Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Naga hingga Kura-Kura: Simbol Mistis di Pahatan Candi Simping, Makam Raden Wijaya

Ichaa Melinda Putri • Kamis, 7 Agustus 2025 | 19:30 WIB

Dari Naga hingga Kura-Kura: Simbol Mistis di Pahatan Candi Simping, Makam Raden Wijaya
Dari Naga hingga Kura-Kura: Simbol Mistis di Pahatan Candi Simping, Makam Raden Wijaya

BLITAR – Di balik ketenangan Dusun Krajan, Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, berdiri Candi Simping, situs pendarmaan Raden Wijaya, raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Majapahit. Selain dikenal sebagai tempat bersemayamnya abu sang raja agung, Candi Simping juga menyimpan kisah simbolik mistis yang terpahat pada relief-relief kunonya.

Pahatan relief di bagian tengah candi menggambarkan dua makhluk legendaris: kura-kura dan naga. Menurut penuturan pemerhati sejarah lokal Suryo Mataram, relief ini tak sekadar ornamen arsitektur, melainkan menyimpan makna spiritual mendalam. "Itu bukan sekadar seni. Itu adalah narasi simbolik yang menggambarkan cerita Samudra Manthana, kisah tentang penciptaan dan keseimbangan alam semesta," ujar Suryo saat ditemui di lokasi.

Candi Simping, meski tampak sederhana dan sudah tidak utuh secara fisik, masih memancarkan aura sakral yang kuat. Keberadaan relief kura-kura dan naga menjadi salah satu bukti bahwa situs ini tidak hanya penting secara sejarah, tetapi juga secara spiritual. Tak heran jika banyak pengunjung datang bukan hanya untuk melihat situs sejarah, tetapi juga untuk mencari ketenangan dan melakukan ziarah batin.

Baca Juga: Candi Penataran: Penangkal Maut Gunung Kelud yang Disucikan Sejak Zaman Kediri

Kisah Samudra Manthana dan Filosofi Kehidupan

Samudra Manthana adalah kisah mitologi Hindu yang menggambarkan upaya para dewa dan asura dalam mengaduk lautan susu untuk mendapatkan amerta, air keabadian. Gunung digunakan sebagai pengaduk dan diletakkan di atas punggung kura-kura raksasa, sementara naga digunakan sebagai tali pemutar. Pahatan ini menggambarkan kolaborasi antara kekuatan baik dan jahat demi keseimbangan semesta.

“Relief ini secara tak langsung juga menyimbolkan perjuangan Raden Wijaya dalam menyatukan kekuatan berbeda untuk membentuk Majapahit,” kata Suryo. “Kura-kura mewakili kesabaran dan stabilitas, sedangkan naga melambangkan kekuatan dan dinamika. Dua hal itu harus seimbang agar kerajaan bisa berdiri kuat.”

Menurutnya, pemilihan simbol ini menunjukkan kedalaman pemikiran spiritual masyarakat Majapahit kala itu. Mereka tidak hanya membangun candi sebagai tempat fisik, tetapi juga sebagai media komunikasi antara dunia manusia dan ilahi. “Ini adalah pesan yang ditinggalkan leluhur kita, bukan hanya untuk dilihat, tapi juga direnungkan,” tambahnya.

Baca Juga: Simbol Peradaban Tinggi: Kompleks Candi Termegah di Jatim Ada di Blitar, Ini Faktanya!

Makna Mistis di Tengah Keheningan

Tak sedikit pengunjung yang datang ke Candi Simping merasa ada energi berbeda saat berdiri di depan relief kura-kura dan naga. Beberapa bahkan mengaku merinding atau merasa terdiam tanpa sebab yang jelas. Susilo, sang juru kunci candi, mengatakan bahwa bagian relief tersebut memang kerap menjadi titik meditasi atau tempat bermunajat secara diam-diam.

“Kadang ada yang datang malam hari, duduk diam berjam-jam. Mereka tidak ganggu, hanya ingin menyatu dengan suasana,” kata Susilo. Ia percaya, pahatan kuno ini memang punya daya spiritual yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. “Mungkin karena ini tempat pendarmaan Raden Wijaya, jadi auranya tetap hidup sampai sekarang.”

Susilo sendiri tidak pernah merasa takut menjaga candi ini sendirian. Baginya, menjaga peninggalan leluhur adalah amanah. Bahkan ia mengaku lebih sering merasa damai dibanding takut. “Kadang saya mimpi bertemu sosok bersinar, entah siapa. Tapi setiap habis mimpi itu, saya merasa segar dan semangat,” kisahnya.

Baca Juga: Candi Penataran: Warisan 3 Kerajaan dalam Sejarah Blitar, Kolam Mistisnya Tak Pernah Kering

Minim Perhatian, Padahal Kaya Makna

Ironisnya, Candi Simping yang menyimpan simbolisme kaya ini belum mendapatkan perhatian serius dari pihak pemerintah atau pelaku pariwisata sejarah. Tak ada penanda resmi yang menjelaskan arti pahatan atau narasi mistis yang terkandung di dalamnya. Padahal, jika dikelola dengan pendekatan edukatif dan spiritual, relief ini bisa menjadi daya tarik besar bagi wisatawan pencinta sejarah dan budaya.

Suryo Mataram menyayangkan kurangnya upaya pelestarian terhadap narasi simbolik seperti ini. “Kita terlalu fokus pada bentuk bangunan, padahal maknanya jauh lebih dalam. Ini bisa jadi konten edukasi sejarah yang sangat menarik, apalagi kalau dikembangkan dalam bentuk video atau multimedia,” ujarnya.

Ia menambahkan, generasi muda sekarang justru lebih tertarik pada sisi mistis-historis yang bisa dikemas menarik di media sosial. Relief naga dan kura-kura ini, jika dijelaskan secara visual dan naratif, bisa menjadi bagian dari upaya mengenalkan kembali sejarah Majapahit dari sisi spiritual dan filosofisnya.

Baca Juga: 5 Kerajaan, 1 Candi: Jejak Sejarah Panjang Candi Penataran dari Kediri hingga Majapahit

Menghidupkan Kembali Warisan Simbolik Majapahit

Candi Simping bukan hanya tempat abu Raden Wijaya disemayamkan. Lebih dari itu, situs ini menyimpan warisan simbolik yang kaya, yang bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Relief kura-kura dan naga bukan hanya cerita mitologi, tetapi pesan tentang keseimbangan hidup, perjuangan, dan kolaborasi.

Saat dunia bergerak semakin cepat dan dangkal, peninggalan seperti ini bisa menjadi pengingat tentang pentingnya kedalaman makna dan ketenangan batin. “Kalau kita mau belajar dari simbol-simbol ini, kita tidak hanya paham sejarah, tapi juga paham hidup,” tutup Suryo.

Kini tinggal pertanyaan: maukah kita membuka mata untuk melihat pesan yang ditinggalkan para leluhur? Ataukah kita akan terus membiarkan Candi Simping, situs mistis pendarmaan Raden Wijaya, tetap terlupakan di tengah keheningan dusun?

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar