BLITAR – Grebong Pancasila telah menjadi tradisi agung Kota Blitar, simbol kebudayaan yang menautkan identitas lokal dengan nasionalisme. Transformasi dari ide sederhana—tersirat dalam nama Grebong, yang awalnya hanya sarana komunitas seni dengan sepeda butut—berbuah pengakuan resmi oleh Presiden Jokowi sebagai Hari Lahir Pancasila pada tahun 2015. Momentum ini bermula dari kegelisahan masyarakat terhadap narasi kelam Orde Baru yang meredam semangat Bung Karno.
Seperti diungkap dalam podcast eksklusif Radar Blitar TV, dua tokoh utama—Bagus Putu Parto dan Samanhudi Anwar—memulai gerakan ini sejak awal 2000-an. Dari semangat kebudayaan yang rentan dibatasi rezim, mereka mulai menggagas ritual mobilisasi masyarakat melalui karya seni dan pentas budaya. Ide ini kemudian menjadi embrio Grebeg Pancasila.
Pada akhirnya, keberanian kreatif itu membuahkan hasil. Saat Samanhudi menjabat sebagai ketua DPRD/MPR, agenda Grebeg Pancasila diusulkan ke pemerintah pusat. Tahun 2015, Presiden Joko Widodo mengakui secara resmi tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila—sebuah pencapaian monumental yang membawa kebanggaan nasional bagi Blitar.
Baca Juga: Ketika Anime Menjadi Simbol Perlawanan: Pemerintah Diminta Rangkul, Bukan Represif
Awal Gagasan: Seniman dan Budaya sebagai Pelampiasan Diri
Pada tahun 2000, sejumlah seniman, aktivis, dan politisi mulai menggelar ritual budaya ringan sebagai bentuk simbol perlawanan budaya terhadap kekangan politik Orde Baru. Bentuknya sederhana: sepeda butut, wayang, pertunjukan jalanan. Lambat laun grebog ini menjadi ‘Grebong’ Pancasila—simbol gotong royong antara seniman dan rakyat.
Konsep ini terus berkembang hingga ke walikota saat itu, Samanhudi Anwar menjadikan Grebeg Pancasila sebagai program resmi kota. Rangkaian acara tahunan disusun menjadi tiga ritual utama: ritual kesenian malam (bedholan dan tirakatan), kirab Gunungan Lima, dan kenduri Pancasila di makam Bung Karno.
Prosesi Budaya: Bedholan, Kirab, Kenduri
Dalam prosesi resmi, rangkaian dimulai pada 31 Mei malam dengan ritual bedholan—pindahan pusaka budaya Bung Karno dari Istana Gebang ke kantor kota. Dilanjutkan tirakatan sebagai refleksi nasionalisme. Puncaknya, tanggal 1 Juni pagi diadakan upacara budaya di Alun‑Alun Kota Blitar dengan tarian tradisional dan busana djadoel Puspadahana.
Baca Juga: Vietnam Lebih Unggul Daripada Indonesia? Ahok Beberkan Fakta Tentang Investasi Asing di Vietnam
Kirab Gunungan Lima menjadi simbol hidup lima sila Pancasila—sejak dikirab dari alun‑alun hingga ke Makam Bung Karno. Isi gunungan berupa hasil bumi dibagikan sebagai simbol berkah dan solidaritas. Kenduri Pancasila di akhir acara menjadi ruang refleksi kebangsaan lintas generasi.
Dukungan Tokoh dan Hasil Lobi Nasional
Peran tokoh politik seperti Samanhudi Anwar dan Bagus Putu Parto sangat vital. Mereka merangkul seniman, komunitas makar, dan politisi dengue menghasilkan perubahan simbolis menjadi pengakuan resmi. Samanhudi bahkan meminta Presiden Jokowi menghadiri acara dan berkata langsung agar 1 Juni diakui sebagai Hari Lahir Pancasila.
Respons nasional datang. Pada 2015, Jokowi secara formal menetapkan tanggal 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila, menjadikan Grebog Pancasila bukan hanya acara lokal, tetapi inspirasi nasional yang digandeng elemen negara.
Baca Juga: Pemkab Blitar-Pengusaha Sound Horeg Sepakati Pembatasan Sound saat Karnaval, Namun Ada Tapinya
Tradisi Hidup dan Relevansi Hari Ini
Sekarang, Grebeg Pancasila bukan hanya tradisi rutin, melainkan identitas kebudayaan Kota Blitar. Setiap tahun, warga, seniman, ASN, forkopimda berkumpul merayakan nilai-nilai Pancasila. Bahkan pengunjung dari luar kota dan ziarah ke Makam Bung Karno menjadi bagian ritual simbolik ini.
Media sosial dan Radar Blitar TV ramai menayangkan peristiwa rebutan gunungan hasil bumi, pawai lentera, hingga kenduri Pancasila. Banyak warga mengaku menanti prosesi 'ngalap berkah' itu lebih daripada sekadar acara seremonial.
Warisan Budaya & Tantangan Digital
Kini, Grebeg Pancasila menghadapi tantangan zaman digital. Seniman dan pemerintah lokal didorong agar makin kreatif: livestreaming, visualisasi modern, tetap dengan ruh budaya asli. Transformasi ini penting agar acara tetap dikenal di era global tanpa kehilangan nilai lokal.
Hadirnya digital media membuka peluang makin luas menyebarkan semangat Pancasila. Generasi muda pun diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku budaya dan penjaga nilai-nilai ideologi bangsa.
Grebong Pancasila bukan sekadar upacara budaya. Ia adalah perjalanan dari sepeda butut pelaku seni hingga pengakuan nasional, dari kompleks lokal hingga menjadi simbol nasionalisme. Bagaimana Blitar membumikan nilai Pancasila lewat budaya — itulah Magna Carta kebangsaan yang terus hidup di Tengah Kota Pusara Bung Karno.
Editor : Anggi Septian A.P.