Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bung Karno Lebih Besar dari Blitar: Pusara Kota & Pusara Nasional di Grebeg Pancasila

Axsha Zazhika • Kamis, 7 Agustus 2025 | 03:30 WIB

 

Bung Karno Lebih Besar dari Blitar: Pusara Kota & Pusara Nasional di Grebeg Pancasila
Bung Karno Lebih Besar dari Blitar: Pusara Kota & Pusara Nasional di Grebeg Pancasila

BLITAR – Di setiap peringatan Grebeg Pancasila, Kota Blitar tak hanya mengenang Pancasila, tetapi juga menghidupkan kembali pusara makna Bung Karno. Bagi sebagian warga, makam Sang Proklamator adalah jantung kota; bukan semata tempat ziarah, melainkan altar nasional yang menegaskan filosofi “pusara kota di tengah pusara nasional”.

Tradisi Grebeg Pancasila menjadi simbol hidup dari keyakinan itu. Prosesi budaya yang setiap tahun digelar sejak awal 2000-an ini, bukan sekadar parade budaya, melainkan representasi utuh dari identitas lokal yang berkelindan dengan narasi kebangsaan. Di sinilah Bung Karno tak hanya hadir dalam kenangan, tapi menjadi ide yang menghidupi kota.

Dalam tayangan Radar Blitar TV, sejumlah tokoh budaya menggarisbawahi bahwa Bung Karno dan Blitar adalah dua entitas yang saling melengkapi. “Kita ini hidup di kota yang pusaranya adalah pusara,” ujar seorang budayawan. Makam Bung Karno bukan hanya monumen sejarah, tetapi juga titik orientasi nilai dan identitas masyarakat Blitar hari ini.

Baca Juga: Tantangan Bagi Para Pengusaha di Indonesia, Ahok Ungkap Indonesia Tidak Ramah untuk Berbisnis

Prosesi Grebeg Pancasila tiap 1 Juni selalu bermuara di kompleks Makam Bung Karno. Kirab budaya, kenduri, hingga pembacaan Pancasila dilakukan di lokasi ini sebagai bentuk penghormatan. Ritual ini seolah menegaskan bahwa dari Blitar, Pancasila dilahirkan kembali setiap tahun—bukan sebagai slogan, melainkan pengalaman spiritual dan kultural.

Kirab Gunungan Lima, yang memuat simbol dari lima sila, selalu diakhiri dengan ngalap berkah di pusara Bung Karno. Gunungan yang diperebutkan warga adalah metafora dari keberkahan Pancasila yang membumi, tidak eksklusif di ruang elite, tapi hadir di tanah rakyat. Dari sinilah Blitar tampil bukan hanya sebagai kota kecil, tapi pusat spiritual nasional.

Pemerintah Kota Blitar pun konsisten mengawal tradisi ini, menjadikannya agenda tahunan yang sarat makna. Dalam berbagai pernyataan, Wali Kota Blitar menegaskan bahwa Grebeg Pancasila adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan—melalui nilai-nilai yang diwariskan Bung Karno.

Baca Juga: Gibran Pernah Singgung One Piece, Kini Bendera Bajak Laut Jadi Simbol Kritik Sosial

Makam Bung Karno tak pernah sepi. Tak hanya peziarah spiritual, tapi juga akademisi, seniman, politisi, hingga pelajar datang untuk menyerap atmosfer ideologis. Dalam tradisi lokal, pusara bukan sekadar tempat peristirahatan, melainkan simbol keberlanjutan nilai.

Kehadiran pusara nasional di tengah kota menumbuhkan kepekaan kolektif warga Blitar terhadap nilai sejarah dan nasionalisme. Bagi masyarakat Blitar, hidup berdampingan dengan makam Bung Karno bukanlah hal yang biasa. Ini adalah tanggung jawab moral sekaligus berkah kultural yang tidak semua kota miliki.

Dalam Grebeg Pancasila, semua elemen masyarakat berperan: ASN, pelajar, seniman, kelompok lintas agama. Mereka bersama-sama menjaga ruh Bung Karno tetap hidup dalam prosesi budaya. “Kalau Bung Karno bilang, jasad saya boleh di Blitar, tapi pikiran saya tetap di Indonesia,” ucap seorang warga dalam dokumenter Radar Blitar TV.

Baca Juga: Pemkab Blitar-Pengusaha Sound Horeg Sepakati Pembatasan Sound saat Karnaval, Namun Ada Tapinya

Grebeg Pancasila menunjukkan bagaimana budaya lokal bisa menjadi pilar kebangsaan. Tak melulu harus melalui pidato kenegaraan atau doktrin politik. Lewat tarian, kirab, bedhol pusaka, dan tahlil di pusara, semangat Pancasila tumbuh dari bawah—dari warga kota yang mencintai sejarahnya.

Kota Blitar dengan segala kerendahannya, justru mampu menyumbang narasi besar bangsa: narasi ideologis yang hidup, menyatu dalam denyut kehidupan kota. Di sinilah simbol "pusara kota di tengah pusara nasional" menemukan bentuk paling konkret: Blitar sebagai ruang hidup warisan Bung Karno, sekaligus pusat regenerasi ide Pancasila.

Prosesi Grebeg Pancasila adalah perwujudan nyata bahwa nasionalisme tidak lahir dari kekuasaan, tapi dari kesadaran budaya. Dengan menjadikan pusara sebagai pusat kegiatan, warga Blitar menghidupkan Pancasila dalam bentuk yang paling tulus: gotong royong, doa, seni, dan kebersamaan.

Baca Juga: Vietnam Lebih Unggul Daripada Indonesia? Ahok Beberkan Fakta Tentang Investasi Asing di Vietnam

Meski sudah diakui secara nasional oleh Presiden Jokowi pada tahun 2015, Grebeg Pancasila tetap menghadapi tantangan era modern. Generasi muda perlu dilibatkan lebih aktif agar ritual budaya ini tidak hanya menjadi tontonan tahunan, tapi juga pengalaman pembelajaran ideologis.

Dalam wawancara Radar Blitar TV, sejumlah pelajar yang mengikuti kirab mengaku bangga bisa ikut serta. “Ini cara kami menghormati Bung Karno. Belajar bukan hanya dari buku, tapi dari budaya yang diwariskan,” ujar seorang siswa SMK di Blitar.

Grebeg Pancasila mengajarkan bahwa nilai ideologi bisa disampaikan lewat cara yang lembut, membumi, dan membangkitkan. Kota Blitar bukan hanya tempat Bung Karno dimakamkan. Ia adalah rumah nilai yang setiap tahun dihidupkan kembali oleh rakyatnya.

Baca Juga: Ketika Anime Menjadi Simbol Perlawanan: Pemerintah Diminta Rangkul, Bukan Represif

Dari pusara Bung Karno, rakyat belajar untuk mencintai bangsa tanpa harus membenci perbedaan. Dari Grebeg Pancasila, Blitar menunjukkan bahwa kota kecil bisa menyuarakan pesan besar: Indonesia yang berideologi, berbudaya, dan berakar kuat.

Editor : Anggi Septian A.P.
#grebeg pancasila #sejarah blitar #Bagus Putu Parto #samanhudi anwar