Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Candi Simping, Makam Raden Wijaya yang Terlupakan di Tengah Perkampungan Blitar

Ichaa Melinda Putri • Kamis, 7 Agustus 2025 | 20:00 WIB

Candi Simping, Makam Raden Wijaya yang Terlupakan di Tengah Perkampungan Blitar
Candi Simping, Makam Raden Wijaya yang Terlupakan di Tengah Perkampungan Blitar

BLITAR – Tak banyak yang tahu bahwa di sebuah dusun kecil di Blitar, tersimpan jejak penting dari sejarah besar Nusantara. Di Dusun Krajan, Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, berdiri Candi Simping, situs pendarmaan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Ya, Raden Wijaya, sang raja agung bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana, yang membawa kejayaan besar Majapahit, justru dimakamkan di tempat yang jauh dari keramaian dan sorotan publik.

Lokasi Candi Simping tersembunyi di antara rumah-rumah warga dan ladang penduduk. Bangunannya tak lagi utuh, hanya tersisa sebagian batuan yang membentuk struktur dasar. Namun, menurut Suryo Mataram, pemerhati sejarah lokal, aura kebesaran Majapahit masih bisa dirasakan. “Tempat ini sebenarnya sangat sakral. Tapi masyarakat banyak yang tidak tahu bahwa di sinilah Raden Wijaya didharmakan setelah wafat pada tahun 1309 M,” ujarnya.

Kitab Negarakertagama menyebut Candi Simping sebagai lokasi pendarmaan raja pertama Majapahit. Abu jenazah Raden Wijaya disemayamkan dalam peripih atau peti kecil di bagian tengah bangunan candi. “Ini adalah fakta sejarah besar yang ironisnya justru kurang dikenali masyarakat Blitar sendiri,” tambah Suryo.

Baca Juga: Candi Simping Blitar Masuk Pengusulan Penetapan Cagar Budaya Provinsi Jatim, Begini Jejak Sejarahnya

Dianggap Biasa, Padahal Luar Biasa

Jika dibandingkan dengan situs sejarah lain seperti kompleks Trowulan di Mojokerto, kondisi Candi Simping bisa dibilang sangat memprihatinkan. Tidak ada bangunan pendukung, tak ada museum kecil, bahkan papan informasi pun minim. Padahal, jika merujuk pada signifikansi sejarahnya, situs ini layak mendapatkan perhatian nasional.

Susilo, juru kunci Candi Simping, telah menjaga situs ini puluhan tahun. Ia menyayangkan minimnya perhatian pemerintah terhadap warisan sejarah sebesar ini. “Banyak orang datang ke sini hanya karena penasaran atau tidak sengaja. Padahal ini makam raja besar. Seharusnya bisa jadi tempat ziarah sejarah dan edukasi,” ujarnya.

Setiap hari, Susilo menyapu halaman candi, membersihkan lumut yang menempel, dan sesekali memandu tamu yang datang dari berbagai daerah. Beberapa bahkan berasal dari luar negeri. “Yang bikin miris, turis asing saja lebih menghormati tempat ini ketimbang kita sendiri,” katanya lirih.

Baca Juga: Di Situs Ini Hayam Wuruk Tenteramkan Diri Usai dari Candi Simping Blitar, Begini Sejarahnya

Pahatan Mistis dan Cerita yang Tersimpan

Meski tampak sederhana, Candi Simping menyimpan pahatan simbolik yang menarik. Di bagian tengah bangunan, terdapat relief yang dipercaya menggambarkan cerita Samudra Manthana, sebuah kisah mitologis tentang naga dan kura-kura yang merupakan jelmaan para dewa. Pahatan ini seolah menjadi penjaga tempat pendarmaan Raden Wijaya, memperkuat aura mistis dan spiritual di sekeliling candi.

Relief itu menurut Suryo bukan sekadar ornamen. Ia memaknai sebagai representasi keagungan dan kesucian raja. “Relief kura-kura dan naga itu simbolisasi alam semesta dan keseimbangan. Pantas jika digunakan untuk menandai peristirahatan terakhir seorang raja besar,” ujarnya.

Menariknya, tak sedikit masyarakat sekitar yang menjadikan Candi Simping sebagai tempat doa atau tirakat. Ada yang datang malam-malam untuk bermeditasi, ada pula yang sekadar mengheningkan cipta. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun, meski tak tercatat resmi dalam dokumen sejarah.

Baca Juga: Dari Kediri ke Majapahit: Jejak Kekuasaan dalam Kompleks Candi Penataran Terluas di Jawa Timur

Potensi Wisata Sejarah yang Terlupakan

Keberadaan Candi Simping menunjukkan bahwa Blitar tidak hanya kaya dengan kisah Bung Karno, tapi juga menyimpan potongan sejarah Majapahit yang sangat penting. Sayangnya, hingga kini belum ada langkah konkret dari pemerintah daerah untuk mengangkat situs ini sebagai destinasi wisata sejarah nasional.

Padahal, konsep wisata sejarah dengan pendekatan edukatif dan spiritual sangat mungkin dikembangkan. Apalagi dengan narasi kuat tentang Raden Wijaya, figur raja yang mempersatukan Nusantara dan menginspirasi kejayaan. “Kalau mau, tempat ini bisa jadi destinasi sejarah setara Borobudur atau Prambanan, tinggal kemasannya saja yang perlu digarap,” kata Suryo.

Dengan pengelolaan yang tepat, Candi Simping bukan hanya bisa menarik wisatawan, tapi juga memperkuat identitas sejarah Blitar sebagai bagian penting dari narasi Majapahit. Apalagi saat ini kesadaran publik terhadap sejarah lokal mulai tumbuh kembali, khususnya di kalangan muda.

Baca Juga: Menelusuri Makna Religius Candi Penataran: Relief Ramayana hingga Air Sakral Petirtaan

Merawat Ingatan Kolektif Bangsa

Sejarah tak akan pernah hidup jika tidak dihidupkan kembali oleh generasi penerus. Candi Simping adalah bukti nyata bahwa kejayaan masa lalu bisa terlupakan jika tak dijaga bersama. Sosok Raden Wijaya seharusnya tidak hanya dikenang dalam buku pelajaran, tapi juga dimuliakan melalui situs peninggalannya.

Di era digital ini, promosi situs sejarah tidak harus mahal. Cukup dengan narasi kuat, visual yang apik, dan kolaborasi komunitas, Candi Simping bisa jadi konten viral dan edukatif di saat bersamaan.

Mungkin kini saatnya Blitar kembali menegaskan jati dirinya sebagai bagian dari Bumi Majapahit, bukan hanya lewat nama besar, tapi juga lewat upaya merawat peninggalannya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar