Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bukan Hanya Majapahit, Candi Simping Blitar Juga Disinggahi Wisatawan Mancanegara

Ichaa Melinda Putri • Kamis, 7 Agustus 2025 | 18:30 WIB

Bukan Hanya Majapahit, Candi Simping Blitar Juga Disinggahi Wisatawan Mancanegara
Bukan Hanya Majapahit, Candi Simping Blitar Juga Disinggahi Wisatawan Mancanegara

BLITAR – Candi Simping di Dusun Krajan, Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, tak hanya menjadi bagian dari jejak kejayaan Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Lebih dari itu, situs pendarmaan raja besar tersebut justru mulai menyita perhatian dunia. Meski letaknya tersembunyi dan jauh dari hiruk pikuk wisata populer, Candi Simping kini rutin disambangi wisatawan mancanegara yang penasaran akan jejak spiritual Majapahit.

Pengunjung dari negara seperti Belanda, Jepang, hingga Perancis pernah tercatat datang ke situs ini. Mereka tak hanya sekadar mengambil foto, tetapi juga berdiskusi panjang dengan juru kunci dan warga sekitar tentang makna Candi Simping sebagai tempat penyimpanan abu jenazah Raden Wijaya, raja pertama yang bergelar Sri Kertarajasa Jayawardhana.

“Banyak dari mereka datang dengan latar belakang akademik atau spiritual. Mereka tahu sejarahnya lebih dalam dari kebanyakan orang lokal,” ujar Suryo Mataram, peneliti sejarah Blitar. Ia menyebut ironi ini sebagai cerminan rendahnya kesadaran sejarah masyarakat sendiri terhadap warisan yang ada di halaman rumah mereka.

Baca Juga: Menelusuri Makna Religius Candi Penataran: Relief Ramayana hingga Air Sakral Petirtaan

Situs Sederhana yang Dihargai Orang Luar

Jika dibandingkan dengan situs-situs sejarah besar seperti Borobudur atau Trowulan, Candi Simping terlihat sangat sederhana. Bangunannya tak lagi utuh, hanya berupa reruntuhan candi dengan beberapa relief tersisa. Namun, justru kesederhanaan itulah yang membuat wisatawan asing tertarik. Mereka menyebut tempat ini "jujur", "autentik", dan "penuh makna".

Menurut Susilo, juru kunci Candi Simping, wisatawan asing yang datang biasanya sudah memiliki bekal pengetahuan tentang Majapahit sebelum berkunjung. “Mereka tanya detil. Tentang posisi peripih, siapa saja yang pernah ziarah ke sini, bahkan tentang pahatan kura-kura dan naga,” kata Susilo.

Beberapa turis bahkan rela berjalan kaki dari jalan utama menuju dusun tempat candi berada, hanya untuk merasakan sendiri atmosfer tempat persemayaman abu Raden Wijaya. “Saya pernah menemani turis Jepang yang membawa bunga dan berdoa dalam diam hampir satu jam,” kenang Susilo.

Baca Juga: Menelusuri Makna Religius Candi Penataran: Relief Ramayana hingga Air Sakral Petirtaan

Ironi: Dihargai Dunia, Diabaikan Sendiri

Fenomena ini mengundang ironi tersendiri. Ketika turis asing datang jauh-jauh untuk menghormati situs bersejarah ini, sebagian warga lokal justru tidak tahu-menahu apa itu Candi Simping, apalagi siapa itu Raden Wijaya. Tak sedikit yang menganggap tempat ini hanya "tumpukan batu tua" yang tak menarik dikunjungi.

“Bahkan beberapa sekolah di Blitar belum pernah mengajak muridnya ke sini,” ungkap Suryo. Padahal, menurutnya, pendidikan sejarah lokal seharusnya dimulai dari pengenalan situs semacam ini. “Anak Blitar harus tahu bahwa leluhur Nusantara, pendiri Majapahit, abunya ada di kampung mereka sendiri.”

Tak hanya itu, fasilitas menuju dan di sekitar Candi Simping pun masih sangat minim. Tak ada papan informasi berbahasa asing, pemandu resmi, atau fasilitas wisata pendukung seperti toilet dan tempat istirahat. Sebagian pengunjung bahkan harus mengandalkan Google Maps dan tanya-tanya warga untuk menemukan lokasi candi.

Baca Juga: Menelusuri Makna Religius Candi Penataran: Relief Ramayana hingga Air Sakral Petirtaan

Daya Tarik Spiritual dan Historis

Meskipun sederhana, Candi Simping menyimpan magnet yang kuat bagi pengunjung luar negeri. Mereka tertarik bukan hanya karena sejarah Majapahit, tetapi juga aura spiritual tempat ini. Kotak tengah candi dipercaya menjadi tempat penyimpanan peripih, yaitu wadah abu jenazah Raden Wijaya, yang telah melalui prosesi pendarmaan ala Hindu Jawa Kuno.

Di lokasi itu, banyak pengunjung melakukan hening sejenak, meditasi, atau ziarah spiritual. Bahkan beberapa komunitas spiritual dari luar negeri pernah menggelar ritual diam di sekitar area tersebut. “Mereka bilang tempat ini punya energi yang menenangkan,” kata Susilo.

Simbol-simbol seperti pahatan kura-kura dan naga yang tertanam di batu candi juga memikat turis yang memiliki ketertarikan pada filsafat Timur dan mitologi Hindu. “Candi ini bukan hanya bangunan, tapi pesan hidup dari masa lalu,” kata seorang turis asal Prancis yang sempat diwawancarai Suryo.

Baca Juga: Mengupas Jejak Sejarah Candi-Candi Misterius di Lereng Gunung Wilis

Saatnya Mengelola Warisan Dunia

Melihat tingginya minat wisatawan mancanegara terhadap Candi Simping, Suryo Mataram berharap ada perhatian lebih serius dari pemerintah daerah dan dinas pariwisata. Ia menyarankan agar Blitar mulai menggarap konsep wisata sejarah dan spiritual internasional, dengan Raden Wijaya dan Majapahit sebagai porosnya.

“Kalau kita tidak cepat bergerak, nanti orang luar yang justru mengklaim dan merawat sejarah kita,” ujar Suryo. Ia mengusulkan pembuatan jalur napak tilas sejarah Majapahit, mulai dari Candi Penataran, Candi Simping, hingga situs-situs kecil lainnya yang terkait.

Dengan konsep storytelling yang kuat dan pendekatan wisata minat khusus, Candi Simping bisa menjadi magnet wisata baru yang tak hanya menarik turis, tapi juga membangkitkan kembali kebanggaan masyarakat lokal terhadap sejarahnya sendiri.

Baca Juga: Misteri Arca dan Atap Hilang: Teka-Teki Arsitektur Candi Penataran yang Belum Terpecahkan

Menjaga, Bukan Sekadar Mengagumi

Akhirnya, Candi Simping bukan hanya situs arkeologi, melainkan simbol hidup tentang bagaimana sejarah seharusnya dihargai. Bahwa Raden Wijaya, sang pendiri Majapahit, tidak sekadar dikenang dalam buku, tapi juga melalui tapak nyata yang bisa disentuh, diziarahi, dan direnungkan.

Selama kita masih membiarkan situs sebesar ini sunyi tanpa perawatan dan perhatian, maka selama itu pula kita secara tidak sadar sedang melepas satu per satu jati diri bangsa. Mungkin, seperti kata pepatah, yang jauh memang tampak lebih berharga—setidaknya di mata kita sendiri.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar