Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Di Balik Grebeg Pancasila Blitar: Dari Seniman ke Politik hingga Mendapat Respon Presiden

Axsha Zazhika • Kamis, 7 Agustus 2025 | 03:00 WIB

 

Di Balik Grebeg Pancasila Blitar: Dari Seniman ke Politik hingga Mendapat Respon Presiden
Di Balik Grebeg Pancasila Blitar: Dari Seniman ke Politik hingga Mendapat Respon Presiden

BLITAR – Tradisi Grebeg Pancasila bukan cuma sekadar ritual budaya, melainkan hasil kolaborasi kreatif antara komunitas seni lokal dan elit politik yang bermuara pada pengakuan nasional. Ide sederhana menggema dari jalanan hingga Istana Negara, menjadikan 1 Juni secara resmi diakui Presiden Jokowi sebagai Hari Lahir Pancasila pada tahun 2015.

Menurut tayangan Radar Blitar TV, gagasan itu lahir dari diskusi intens antara seniman seperti Bagus Putu Parto, budayawan Andreas Edison, dan politisi Kota Blitar seperti Samanhudi Anwar.

Mereka menyelaraskan seni, budaya, dan semangat nasionalisme dalam perspektif lokal, menjadikan Grebeg Pancasila sebagai simbol identitas wisata budaya Blitar yang tentu mengundang perhatian nasional.

Baca Juga: Gak Perlu Warisan, Ini Cara Cari Uang Online yang Bisa Dipelajari Anak Muda Blitar Hari Ini Juga

Kolaborasi itu menunjukkan bagaimana kebudayaan dan politik bisa berpadu: seniman membingkai simbolisme Pancasila dalam prosesi budaya, sementara politisi menyalurkan aspirasi ke pemerintah pusat hingga akhirnya mendapat pengakuan resmi. Ini bukan sekadar acara kota, tapi gerakan simbolik yang membuat Blitar tercatat di panggung nasional.

Tradisi Grebeg Pancasila bermula sekitar tahun 2000-an sebagai respon seni terhadap minimnya perhatian terhadap Hari Pancasila. Seniman Blitar menginisiasi ritual seperti bedhol pusaka, malam tirakatan, dan kirab Gunungan Lima tanpa pengakuan resmi pemerintah. Seiring waktu, mereka menggandeng elit politik lokal agar gagasan itu lebih besar dampaknya.

Tokoh seperti Samanhudi Anwar yang saat itu menjabat ketua DPRD dan Bagus Putu Parto sebagai seniman utama, berperan menggerakkan kekuatan budaya agar dirasakan masyarakat luas. Kolaborasi ini membuahkan momentum di mana Bung Karno bukan lagi hanya figur sejarah, tetapi ikon yang hidup dalam rutinitas budaya tiap 1 Juni.

Baca Juga: Mengungkap Nilai Spiritual Dibalik Simbol Reco Sewu, Warisan Budaya Jawa di Tulungagung

Akhirnya, usulan itu diangkat secara formal ke pemerintah pusat. Samanhudi meminta Presiden Jokowi hadir langsung di Blitar, guna menjadikan 1 Juni sebagai tanggal resmi Hari Lahir Pancasila—yang terwujud pada 2015. Kota Blitar pun diakui sebagai embrio dari penguatan identitas nasional melalui budaya lokal.

Setiap Grebeg Pancasila dimulai pada tanggal 31 Mei malam dengan Bedhol Pusaka, proses mengarak simbol-simbol negara dari Istana Gebang menuju kantor walikota. Dilanjutkan Malam Tirakatan yang mencakup pembacaan mocopat dan doa bersama. Puncaknya, pada 1 Juni digelar Upacara Budaya, Kirab Gunungan Lima, dan Kenduri Pancasila di Makam Bung Karno sebagai refleksi nilai Pancasila.

Ritus kirab gunungan dari Alun-Alun menuju makam Bung Karno dihadiri ribuan masyarakat. Setelah acara doa, warga berebut hasil bumi simbolis—dikenal sebagai ngalap berkah. Ini bukan sekadar prosesi ritual, tetapi bentuk semangat solidaritas dan kebersamaan yang sarat makna moral serta identitas lokal ﹘ yang turut mengundang wisatawan hingga dari luar kota.

Baca Juga: Kirab Bedhol Pusaka Hari Jadi ke-701 Blitar Mendadak Berubah, Bupati: Tahun Depan Harus Ada Konvoi dan Arakan

Grebeg Pancasila kemudian menjadi magnet budaya wisata Blitar, yang menyuguhkan perpaduan ritual seni, spiritualitas, dan kebersamaan. Pemerintah daerah konsisten mempertahankan prosesi ini sebagai identitas lokal yang menyatu dengan narasi kebangsaan.

Kesuksesan Grebeg Pancasila tidak lepas dari peran sinergis antara seniman dan politisi. Samanhudi Anwar dan Bagus Putu Parto menjadi motor kolaborasi, sementara pemerintah pusat diwakili oleh Presiden Jokowi yang akhirnya memberikan pengakuan resmi. Ini sekaligus membuktikan bahwa nilai lokal bisa menjadi pijakan nasional apabila dirawat oleh semua elemen masyarakat.

Seniman bukan sekadar pelaksana budaya, tapi perintis simbol. Aktif di era Orde Baru dan reformasi, mereka menggunakan seni sebagai ruang ekspresi yang akhirnya menyatu dengan legitimasi politik. Sementara politisi memberi saluran formal hingga menghasilkan pengakuan hari lahir negara.

Baca Juga: “Apa Kabar Indonesia”, Bertegur Sapa Tentang Kondisi Indonesia Bersama Ahok

Kolaborasi lintas elemen inilah yang membedakan Grebeg Pancasila dari ritual daerah lainnya—karena ia lahir dari kesadaran budaya dan dibawa sampai ke panggung kebangsaan.

Meski diakui nasional, Grebeg Pancasila masih menghadapi tantangan dalam menghadapi zaman digital. Transformasi kegiatan, seperti livestreaming, inovasi visual, dan pelibatan generasi muda menjadi kunci agar tradisi ini tetap relevan serta meresap pada nilai ideologi bangsa.

Penggunaan istilah yang konsisten—seperti mempertahankan nama utama Grebeg Pancasila—ditentang oleh pendiri acara karena menyentuh nilai budaya dan visi asli acara. Perubahan istilah harus hati-hati agar tidak menghilangkan makna simbolik yang telah dibangun sejak awal.

Baca Juga: Vietnam Lebih Unggul Daripada Indonesia? Ahok Beberkan Fakta Tentang Investasi Asing di Vietnam

Grebeg Pancasila membuktikan bahwa identitas dan nasionalisme bisa dibangun dari akar budaya lokal. Blitar mungkin kecil, tapi berhasil menciptakan simbol nasional dengan gotong royong dan seni budaya. Kolaborasi seniman, politikus, dan masyarakat berhasil membawa momen lokal menjadi pengakuan pusat—dengan Presiden Jokowi menetapkan 1 Juni sebagai Hari Pancasila resmi.

Melalui kolaborasi ini, masyarakat belajar bahwa sejarah dan budaya bukan hanya sakral, tapi energik dan bisa menjadi sumber kekuatan ideologis. Grebeg Pancasila adalah tontonan, inspirasi, dan identitas yang hidup.

Editor : Anggi Septian A.P.
#grebeg pancasila #sejarah blitar #Bagus Putu Parto #samanhudi anwar