BLITAR – Grebeg Pancasila kini menghadapi tantangan baru: bagaimana menjaga esensi budaya dan nilai ideologi dalam era media sosial dan teknologi digital. Tradisi yang lahir dari kolaborasi seniman dan tokoh lokal ini harus dipertahankan relevansinya tanpa kehilangan akar simboliknya.
Ruang budaya Kota Blitar menyadari bahwa eksistensi grebeg pancasila tidak bisa hanya mengandalkan nostalgia. Kini diperlukan wajah baru: live streaming, konten visual yang menarik, serta pelibatan generasi muda. Semua itu harus dilakukan demi menjadikan prosesi ini tetap hidup di ruang digital dan offline.
Dalam liputan Radar Blitar TV, seniman dan budayawan berbicara tentang kebutuhan untuk mentransformasi format acara menjadi lebih modern, namun tetap menjaga ritual utama — seperti Bedhol Pusaka, Tirakatan, Kirab Gunungan Lima, dan Kenduri Pancasila — agar tetap sarat makna budaya.
Gelaran Grebeg Pancasila selalu mencakup rangkaian ritual klasik: Bedhol Pusaka, Malam Tirakatan, Upacara Budaya, Kirab Gunungan Lima, dan Kenduri Pancasila. Namun, dalam era digital kini, penyelenggara mempertanyakan: cukupkah ritual tua jika hanya terulang melalui pamflet atau siaran langsung seadanya?
Menurut wawancara di kanal Radar Blitar TV, para seniman menyarankan penggunaan format visual interaktif: video pendek, virtual tour makam Bung Karno, talent show budaya, serta kompetisi digital yang menggugah minat pemuda ikut memperingati nilai Pancasila.
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin alias Mas Ibbin, juga menyatakan dukungannya terhadap inovasi. Ia menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya teks sejarah, tapi tetap hidup sebagai “jiwa bangsa” yang patut dibumikan secara visual dan interaktif di platform digital.
Sebagian seniman generasi lama mulai beradaptasi. Mereka setuju bahwa momen seperti Grebeg Pancasila bukan hanya soal koleksi foto di galeri kota, tapi momentum naratif digital: podcast budaya, virtual storytelling, hingga dokumentasi VR upacara Grebeg.
Seperti diungkap budayawan Bagus Putu Parto, perubahan nama acara menjadi “Harlah Pancasila” menuai kritik karena dianggap mengikis filosofi asli Grebeg Pancasila yang telah dirancang sejak awal oleh seniman dan politisi lokal. Modernisasi dinilai tidak merusak, selama makna asli tetap dihormati.
Malam Kirab Lampion 2025 yang tetap digelar meski hujan deras menjadi momen visual kuat bagi warga dan viral di media sosial. Ribuan lampion warna-warni melintas berjajar—menjadi sorotan media dan publik yang memicu semangat kebersamaan walau dalam badai.
Namun, dibutuhkan narasi visual yang sistematis agar bukan sekadar foto indah, melainkan bermakna: makna keberagaman, persatuan, dan lima sila Pancasila yang hadir dalam Kirab Gunungan Lima.
Tantangan terbesar adalah mengadaptasi Grebeg Pancasila agar align dengan gaya hidup generasi milenial. Kolaborasi dengan pelajar sekolah, komunitas digital, dan kreator lokal sangat diperlukan agar ritual budaya ini menjadi konten yang bisa viral dan tetap edukatif.
Hasil studi akademik menyebut Grebeg Pancasila efektif sebagai sarana internalisasi nilai-nilai Pancasila: pengetahuan, tindakan, dan perasaan di kalangan siswa melalui ritual budaya. Transformasi digital diharapkan memperkuat pendidikan nilai itu melalui konten multimedia edukatif.
Beberapa inovasi yang sudah dicoba: livestream upacara sejak malam Tirakatan hingga Kirab Gunungan Lima, penyebutan hashtag #GrebegPancasila, serta kolaborasi influencer budaya lokal. Tujuannya: menjadikan tradisi terdepan hadir di berbagai platform dengan narasi yang kuat.
Namun seniman mengingatkan bahwa setiap perubahan harus melewati diskusi publik bersama budayawan dan penggagas acara agar filosofi asli tetap hidup, meski formatnya berubah. Jangan sampai modernisasi justru menghilangkan identitas yang telah dibangun bertahun-tahun.
Grebeg Pancasila adalah warisan budaya Kota Blitar yang telah berakar kuat selama puluhan tahun. Kini, tantangannya adalah menjadikannya tetap relevan lewat visual digital, agar makin banyak orang—khususnya generasi muda—terinspirasi memahami nilai Pancasila melalui tradisi lokal.
Transformasi ini bukan soal mengganti inti tradisi, tetapi memberi panggung baru: panggung digital yang bisa menjangkau luas. Dengan pengelolaan kreatif, grebeg pancasila akan menjadi simbol nasional yang hidup tidak hanya di tanah pemakaman Bung Karno, tapi juga di jendela-gawai anak negeri.
Editor : Anggi Septian A.P.