BLITAR – Siapa sangka, di balik megahnya Candi Penataran yang berdiri anggun di Blitar, tersembunyi kisah mistis yang berkaitan erat dengan kedahsyatan Gunung Kelud. Candi terbesar di Jawa Timur ini disebut-sebut dibangun bukan sekadar tempat ibadah, melainkan sebagai upaya spiritual untuk meredam amarah sang gunung api.
Letusan dahsyat Gunung Kelud pada tahun 1334 Masehi tercatat sebagai salah satu bencana alam paling mengerikan dalam sejarah Jawa kuno. Abu vulkanis menyelimuti hampir seluruh Pulau Jawa. Namun di balik bencana itu, justru lahirlah babak baru dalam sejarah spiritual kerajaan-kerajaan di masa itu, yang memunculkan pembangunan Candi Penataran.
Candi ini diyakini bukan hanya tempat sembahyang, tapi juga menjadi titik penyatuan kekuatan manusia dan alam, antara raja dan dewa, antara bumi dan langit. Legenda mistis seputar kelahiran Dewa Api, kepala dewa yang ditanam di Gunung Kelud, hingga praktik pemujaan Tantra yang kuat, menjadi bagian dari kisah yang terus membuat Candi Penataran diselimuti aura misterius hingga kini.
Baca Juga: Kabupaten Blitar Mulai Bersiap Jalankan Program MBG, Disini Lokasi Dapurnya
Ketika Kepala Dewa Menyulut Letusan Gunung
Kisah ini bermula dari mitologi Jawa kuno yang tertuang dalam kitab Tantu Panggelaran. Dalam legenda itu, Dewa Gana—anak dari Batara Guru—menjalani tapa, hingga diuji oleh Batara Brahma dengan pertanyaan jebakan tentang jumlah kepalanya. Karena terkecoh, Gana menjawab salah, dan hampir binasa. Sang ayah, Batara Guru, segera turun tangan, memotong satu kepala Brahma untuk menyelamatkan putranya.
Namun, kepala yang terpenggal itu menjadi masalah baru. Konon, jika dibuang ke laut, maka laut akan mengering. Jika dilempar ke langit, langit akan terbakar. Solusinya? Ditanam di bumi—tepatnya di tubuh Gunung Kelud. Sejak saat itu, gunung tersebut dipercaya menyimpan energi maha dahsyat dari kepala Dewa Api, dan setiap letusannya adalah amarah surgawi yang meluap ke dunia manusia.
Raja-Raja Jawa Berusaha Menjinakkan Kelud
Letusan dahsyat Gunung Kelud bukan hanya menyisakan abu, tapi juga rasa takut. Raja Kertajaya dari Kerajaan Kediri konon menjadi penguasa pertama yang mencoba menenangkan sang gunung dengan cara spiritual. Ia disebut-sebut sangat terkesan dengan seorang pendeta bernama Empu Iswara yang mampu ‘meredam’ letusan lewat ritual dan doa di lereng gunung. Lokasi tempat pertapaan Empu Iswara, yakni Desa Palah, kemudian disucikan dan dibebaskan dari pajak.
Baca Juga: Kabupaten Blitar Mulai Bersiap Jalankan Program MBG, Disini Lokasi Dapurnya
Dari sinilah pembangunan awal Candi Penataran bermula. Kompleks candi ini terus diperluas, bukan hanya oleh Kertajaya, tapi juga oleh para penguasa setelahnya dari Kerajaan Singasari dan Majapahit. Bahkan, lima raja tercatat turut membangun bagian-bagian candi, membuatnya dikenal sebagai "candi negara" yang bukan hanya simbol religius, tapi juga alat diplomasi spiritual.
Dari Tempat Sembahyang Jadi Sarang Naga Mistis
Yang membuat Candi Penataran unik bukan hanya karena arsitekturnya yang besar dan terbuka, tapi juga karena penuh dengan ukiran naga di hampir seluruh bangunannya. Relief naga ditemukan di pendopo, di candi naga, bahkan di puncak-puncak tangga yang dianggap sebagai jalur menuju dunia dewa.
Menurut beberapa arkeolog dan sejarawan, relief ini menggambarkan kisah Samudra Mantana, versi lokal yang tidak menyertakan tokoh Asura seperti dalam versi India. Dalam mitos ini, naga digunakan oleh para dewa dan pendeta untuk mengaduk samudra, demi memperoleh amerta (air keabadian). Kehadiran relief sembilan manusia menyangga naga dipercaya sebagai simbol bahwa para pendeta telah mencapai derajat kedewaan—sebuah gambaran kuat dari ajaran Tantra.
Baca Juga: Di Desa Suru, Heru Tjahjono Ajak Warga 'Mangayubagyo' Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis
Tempat Sang Raja Menyatu dengan Dewa
Candi Penataran juga menjadi tempat penting bagi dua tokoh besar: Raja Kertajaya dan Hayam Wuruk. Keduanya disebut mencapai penyatuan dengan Batara Girinata—penguasa puncak Gunung Mahameru yang identik dengan Dewa Siwa. Jika Batara Girinata adalah penguasa alam raya (makrokosmos), maka raja adalah bayangannya di dunia (mikrokosmos). Inilah akar dari konsep Dewa Raja.
Bedanya, Hayam Wuruk tetap rendah hati dan memimpin Majapahit menuju kejayaan. Sedangkan Kertajaya, konon menjadi takabur dan menuntut disembah sebagai dewa oleh para agamawan. Penolakan itulah yang membuka jalan bagi Ken Arok untuk menggulingkannya—sama-sama mengklaim sebagai Batara Girinata. Sebuah kisah tragis yang menyatukan spiritualitas, politik, dan ego dalam satu garis nasib.
Misteri yang Masih Tersisa
Meski telah diteliti selama ratusan tahun, banyak misteri di Candi Penataran yang belum terpecahkan. Mulai dari bentuk asli atap candi induk yang hilang, arca-arca yang belum teridentifikasi, hingga fungsi menhir dan miniatur yang ditemukan di kawasan candi. Beberapa arca diyakini sebagai representasi Rama Parasu, awatara Wisnu yang memegang kapak, namun belum ada kesimpulan tunggal.
Kini, meski Gunung Kelud masih aktif dan telah beberapa kali meletus di era modern, Candi Penataran tetap berdiri kokoh. Tak hanya sebagai objek wisata sejarah, tapi juga sebagai saksi bisu hubungan panjang antara manusia Jawa, alam, dan keyakinan spiritualnya.
Editor : Anggi Septian A.P.