Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Blitar ke Madiun: Ternyata Pusat Kekuasaan Pangeran Arya Blitar Ada di Sini!

Findika Pratama • Kamis, 7 Agustus 2025 | 13:00 WIB

Dari Blitar ke Madiun: Ternyata Pusat Kekuasaan Pangeran Arya Blitar Ada di Sini!
Dari Blitar ke Madiun: Ternyata Pusat Kekuasaan Pangeran Arya Blitar Ada di Sini!

BLITAR — Sosok Arya Blitar kembali menjadi perbincangan publik, terutama di kalangan pegiat sejarah dan komunitas budaya Jawa Timur. Meski namanya sangat lekat dengan Blitar, hasil penelusuran Radar Blitar TV menunjukkan bahwa pusat kekuasaan tokoh ini justru berada di wilayah Madiun, bukan di Blitar seperti yang selama ini banyak diyakini masyarakat.

Nama Arya Blitar kerap dikaitkan dengan perjuangan rakyat Blitar dan dianggap sebagai tokoh lokal Blitar yang patriotik. Namun, bila ditelusuri lebih dalam dari arsip sejarah dan catatan kolonial, wilayah asal dan pengaruh terkuat dari sosok yang juga dikenal sebagai Sudomo ini berada di Kadipaten Madiun, salah satu pusat kekuatan penting dalam sejarah politik Jawa abad ke-19.

Fakta ini tidak serta-merta menghapus keterkaitan Arya Blitar dengan Blitar, karena sejarah mencatat bahwa wilayah Blitar saat itu berada di bawah pengaruh Madiun. Justru dari sinilah asal-usul penyematan nama "Blitar" pada tokoh ini menjadi lebih menarik untuk ditelusuri: bukan karena tempat kelahirannya, tapi karena daerah yang ia kuasai dan pengaruhi.

Baca Juga: “Apa Kabar Indonesia”, Bertegur Sapa Tentang Kondisi Indonesia Bersama Ahok

Nama "Blitar" yang Dilekatkan, Bukan Asal

Sama seperti tokoh-tokoh masa lampau lain, penamaan Arya Blitar atau Pangeran Blitar merujuk pada wilayah kekuasaan atau pengaruh, bukan tempat kelahiran semata. Menurut sejarawan lokal yang diwawancarai Radar Blitar TV, gelar "Blitar" dilekatkan karena Sudomo—yang memiliki nama bangsawan sebagai Pangeran Arya Balitar—memiliki otoritas yang besar di wilayah tersebut pada masa transisi antara Mataram dan pemerintah kolonial Belanda.

Sumber naskah lokal dan catatan VOC menyebutkan bahwa kekuasaan Sudomo membentang dari sebagian wilayah Ponorogo, Madiun, hingga Blitar. Namun pusat administrasi dan kekuatan militernya berada di Madiun, terutama pada masa menjelang Perang Jawa II (1825–1830).

Meski demikian, nama "Blitar" tetap melekat dalam narasi publik, dan bahkan menjadi sumber inspirasi identitas lokal, seperti nama jalan, situs petilasan, hingga tokoh pewayangan rakyat yang dianggap berakar dari sosok Arya Blitar ini.

Baca Juga: 4.200 Orang Hadiri Pisowanan Agung Hari Jadi ke-701 Blitar, Bupati: Inilah Bentuk Kekompakan Warga

Konflik Simbolik Blitar–Madiun?

Fakta bahwa pusat kekuasaan Arya Blitar ada di Madiun bisa memicu diskusi menarik di masyarakat. Apakah ini berarti Blitar hanya sebagai wilayah pengaruh? Apakah tokoh Arya Blitar bisa juga diklaim sebagai bagian dari sejarah Madiun?

Sejumlah warganet bahkan mulai ramai memperbincangkan hal ini di media sosial. Sebagian menganggap ini sebagai “pengaburan sejarah Blitar,” sementara yang lain menyambut baik narasi ini sebagai upaya memperluas pemahaman sejarah Jawa Timur yang selama ini terlalu tersentral di satu wilayah.

“Ini bukan soal rebutan tokoh, tapi justru membuka kesadaran baru bahwa sejarah kita saling terkait. Blitar, Madiun, Kediri—semuanya bagian dari satu jalinan panjang sejarah perlawanan,” ujar Budiyono, penggerak komunitas Sejarah Jawa Timur, dalam program diskusi di Radar Blitar TV.

Baca Juga: ⁠Jawa Pos Radar Blitar Apresiasi Suksesnya Hari Jadi ke-701 Blitar, Ini Harapannya

Relevansi Arya Blitar di Masa Kini

Terlepas dari asal kekuasaan dan wilayah pengaruh, Arya Blitar tetap relevan sebagai simbol patriotisme lokal. Ia digambarkan sebagai bangsawan pemberani yang nyaris menjadi raja lokal setelah konflik berkepanjangan dengan penjajah Belanda. Sayangnya, ia wafat secara misterius di Malang sebelum sempat dinobatkan secara resmi.

Narasi ini menjadi sangat kuat sebagai cermin kepemimpinan lokal yang tumbuh dari akar budaya dan politik lokal Jawa, bukan dari kekuasaan pusat.

Oleh karena itu, nama “Arya Blitar” telah melampaui sekadar identitas geografis, melainkan menjadi simbol perlawanan, kedaulatan, dan legitimasi rakyat di wilayah timur Mataram.

Baca Juga: PAD Pariwisata Kota Blitar Masih Tercapai Separo dari Target Rp 2,2 Miliar, Ini Kata Disbudpar

Potensi Edukasi dan Wisata Sejarah

Dengan berkembangnya diskursus ini, sejumlah komunitas sejarah di Madiun mulai mendorong adanya jalur wisata sejarah Sudomo atau Arya Blitar, yang meliputi jejak kekuasaan dari Madiun, Ponorogo, hingga Blitar. Jika dikemas secara naratif, ini bisa menjadi daya tarik baru di sektor budaya dan pariwisata edukatif.

Pemerintah daerah, baik di Blitar maupun Madiun, diharapkan dapat bekerja sama dalam mengangkat kembali sejarah bersama ini. Jangan sampai, seperti dalam banyak kasus sejarah lokal lainnya, justru narasi yang muncul berasal dari cerita fiksi yang membingungkan publik.

“Kita perlu duduk bersama, membuka arsip, dan membuat sejarah jadi terang. Arya Blitar bukan milik satu kota, dia milik kita semua,” tambah Budiyono.

Baca Juga: Sejumlah Warga Blitar Ini Hibahkan Tanah Untuk Negara, Kok Bisa Ada Apa?

Kesimpulan: Sejarah yang Saling Terhubung

Polemik seputar pusat kekuasaan Arya Blitar bukan untuk memecah belah, melainkan untuk menyatukan pemahaman sejarah yang lebih utuh. Dari Madiun hingga Blitar, jejaknya adalah bukti bahwa sejarah Jawa Timur tak bisa dilihat dalam kotak administratif modern.

Pangeran Balitar adalah bagian dari narasi besar: tentang perjuangan, kepemimpinan, dan perlawanan. Blitar mungkin bukan tempat asalnya, tapi tetap menjadi bagian dari pengaruhnya—dan karena itulah, namanya hidup dan terus dibicarakan hingga hari ini.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar