Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Asal Usul Nama Kabupaten Blitar: Dari "Bali Tartar" Hingga Jadi Blitar

Findika Pratama • Kamis, 7 Agustus 2025 | 23:30 WIB

Asal Usul Nama Kabupaten Blitar: Dari
Asal Usul Nama Kabupaten Blitar: Dari

BLITAR - Nama Kabupaten Blitar menyimpan kisah panjang yang bukan hanya sekadar penamaan geografis, tetapi juga simbol kemenangan dan perlawanan terhadap penjajah asing. Salah satu versi paling populer dan mengakar dalam ingatan masyarakat Blitar menyebut bahwa kata "Blitar" berasal dari frasa “Bali Tartar”, yang bermakna kembalinya atau mundurnya pasukan Tartar (Mongol) dari tanah Jawa.

Cerita ini berakar pada akhir abad ke-13, ketika Jawa diguncang oleh kehadiran pasukan Mongol dari Dinasti Yuan, Tiongkok, yang dikirim oleh Kaisar Kubilai Khan. Pasukan ini awalnya datang untuk menghukum Raja Kertanegara dari Singhasari yang menolak tunduk. Namun, mereka tiba di Jawa setelah Kertanegara telah digulingkan oleh Jaya Katwang dari Kediri. Dalam kekacauan inilah, muncul tokoh cerdas dan berani: Raden Wijaya, menantu Kertanegara, yang kelak menjadi pendiri Majapahit dan berperan besar dalam sejarah awal Kabupaten Blitar.

Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol sebagai momentum strategis. Ia membentuk aliansi sementara dengan mereka untuk mengalahkan Jaya Katwang. Setelah Kediri ditaklukkan, Raden Wijaya justru berbalik menyerang pasukan Mongol dengan taktik mendadak, memaksa mereka untuk mundur ke negeri asal. Inilah momen penting yang melahirkan istilah “Bali Tartar”—sebuah frasa yang nantinya dipercaya menjadi cikal bakal nama “Blitar”.

Baca Juga: Di Desa Suru, Heru Tjahjono Ajak Warga 'Mangayubagyo' Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis

Dari Frasa Militer Menjadi Nama Daerah

Dalam versi cerita rakyat yang hidup turun-temurun di Blitar, istilah “Bali Tartar” muncul sebagai ungkapan lokal terhadap kemenangan Raden Wijaya dan pengikutnya dalam mengusir pasukan asing dari tanah Jawa. “Bali” dalam bahasa Jawa berarti “kembali”, sementara “Tartar” merujuk pada bangsa Mongol atau Dinasti Yuan yang dianggap sebagai musuh luar. Frasa ini menyimbolkan kembalinya pasukan asing ke negeri asal setelah mengalami kekalahan memalukan.

Lama-kelamaan, frasa ini disebut-sebut mulai mengalami pelesapan dan penyesuaian lidah masyarakat lokal. Dari “Bali Tartar” menjadi “Balitar”, lalu lebih ringkas menjadi “Blitar”. Proses penyederhanaan fonetik ini lazim dalam bahasa tutur masyarakat Jawa, dan dipercaya oleh banyak kalangan sebagai bentuk alami evolusi nama tempat.

Meskipun versi etimologi ini belum sepenuhnya dapat dibuktikan secara filologis akademik, namun kisah ini tetap menjadi salah satu warisan naratif yang sangat hidup di tengah masyarakat. Dalam konteks Kabupaten Blitar, nama ini tak hanya menjadi identitas geografis, tetapi juga simbol heroik, bahwa tanah ini pernah menjadi saksi kemenangan anak negeri atas bangsa penjajah.

Baca Juga: Dari Blitar ke Madiun: Ternyata Pusat Kekuasaan Pangeran Arya Blitar Ada di Sini!

Babat Alas, Perang, dan Peran Nila Suwarna

Kisah “Bali Tartar” juga erat kaitannya dengan sosok Nila Suwarna, panglima kepercayaan Raden Wijaya yang dikirim untuk membuka kawasan hutan lebat di selatan Sungai Brantas, tempat yang kini menjadi wilayah Kabupaten Blitar. Ia bertugas memastikan bahwa tidak ada lagi sisa-sisa pasukan Mongol yang bersembunyi di wilayah tersebut.

Setelah babat alas berhasil dilakukan dan wilayah dinyatakan aman, nama “Balitar” mulai digunakan untuk menyebut kawasan tersebut sebagai simbol keberhasilan mengusir musuh asing dari wilayah baru itu. Kemudian, Nila Suwarna diangkat menjadi Adipati Ario Blitar I, dan daerah yang dipimpinnya resmi menjadi bagian dari Majapahit dalam bentuk Kadipaten Blitar.

Momentum inilah yang oleh sebagian kalangan dijadikan dasar historis penetapan Hari Jadi Kabupaten Blitar, yakni pada 5 Agustus 1324 Masehi—yang dipercaya menandai pengangkatan resmi Adipati Ario Blitar I oleh pusat kerajaan Majapahit.

Baca Juga: Ibunya Bernama Nyi Mas Blitar: Jejak Perempuan Hebat di Balik Tokoh Arya Blitar

Legenda yang Menyatu dengan Identitas Blitar

Banyak sejarawan modern menganggap kisah etimologis seperti ini sebagai bagian dari konstruksi memori kolektif. Walaupun tidak selalu dapat diverifikasi dengan dokumen tertulis, kisah-kisah seperti “Bali Tartar” menjadi narasi penting dalam pembentukan identitas lokal.

Di Kabupaten Blitar, kisah ini bukan sekadar legenda, tapi juga kebanggaan—sebuah cerita rakyat yang hidup di sekolah, di desa, di ritual adat, dan dalam peringatan hari jadi daerah.

Versi lain memang menyebut bahwa nama Blitar bisa berasal dari aspek geografis atau tanaman lokal, namun “Bali Tartar” tetap menjadi versi paling populer, karena menggugah emosi dan semangat perjuangan. Bagi masyarakat Blitar, nama itu adalah simbol kemenangan dan kemerdekaan dari pengaruh asing.

Baca Juga: Bung Karno Lebih Besar dari Blitar: Pusara Kota & Pusara Nasional di Grebeg Pancasila

Daya Tarik Cerita Lokal yang Abadi

Kisah asal-usul nama “Blitar” dari “Bali Tartar” menyimpan unsur yang sangat menarik: perpaduan antara sejarah besar, tokoh lokal heroik, dan transformasi bahasa yang alami. Narasi ini cocok untuk disampaikan dalam bentuk visual seperti ilustrasi, animasi, hingga film dokumenter pendek—karena memiliki daya tarik historis dan dramatik.

Di tengah era digital yang haus konten lokal bernuansa historis, kisah semacam ini bisa menjadi jembatan untuk mengenalkan sejarah Kabupaten Blitar pada generasi muda dengan cara yang menarik dan bermakna. Karena pada akhirnya, nama bukan sekadar label, tapi juga jejak panjang perjuangan.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar