BLITAR — Sosok Arya Blitar atau yang dalam beberapa sumber disebut juga sebagai Sudomo, kembali ramai diperbincangkan publik setelah berbagai literasi sejarah dan diskusi komunitas budaya mengangkat namanya. Namun di balik ketenaran tokoh ini, tersimpan kekhawatiran mendalam: jangan sampai sejarah Blitar terjebak dalam kabut dongeng dan anakronisme.
Diskusi yang diangkat oleh Radar Blitar TV bersama para narasumber sejarah dan penelusur naskah lokal menunjukkan bahwa nama Arya Blitar sering kali “bercampur” dengan tokoh-tokoh fiksi dan mitos seperti Panji Nila Suwarno dan Joko Kandung. Padahal, mereka hidup dalam kurun waktu yang sangat berbeda dan berasal dari sumber historis yang berlainan pula.
Karena itu, membedakan antara fakta sejarah dan folklor menjadi sangat penting. Dalam konteks ini, tokoh Arya Blitar perlu diposisikan secara proporsional sebagai bagian dari sejarah Blitar yang nyata, tanpa harus dibebani dengan romantisme naratif yang justru merusak akurasi sejarah itu sendiri.
Baca Juga: Vietnam Lebih Unggul Daripada Indonesia? Ahok Beberkan Fakta Tentang Investasi Asing di Vietnam
Apa Itu Anakronisme, dan Mengapa Bahaya?
Anakronisme adalah kesalahan dalam menempatkan suatu tokoh, peristiwa, atau konsep dalam konteks waktu yang tidak sesuai. Dalam sejarah lokal, ini sering terjadi ketika cerita rakyat atau mitos dicampur-aduk dengan kejadian nyata, lalu dipercayai sebagai satu kesatuan utuh. Inilah yang terjadi dalam narasi seputar Arya Blitar.
Misalnya, beberapa sumber menyebut Arya Blitar sebagai bagian dari kisah Panji Nila Suwarno, padahal Panji adalah tokoh sastra dari masa Majapahit yang hidup berabad-abad sebelumnya. Begitu pula dengan Joko Kandung atau Rayung Wulan, yang berasal dari tradisi tutur dan dongeng rakyat.
Meskipun tidak bisa sepenuhnya diabaikan, menyamakan tokoh-tokoh ini dalam satu narasi historis bisa menyesatkan publik. Bahkan, menurut sejumlah peneliti, inilah akar dari mengapa Blitar seringkali lebih dikenal karena mitos ketimbang sejarah faktualnya.
Baca Juga: Gibran Pernah Singgung One Piece, Kini Bendera Bajak Laut Jadi Simbol Kritik Sosial
Folklor vs Sejarah: Sama-Sama Penting, Tapi Harus Dipilah
Folklor atau cerita rakyat tentu memiliki nilai tersendiri: ia menjaga memori kolektif, identitas budaya, serta memberi inspirasi spiritual bagi masyarakat. Namun, ketika folklor mulai “menginvasi” wilayah sejarah faktual, maka kita berisiko menciptakan sejarah yang salah kaprah.
Sosok Arya Blitar atau Sudomo sendiri adalah tokoh sejarah nyata yang memiliki jejak keterlibatan dalam Perang Jawa II. Ia bahkan disebut sebagai hampir menjadi raja jika tidak wafat di Malang. Namun, karena kurangnya dokumentasi kolonial tentang tokoh ini, banyak narasi rakyat masuk ke ruang kosong tersebut — dan di sinilah anakronisme sering lahir.
Penting untuk membedakan: folklor adalah simbolik, sementara sejarah faktual adalah dokumentatif. Keduanya tidak bertentangan, tetapi harus ditempatkan di ruang yang tepat.
Baca Juga: Tantangan Bagi Para Pengusaha di Indonesia, Ahok Ungkap Indonesia Tidak Ramah untuk Berbisnis
Peran Masyarakat dan Pemerintah dalam Verifikasi Sejarah
Anakronisme tidak hanya datang dari bawah (masyarakat), tetapi kadang diperparah oleh narasi resmi yang tidak hati-hati. Misalnya, pembangunan petilasan atau penggunaan nama-nama tokoh mitologis sebagai nama jalan, sekolah, atau situs budaya, jika tidak melalui verifikasi, justru memperkuat kesalahan pemahaman sejarah.
Salah satu contohnya adalah situs petilasan Arya Blitar di Kelurahan Blitar, yang kerap dikunjungi calon pejabat atau tokoh publik untuk ritual ziarah. Meskipun secara kultural ini bisa diterima, perlu dipastikan bahwa sejarah yang dibangun atasnya tetap berdasarkan kajian ilmiah, bukan sekadar cerita lisan yang belum diverifikasi.
Peran pemerintah daerah, komunitas sejarah, dan media lokal sangat penting untuk memastikan bahwa sejarah Blitar tidak tenggelam dalam “dongeng yang dipercayai sebagai fakta.”
Baca Juga: PAD Pariwisata Kota Blitar Masih Tercapai Separo dari Target Rp 2,2 Miliar, Ini Kata Disbudpar
Menghormati Sejarah dengan Cara yang Benar
Salah satu bentuk penghormatan terhadap Arya Blitar adalah dengan menempatkannya dalam konteks yang valid. Ia adalah simbol patriotisme lokal, tokoh bangsawan yang berani menentang penguasa kolonial dan bangsawan pengkhianat. Ia juga bagian dari garis keturunan Amangkurat IV, dan wilayah kekuasaannya mencakup Blitar dan Madiun.
Namun, jika masyarakat terus mencampur tokoh ini dengan cerita Panji, legenda seribu candi, atau kisah romantik rakyat, maka generasi ke depan akan kehilangan pemahaman yang tepat tentang siapa sebenarnya Arya Blitar itu.
Menjaga integritas sejarah bukan berarti menghapus dongeng, tapi menempatkan dongeng di ruangnya — sebagai inspirasi kultural, bukan rujukan historis.
Baca Juga: Jawa Pos Radar Blitar Apresiasi Suksesnya Hari Jadi ke-701 Blitar, Ini Harapannya
Kesimpulan: Edukasi Sejarah yang Kritis dan Kontekstual
Kisah Pangeran Arya Blitar adalah pintu masuk penting untuk mengenalkan sejarah lokal yang lebih kritis. Jika kita ingin Blitar dikenal bukan hanya sebagai tempat lahir Bung Karno, tapi juga sebagai wilayah perlawanan dan kebudayaan, maka narasi sejarahnya harus dijaga dari campur tangan anakronisme.
Masyarakat perlu didorong untuk mengkaji sejarah, bukan hanya mendengar dongeng. Di sinilah peran edukasi publik, media lokal, dan penulisan sejarah menjadi sangat vital.