Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ziarah ke Abu Sang Raja: Tradisi Spiritual Pengunjung Candi Simping Blitar

Ichaa Melinda Putri • Kamis, 7 Agustus 2025 | 19:00 WIB

Ziarah ke Abu Sang Raja: Tradisi Spiritual Pengunjung Candi Simping Blitar
Ziarah ke Abu Sang Raja: Tradisi Spiritual Pengunjung Candi Simping Blitar

BLITAR– Di tengah kesunyian Dusun Krajan, Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, berdiri Candi Simping — situs sejarah penting tempat pendarmaan Raden Wijaya, raja pertama Majapahit. Meski lokasinya terpencil dan bangunannya tak lagi utuh, Candi Simping tak pernah sepi dari peziarah. Dari pelajar hingga spiritualis, mereka datang untuk berdoa di kotak tengah candi, tempat abu sang raja disemayamkan.

Tradisi ziarah ke Candi Simping sudah berlangsung puluhan tahun, bahkan dipercaya telah dilakukan sejak masa Majapahit masih berdiri. “Banyak yang datang ke sini bukan sekadar melihat bangunan, tapi ingin menyambung rasa, menyampaikan doa kepada leluhur besar Nusantara: Raden Wijaya,” jelas Suryo Mataram, pemerhati sejarah dan budaya Blitar.

Aktivitas spiritual ini semakin ramai pada momen-momen tertentu seperti malam Jumat Kliwon, bulan Suro, atau saat para pelajar sedang mengadakan kegiatan napak tilas sejarah. “Mereka biasanya berkumpul di kotak tengah, yang dipercaya sebagai lokasi peripih atau peti penyimpanan abu sang raja. Doanya tidak ribut. Hening. Sopan. Penuh khidmat,” tambah Suryo.

Baca Juga: Candi Penataran: Warisan Sejarah Kerajaan Majapahit di Blitar yang Memikat Wisatawan

Bukan Wisata Biasa, Tapi Ziarah Budaya

Berbeda dengan kunjungan wisata biasa, kunjungan ke Candi Simping lebih menyerupai prosesi spiritual. Pengunjung biasanya membuka alas kaki, membakar dupa atau bunga, dan duduk bersila menghadap kotak tengah candi. Tak jarang, mereka memejamkan mata untuk bermeditasi atau sekadar mengheningkan cipta.

Menurut Susilo, juru kunci yang telah puluhan tahun menjaga candi ini, kegiatan ziarah sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitar. “Orang tua kami dulu juga mengajarkan bahwa tempat ini suci. Tempat abu raja. Jadi kalau ke sini, harus jaga sikap,” ujarnya.

Beberapa pengunjung bahkan mengaku merasakan getaran spiritual yang kuat di area kotak tengah. Ada yang merasa damai, ada pula yang merasa seperti diawasi atau diliputi aura agung. “Saya datang ke sini karena penasaran. Tapi setelah duduk beberapa menit, rasanya seperti disambut. Entah bagaimana menjelaskannya,” kata Wahyu, pelajar asal Tulungagung yang datang bersama rombongan sekolah.

Baca Juga: Candi Penataran: Penangkal Maut Gunung Kelud yang Disucikan Sejak Zaman Kediri

Spiritual Tourism yang Terabaikan

Tradisi ziarah ke Candi Simping sebenarnya menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi bentuk spiritual tourism yang berbasis budaya lokal. Dengan narasi kuat tentang pendarmaan Raden Wijaya, situs ini bisa menjadi destinasi wisata rohani yang tak hanya mengangkat sektor pariwisata, tetapi juga memperkuat identitas sejarah daerah.

Suryo Mataram menyebut bahwa selama ini pendekatan pariwisata Blitar terlalu terfokus pada tokoh Bung Karno. “Padahal, Blitar juga punya warisan Majapahit yang sangat penting. Dan Candi Simping ini bukan sekadar bangunan kuno. Ini simbol, ini tempat sakral, tempat yang bisa jadi jendela spiritual bagi siapa pun yang ingin menyentuh akar budaya Nusantara,” tegasnya.

Menurutnya, wisata spiritual sangat diminati masyarakat modern yang jenuh dengan hiruk-pikuk. Mereka mencari pengalaman yang lebih mendalam, yang menggabungkan sejarah, spiritualitas, dan ketenangan batin. “Candi Simping memenuhi itu semua,” imbuhnya.

Baca Juga: Candi Penataran Blitar: Jejak Megah Peninggalan Kerajaan Majapahit di Kaki Gunung Kelud  

Penerus Tradisi Leluhur

Meskipun belum banyak terekspos media, komunitas lokal tetap menjaga keberlangsungan tradisi spiritual di Candi Simping. Salah satunya melalui kegiatan malam tirakat, doa bersama, dan bersih candi secara berkala. Bahkan beberapa komunitas spiritual dari luar daerah pun rutin datang untuk melakukan ritual penghormatan.

Bagi generasi muda, kegiatan ini juga menjadi cara baru dalam memahami sejarah. Alih-alih hanya menghafal nama raja dan tanggal di buku teks, mereka diajak langsung merasakan atmosfer tempat peristirahatan Raden Wijaya, sosok yang tidak hanya memimpin, tapi juga dihormati sebagai tokoh spiritual.

“Saya merasa ini lebih menyentuh daripada baca sejarah di kelas,” ujar Nindy, siswi SMA dari Blitar yang datang bersama gurunya. Ia mengaku awalnya hanya ikut-ikutan, tapi kini jadi tertarik belajar lebih dalam tentang Majapahit.

Baca Juga: Candi Sirah Kencong di Blitar Tarik Perhatian Peserta Kopdar Pegiat Aksara Kawi

Saatnya Negara Hadir

Sayangnya, meski tradisi ini hidup dan berlangsung alami di masyarakat, perhatian dari pihak pemerintah dan pariwisata masih minim. Tak ada fasilitas penunjang yang memadai, bahkan jalan menuju Candi Simping pun masih sempit dan tidak terlalu layak untuk dilalui kendaraan besar.

Suryo Mataram berharap ada sinergi antara dinas pariwisata, kebudayaan, dan pendidikan untuk mengangkat Candi Simping sebagai destinasi spiritual yang setara dengan situs ziarah nasional lainnya. “Raden Wijaya bukan tokoh kecil. Beliau raja besar. Kalau makam tokoh lain bisa jadi magnet spiritual, kenapa abu beliau dibiarkan sunyi?” tandasnya.

Ia menambahkan, ini bukan soal mengomersialisasi tempat sakral, tetapi soal menjaga dan merawat tradisi luhur agar tidak tergerus zaman. “Kalau kita abai, jangan heran kalau generasi mendatang hanya mengenal nama Raden Wijaya dari Wikipedia, bukan dari tanah tempat abunya disemayamkan,” ujarnya.

Baca Juga: Dari Kediri ke Majapahit: Jejak Kekuasaan dalam Kompleks Candi Penataran Terluas di Jawa Timur

Menyambung Doa, Menjaga Warisan

Candi Simping hari ini mungkin tak lagi megah, tapi semangat yang terpatri di dalamnya tetap hidup. Setiap doa yang dipanjatkan, setiap bunga yang diletakkan, dan setiap keheningan yang tercipta di hadapan kotak tengah adalah bukti bahwa warisan spiritual Raden Wijaya belum benar-benar padam.

Di era ketika dunia bergerak begitu cepat dan dangkal, mungkin justru ziarah ke tempat sunyi seperti inilah yang bisa menyambungkan manusia kembali dengan akar budayanya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar