BLITAR – Petilasan Arya Blitar di kawasan lereng Gunung Kawi kembali ramai disambangi para tokoh politik. Fenomena ini bukan hal baru. Menjelang momentum politik, seperti Pilkada atau Pileg, situs-situs keramat dan tokoh sejarah seperti Arya Blitar mendadak menjadi destinasi ziarah “spiritual” para calon pejabat.
Beberapa hari terakhir, tim Radar Blitar TV mencatat peningkatan aktivitas kunjungan ke salah satu petilasan yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya energi spiritual Arya Blitar, bangsawan yang pernah nyaris menjadi raja lokal di Tanah Mataram. Dari mobil berpelat merah hingga rombongan berpakaian adat, semua tampak mengikuti ritual sunyi—nyekar, memanjat doa, hingga membakar kemenyan.
Nama Arya Blitar memang bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah simbol kekuasaan yang diwarnai perjuangan, keberanian, serta kedekatan dengan spiritualitas Jawa. Tak heran jika petilasannya kerap disebut sebagai “sumber tuah” bagi mereka yang ingin mendapatkan legitimasi kekuasaan, termasuk para politisi.
Baca Juga: Ketika Anime Menjadi Simbol Perlawanan: Pemerintah Diminta Rangkul, Bukan Represif
Spiritualitas Kekuasaan ala Jawa
Dalam tradisi politik Jawa, kekuasaan bukan sekadar hasil dari strategi atau elektabilitas. Karisma, legitimasi leluhur, dan restu spiritual dianggap berperan penting. Oleh karena itu, banyak calon pemimpin merasa perlu “nyandhak tuah” dari tokoh-tokoh besar masa lalu seperti Arya Blitar.
Menurut pengamat budaya Jawa Timur, Dr. Nur Hidayat, praktik ziarah politik ini tidak bisa dilepaskan dari warisan sistem kekuasaan keraton dan kolonial yang menekankan simbol-simbol magis dalam kepemimpinan. “Ziarah ke petilasan Arya Blitar itu bentuk ‘minta restu’ dari kekuatan tak kasatmata. Ini bukan mistik murahan, tapi ritual legitimasi,” ujarnya kepada Radar Blitar TV.
Menariknya, banyak dari pengunjung yang datang tidak membawa media, bahkan enggan disebut namanya. Mereka berziarah secara diam-diam, biasanya malam hari atau dini hari, yang menambah aura spiritual dari ritual itu sendiri. Beberapa bahkan menginap semalam di sekitar area petilasan.
Baca Juga: Pemkab Blitar-Pengusaha Sound Horeg Sepakati Pembatasan Sound saat Karnaval, Namun Ada Tapinya
Antara Kepercayaan dan Gimik Politik
Namun, tak sedikit pula yang menilai bahwa fenomena ini hanyalah strategi pencitraan. Ziarah ke situs tokoh sejarah seperti Arya Blitar dianggap hanya sebagai bagian dari “gimik politik”, apalagi jika dilakukan dengan sorotan kamera dan unggahan media sosial.
“Kalau betul-betul ziarah, kenapa hanya pas tahun politik? Di luar itu, tempatnya sepi. Ini jelas ada agenda pencitraan,” komentar Yono, warga sekitar petilasan, yang mengaku sering melihat rombongan datang menjelang kontestasi pemilihan.
Kritik ini tidak bisa diabaikan. Masyarakat semakin sadar akan politisasi warisan budaya. Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa Arya Blitar tetap menjadi sosok historis yang kuat daya tariknya, baik secara spiritual maupun politis.
Baca Juga: Tantangan Bagi Para Pengusaha di Indonesia, Ahok Ungkap Indonesia Tidak Ramah untuk Berbisnis
Jejak Sejarah Arya Blitar yang Penuh Tuah
Sejarah mencatat Arya Blitar—dikenal juga sebagai Sudomo—adalah seorang bangsawan dari kawasan Mataram yang menjadi tokoh perlawanan terhadap dominasi Belanda. Ia diyakini memiliki kedekatan dengan kalangan spiritual dan pasukan rakyat, dan sempat diisukan akan diangkat sebagai raja lokal sebelum wafat secara misterius di Malang.
Petilasan yang ada di wilayah Blitar saat ini diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhirnya atau setidaknya titik meditasi dalam masa pelarian. Cerita rakyat menyebutkan bahwa tempat itu menyimpan “tirakat kekuasaan”, tempat Arya Blitar mengumpulkan kekuatan batin untuk perjuangannya.
Bukan hanya politisi, banyak tokoh budaya dan spiritual dari berbagai penjuru Jawa juga mengakui bahwa petilasan ini memiliki “energi tenang” yang khas. Bahkan beberapa komunitas spiritual rutin menggelar ritual malam Jumat Kliwon untuk memohon keselamatan dan keteguhan hati.
Baca Juga: Sejumlah Warga Blitar Ini Hibahkan Tanah Untuk Negara, Kok Bisa Ada Apa?
Tradisi, Mistisisme, dan Daya Tarik Media
Di era digital, ziarah politik seperti ini juga ikut dikapitalisasi oleh media sosial. Banyak video dan foto viral yang memperlihatkan tokoh publik berdoa di petilasan Arya Blitar, mengenakan busana tradisional, bahkan mengunggah caption spiritual dengan emoji api dan doa.
Kesan ‘magis’ yang ditampilkan seolah memperkuat citra mereka sebagai pemimpin yang punya koneksi dengan sejarah dan leluhur. Di sisi lain, ini juga bisa menjadi momen edukasi publik tentang pentingnya merawat situs sejarah dan memperlakukan tokoh leluhur dengan hormat.
Namun semua tergantung niat. Jika petilasan hanya dijadikan panggung pencitraan, maka nilai sejarah dan spiritualitasnya akan terkikis. Sebaliknya, jika dimaknai sebagai refleksi dan penghormatan terhadap tokoh sejarah seperti Arya Blitar, maka ziarah politik bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Baca Juga: 4.200 Orang Hadiri Pisowanan Agung Hari Jadi ke-701 Blitar, Bupati: Inilah Bentuk Kekompakan Warga
Penutup: Antara Simbol dan Substansi
Petilasan Arya Blitar bukan hanya saksi bisu masa lalu, tapi juga cermin bagaimana masa kini memaknai sejarah. Di balik kabut dupa dan doa lirih, ada pertanyaan besar yang muncul: apakah kekuasaan hari ini masih menghargai kebijaksanaan leluhur, atau hanya memanfaatkannya untuk ambisi sesaat?
Masyarakat, sebagai pemilik sah sejarah, punya peran penting untuk mengawasi, mengkritisi, sekaligus menjaga warisan tokoh besar seperti Arya Blitar agar tidak hanya menjadi alat politik, melainkan sumber inspirasi bagi generasi mendatang.