di Sekolah, Diskominfotik Kota Blitar Siap Dilibatkan Integrasikan Kamera CCTV

Setelah itu, rumah ini ditempati oleh keluarga Raden Sukemi Sosrodihardjo — ayah Bung Karno — yang bekerja sebagai penilik sekolah (mantri guru) dan pindah ke Blitar bersama istrinya, Ida Ayu Nyoman Rai, seorang perempuan Bali asli dari Singaraja.

Lokasi Strategis dan Lingkungan Asri

Salah satu keunggulan Istana Gebang adalah letaknya yang hanya beberapa menit dari Stasiun Blitar.

Lokasi yang sangat mudah dijangkau ini membuatnya cocok menjadi destinasi pertama bagi para wisatawan yang baru tiba di kota. Suasana sejuk dan rindang menyambut siapa pun yang datang.

Lahan seluas 1,7 hektare yang mengelilingi bangunan utama menghadirkan suasana teduh dan tenang, cocok untuk wisata sejarah yang reflektif.

Baca Juga: PAD Pariwisata Kota Blitar Masih Tercapai Separo dari Target Rp 2,2 Miliar, Ini Kata Disbudpar

Tak hanya bangunan utama, kawasan Istana Gebang juga dilengkapi paviliun, ruang gamelan, garasi mobil antik, hingga panggung seni. Fasilitas-fasilitas tersebut masih digunakan untuk kegiatan edukatif dan kebudayaan, terutama saat memperingati Hari Lahir Bung Karno setiap Juni.

Menelusuri Jejak Soekarno Kecil

Bagi pengunjung, pengalaman menyusuri Istana Gebang seperti melangkah ke masa lalu. Kamar remaja Bung Karno masih dipertahankan lengkap dengan perabotan yang disesuaikan bentuk aslinya.

Kamar ini terhubung dengan kamar lain melalui connecting door — sebuah ciri khas arsitektur rumah besar zaman dahulu.

Ada pula ruang tengah yang menjadi pusat aktivitas keluarga, tempat Bung Karno muda menghabiskan waktu bersama ayah, ibu, dan kakaknya, Sukarmini (atau dikenal juga dengan Bu Wardoyo).

Baca Juga: Ritual Ngalap Berkah, Nilai Spiritual Budaya Lokal yang Masih Lestari di Tulungagung

Di kamar utama yang disebut “kamar presiden”, terdapat tempat tidur yang dahulu digunakan Bung Karno saat ia sudah menjadi Presiden dan pulang ke Blitar. Di kamar itu pula, Bung Karno rutin melakukan sungkem kepada ibunya setiap kali datang berkunjung.

Sumur Tua dan Gamelan Penyambutan

Salah satu bagian yang paling menarik di Istana Gebang adalah keberadaan sumur tua yang konon tidak pernah kering sejak dibangun pada tahun 1884. Air sumur ini masih digunakan hingga kini oleh para pengunjung untuk sekadar mencuci muka, bahkan ada yang percaya bahwa air tersebut membawa keberkahan.

Tidak jauh dari sumur, terdapat seperangkat gamelan tua yang dahulu digunakan untuk menyambut kedatangan Bung Karno setiap kali pulang ke Blitar.

Gamelan ini biasanya dimainkan di Gedung Kesenian yang ada di sebelah barat rumah. Alat musik tersebut kini disimpan di area Istana Gebang sebagai bagian dari warisan budaya.

Mobil Antik dan Penutup Perjalanan

Sebagai bagian akhir dari tur, pengunjung akan dibawa melihat mobil antik Mercedes Benz 190 buatan Jerman yang digunakan untuk menjemput Bung Karno saat pulang ke Blitar pada tahun 1961. Mobil tersebut masih tersimpan dalam kondisi terawat di garasi rumah dan menjadi salah satu spot foto favorit.

Melalui perjalanan singkat menyusuri Istana Gebang, pengunjung tidak hanya mendapatkan wawasan sejarah tentang kehidupan pribadi Bung Karno, tetapi juga bisa merasakan suasana rumah masa kecil seorang pemimpin besar yang begitu memengaruhi arah bangsa.

Dengan segala keasliannya yang dipertahankan, Istana Gebang bukan sekadar bangunan tua — ia adalah saksi, guru, dan warisan. Setiap lantai, dinding, dan perabotnya menyimpan cerita yang mampu menghidupkan kembali semangat nasionalisme di hati generasi muda

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #Istana Gebang