Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

30 Tahun Semangat Bung Karno di Blitar: Grebeg Pancasila Menjadi Tradisi & Identitas

Axsha Zazhika • Kamis, 7 Agustus 2025 | 02:30 WIB
30 Tahun Semangat Bung Karno di Blitar: Grebeg Pancasila Menjadi Tradisi & Identitas
30 Tahun Semangat Bung Karno di Blitar: Grebeg Pancasila Menjadi Tradisi & Identitas

BLITAR – Tradisi grebeg pancasila telah mengakar selama tiga dekade di Blitar. Sejak awal 1995, muncul keresahan seni budaya atas minimnya peringatan resmi Hari Lahir Pancasila. Dari diskusi seniman hingga aksi simbolik, lahirlah prosesi budaya yang kini menjadi rutinitas tahunan kota.

Pada tahun 2000, grebeg pancasila resmi diinisiasi warga Blitar sebagai ekspresi pro-kebudayaan. Tak lama kemudian, acara ini menjadi agenda rutin dengan keterlibatan pemerintah setempat—menjadikan semangat Bung Karno sebagai jati diri yang terus dibumikan setiap 1 Juni.

Kini, tiga puluh tahun sejak awal gagasan itu muncul, grebeg pancasila tak hanya ritual lokal. Prosesi ini membentuk identitas kota — simbol sejarah, ideologi, dan kebudayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Jejak Sejarah: Dari Kritikan Seni ke Ritual Budaya Nasional

Dimulai dari kegelisahan seniman atas tidak adanya peringatan 1 Juni, grebeg pancasila tumbuh sebagai karya budaya yang bermakna. Seniman bersama budayawan lokal menggagas ritual seperti bedhol pusaka, tirakatan, upacara budaya, hingga kirab gunungan lima.

Acara yang mulai mandiri ini kemudian “diadopsi” oleh Pemerintah Kota Blitar pada era Wali Kota Samanhudi Anwar (2001), menjadikannya program resmi dengan dana APBD dan dukungan institutional.

Nilai-nilai Pancasila—religius, toleransi, gotong royong, kreativitas, dan cinta budaya—ditanamkan melalui prosesi ini, khususnya kepada generasi muda Kota Patria. Penelitian lokal menyebut bahwa grebeg pancasila memberi pengalaman pendidikan identitas bagi siswa.

Ritual Tetap Hidup: Bedholan, Tirakatan, Kirab & Kenduri

Setiap tahunnya, grebeg pancasila dimulai pada malam 31 Mei dengan ritual bedholan pusaka, mengarak pusaka dari Istana Gebang ke kantor wali kota.

Dilanjutkan dengan malam tirakatan: doa bersama dan pembacaan mocopat sebagai refleksi nilai Pancasila. Esok pagi, Upacara Budaya dan kirab gunungan lima menuju Makam Bung Karno menjadi puncak acara.

Ribuan warga kawasan lokal maupun dari luar kota bergabung dalam tug-sebut, berebut ngalap berkah hasil bumi dalam kenduri penutup di pusara Bung Karno—sebuah simbolisasi solidaritas sosial yang hidup dan menyentuh.

Konsistensi yang Jadi Identitas Kota

Selama 30 tahun, grebeg pancasila bukan sekadar upacara. Ia menjadi pilar kebudayaan Blitar, menyambung tulang-tulang sejarah Bung Karno dengan denyut nilai nasionalisme. Pemerintah kota mendorong nilai ini menjadi bagian identitas publik dan daya tarik wisata budaya.

Wali Kota Syauqul Muhibbin menekankan bahwa acara ini bukan sekadar simbol semu: “Pancasila bukan warisan masa lalu, melainkan kompas masa depan.” Ungkapan ini menggambarkan spirit grebeg pancasila hingga kini tetap relevan.

Peneliti pendidikan menegaskan manfaat ritus ini: siswa jadi lebih sadar toleransi, kesetiaan terhadap bangsa, gotong royong, cinta budaya lokal—nilai luhur yang menumbuhkan loyalitas kebangsaan.

Warisan Konsistensi dan Tantangan Era Digital

Konsistensi mengadakan grebeg pancasila sejak era Orde Baru hingga sekarang memberi pelajaran: budaya lokal yang dimaknai secara benar bisa jadi kekuatan ideologis bangsa. Meski demikian, di era digital seniman dan pemerintah kota diimbau untuk melakukan inovasi: livestreaming, desain visual kreatif, melibatkan generasi muda di ranah media sosial.

Menjaga nama grebeg—bukan menggantinya menjadi istilah lain—ditekankan tokoh pembuat acara agar makna filosofis yang dirintis sejak 30 tahun lalu tetap utuh.

Semangat 30 Tahun Tetap Hidup

Grebeg Pancasila adalah bukti bahwa nilai kebangsaan bisa diwujudkan lewat kreativitas budaya. Dari kritik seniman hingga jadi tradisi resmi kota yang membawa pengakuan nasional, acara ini adalah refleksi nyata dari semangat Bung Karno yang terus menggelora: sederhana, inklusif, dan berakar kuat.

Selama 30 tahun, grebeg pancasila menjaga identitas Kota Blitar—bukan hanya sebagai kota makam Bung Karno, tapi kota yang memaknai sejarah dengan cara hidup. Tolong lanjutkan kisah ini agar nilai-nilai nasionalisme tidak pudar.

Editor : Anggi Septian A.P.
#grebeg pancasila #sejarah blitar #Bagus Putu Parto #samanhudi anwar