BLITAR — Di balik nama besar Arya Blitar, ternyata berdiri sosok perempuan luar biasa yang hingga kini masih belum banyak dikenal publik: Nyi Mas Blitar. Ia bukan hanya ibu dari Sudomo, tokoh penting dalam Perang Jawa II yang hampir menjadi raja di Tanah Mataram, tetapi juga perempuan yang namanya diabadikan menjadi nama kota Blitar itu sendiri.
Dalam penelusuran sejarah yang dikutip dari laporan Radar Blitar TV, Arya Blitar adalah gelar yang disandang oleh Sudomo, bangsawan keturunan Amangkurat IV. Namun yang menarik, gelar “Blitar” yang menempel pada namanya tidak datang dari wilayah kekuasaannya semata, tetapi lebih kepada penghormatan terhadap ibundanya, Nyi Ageng Mas Blitar, seorang perempuan bangsawan dengan pengaruh kuat di lingkar kekuasaan Jawa masa itu.
Jejak Nyi Mas Blitar menunjukkan bahwa sejak lama, perempuan tidak hanya menjadi "pendamping" di belakang kekuasaan, melainkan justru menjadi sosok utama yang membentuk dan memengaruhi arah sejarah. Sosoknya menjadi simbol penting tentang bagaimana perempuan dalam sejarah Jawa tidak kalah penting dibandingkan laki-laki yang dikenang sebagai pemimpin besar.
Baca Juga: Pemkab Blitar-Pengusaha Sound Horeg Sepakati Pembatasan Sound saat Karnaval, Namun Ada Tapinya
Perempuan, Wahyu, dan Kekuasaan
Nyi Mas Blitar digambarkan sebagai sosok perempuan yang memiliki wahyu kekuasaan. Dalam tradisi Jawa, kehadiran perempuan yang membawa wahyu ini sering dianggap sebagai faktor spiritual dan simbolik di balik kesuksesan seorang pemimpin laki-laki. Dalam kasus ini, Sudomo atau Arya Blitar — yang nyaris menjadi raja Mataram — disebut mendapatkan kekuatan spiritual dari ibunya.
Tradisi dan kepercayaan ini mirip dengan pandangan Jawa bahwa keberhasilan seorang pemimpin laki-laki selalu ada kaitannya dengan restu dan kekuatan dari perempuan di belakangnya. Tak heran jika nama "Blitar" yang menempel pada Sudomo merupakan bentuk penghormatan pada ibunya, bukan semata soal wilayah administratif.
Konsep ini menunjukkan bahwa peran perempuan dalam sejarah Jawa seringkali simbolik namun sangat strategis. Di tengah catatan sejarah yang didominasi laki-laki, Nyi Mas Blitar menjadi representasi nyata dari bagaimana perempuan mampu membentuk arah sejarah — bahkan jika namanya hanya muncul sebagai embel-embel dalam gelar seorang tokoh.
Nama Blitar dan Identitas Lokal
Nama "Blitar" sendiri, yang kini menjadi nama kota dan identitas kebudayaan di Jawa Timur, menjadi menarik untuk ditelusuri lebih dalam. Apakah benar berasal dari sosok Nyi Mas Blitar? Menurut beberapa literasi dan wawancara dari Radar Blitar TV, hal ini sangat mungkin. Apalagi dalam struktur sosial Jawa, penggunaan nama keluarga atau asal perempuan dalam pemberian gelar tidaklah asing.
Dengan demikian, Blitar bukan sekadar nama daerah, melainkan juga simbol penghormatan terhadap perempuan bangsawan yang memiliki peran strategis dalam sejarah kekuasaan.
Jika benar bahwa nama kota ini berasal dari nama ibu Arya Blitar, maka itu menjadi salah satu bentuk penghormatan historis terhadap perempuan yang sangat jarang terjadi di masa lampau.
Baca Juga: Tantangan Bagi Para Pengusaha di Indonesia, Ahok Ungkap Indonesia Tidak Ramah untuk Berbisnis
Warisan Nyi Mas Blitar di Era Modern
Mengingat pentingnya sosok Nyi Mas Blitar, sudah semestinya ia diangkat dalam ruang-ruang edukasi sejarah maupun kebudayaan lokal. Apalagi dalam konteks pendidikan hari ini, di mana peran perempuan mulai diakui setara, kisah Nyi Mas Blitar bisa menjadi inspirasi kuat tentang feminisme lokal ala Jawa: bukan sekadar tentang kesetaraan, tapi juga soal pengaruh dan keberanian spiritual.
Petilasan Arya Blitar yang hingga kini ramai diziarahi pejabat dan tokoh masyarakat, seharusnya juga diiringi dengan pengakuan terhadap Nyi Mas Blitar sebagai sumber kekuatan yang melahirkan sosok besar tersebut. Sayangnya, makam atau situs bersejarah yang secara khusus mengangkat sosok beliau masih belum menjadi prioritas dalam pelestarian sejarah Blitar.
Dalam budaya populer, cerita tentang Ratu Kalinyamat, Ken Dedes, atau Nyi Roro Kidul sering kali mendominasi narasi tentang perempuan kuat di Jawa. Tapi Nyi Mas Blitar? Masih sedikit yang tahu. Inilah tugas bersama: menggali, merawat, dan menghidupkan kembali jejak perempuan hebat yang membentuk sejarah lokal Blitar.
Baca Juga: PAD Pariwisata Kota Blitar Masih Tercapai Separo dari Target Rp 2,2 Miliar, Ini Kata Disbudpar
Membangun Kesadaran Sejarah Gender Lokal
Dengan munculnya kembali diskusi tentang Arya Blitar di berbagai kanal sejarah dan budaya, sudah waktunya peran ibunya ikut diangkat ke permukaan. Tidak hanya sebagai ibu dari tokoh besar, tapi sebagai figur penting yang menginspirasi pergerakan dan simbol perlawanan dalam konteks spiritual dan struktural.
Cerita Nyi Mas Blitar bukan sekadar romantisme masa lalu. Ini adalah pengingat bahwa kekuasaan dan pengaruh tidak melulu soal siapa yang duduk di tahta, tetapi juga siapa yang membentuk mentalitas dan keberanian sang pemimpin. Jika Blitar hari ini ingin membangun narasi sejarah yang lebih utuh dan inklusif, maka Nyi Mas Blitar harus mendapatkan tempat dalam catatan besar itu.