BLITAR – Candi Penataran di Blitar, Jawa Timur, tak hanya dikenal sebagai situs peninggalan sejarah megah dari era Majapahit. Di balik relief dan arsitekturnya yang penuh simbol, candi ini dipercaya menjadi tempat bermeditasi para Raja Majapahit—untuk menyatu dengan energi spiritual semesta.
Berlatar Gunung Kelud yang meletus dahsyat pada abad ke-14, Candi Penataran dibangun sebagai pusat ritual yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga spiritual. Kompleks ini disebut sebagai “jantung batin” kerajaan Majapahit, tempat para raja memohon kekuatan ilahiah dan pencerahan batiniah.
Di sinilah konsep Dewa Raja atau raja sebagai perwujudan dewa diwujudkan secara nyata. Melalui praktik Tantra dan simbol naga yang membelit berbagai bangunan, para raja diyakini terhubung dengan energi kundalini, kekuatan spiritual yang digambarkan sebagai ular naga yang melilit naik dari dasar tubuh ke puncak kesadaran.
Baca Juga: Penggemar Anime One Piece di Blitar Bereaksi usai Ramai Penertiban Bendera Berlebihan
Ritual dan Relief Penuh Makna
Candi Penataran bukan sekadar bangunan batu. Di setiap sisinya terpahat relief yang kaya akan simbol spiritual. Mulai dari cerita Ramayana dan Krishnayana, hingga figur ular naga bersayap yang dipercaya melambangkan energi kundalini—kekuatan dalam diri manusia yang jika dibangkitkan akan membawa pada penyatuan dengan semesta.
Ciri khas Tantra juga sangat terasa dalam arsitektur candi. Misalnya, arca-arca Bhairawa yang berdiri di atas tengkorak (patmasana), simbol dari pemutusan ego dan keterikatan duniawi. Candi ini menjadi tempat di mana raja bukan sekadar beribadah, tapi juga “menyatu” dengan Sang Dewa, dalam hal ini Batara Girinata—manifestasi Siwa, penguasa puncak Gunung Mahameru dan gunung-gunung lain, termasuk Gunung Kelud.
Menurut narasi sejarah dan mitologi, Raja Hayam Wuruk sering bersemedi di Candi Penataran. Tujuannya bukan hanya sebagai penguasa duniawi, tapi juga mencapai tingkatan spiritual tertinggi sebagai bayangan dari Batara Girinata. Dalam kosmologi Jawa, hubungan antara mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam) menjadi kunci keharmonisan.
Baca Juga: Kabupaten Blitar Mulai Bersiap Jalankan Program MBG, Disini Lokasi Dapurnya
Simbolisasi Penyatuan Raja dan Dewa
Puncak penyatuan antara raja dan dewa terjadi lewat ritual dan meditasi di mandala paling suci dalam kompleks Candi Penataran. Di area Swarloka, terdapat candi utama bertingkat tiga dengan relief naga dan singa bersayap yang disinyalir merupakan representasi dari energi spiritual yang membimbing proses penyatuan tersebut.
Raja dianggap sebagai pengejawantahan dewa bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam pengalaman batin. Relief naga—yang identik dengan kundalini—tidak hanya melingkar di candi naga, tapi juga membelit hampir seluruh bangunan penting, termasuk tangga naik ke candi induk. Ini dianggap sebagai simbol perjalanan spiritual menuju pencerahan.
Tak hanya Hayam Wuruk, bahkan Raja Kertajaya dari Kediri yang lebih dulu memanfaatkan lokasi ini untuk ritual spiritual. Ia disebutkan setiap hari beribadah di candi ini. Namun, perbedaan besar terjadi dalam hasil akhir. Jika Hayam Wuruk menjadi agung dan membawa Majapahit ke masa keemasan, Kertajaya justru terjebak dalam ego spiritual hingga menuntut disembah—dan akhirnya ditumbangkan oleh Ken Arok.
Baca Juga: Di Desa Suru, Heru Tjahjono Ajak Warga 'Mangayubagyo' Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis
Tantra, Arca, dan Aura Mistis
Yang menarik, di depan Candi Angka Tahun, terdapat dua arca misterius: seorang pria memegang kapak dan aksamala, serta seorang perempuan memegang padi dan mala. Arkeolog menduga arca tersebut mewakili Rama Parasu—awatara Wisnu yang memusnahkan kesatria demi menyeimbangkan dunia. Posisi arca yang seolah “menjaga” pintu masuk, memperkuat nuansa spiritual sekaligus pengayoman terhadap dunia fana.
Aura mistis juga terasa dari banyaknya simbol Tantra yang mengindikasikan praktik yoga, meditasi, dan pembangkitan energi dalam. Bahkan beberapa peneliti menyebut Candi Penataran sebagai “padepokan spiritual” alih-alih hanya tempat ibadah.
Uniknya, relief-relief di bagian atas teras candi utama dipahat secara prasawya atau berlawanan arah jarum jam—teknik ini dalam kepercayaan Hindu-Buddha sering dipakai dalam ritual pemurnian batin. Ini menunjukkan bahwa arsitektur candi tidak hanya dibangun dengan teknik fisik, tapi juga pertimbangan filosofi spiritual yang mendalam.
Baca Juga: Heru Tjahjono Dorong Generasi Sehat Lewat Sosialisasi Program MBG di Sumberjo
Jantung Batin Majapahit
Sejarawan menyebut jika Trowulan adalah pusat politik, maka Candi Penataran adalah pusat spiritual dari kerajaan Majapahit. Dengan luas kompleks yang mencakup tiga mandala—profan, madya, dan utama—candi ini menjadi tempat ideal untuk praktik penyatuan diri dengan kekuatan ilahiah.
Konsep kundalini yang kini sering dikaitkan dengan ajaran yoga modern ternyata sudah dikenal dan dipraktikkan di tanah Jawa sejak abad ke-13. Simbol-simbol naga, relief Tantra, arca Bhairawa, serta arsitektur bertingkat menjadi bukti bahwa Candi Penataran adalah saksi sejarah spiritualisme tingkat tinggi dari para penguasa Nusantara.
Penutup
Kini, meski Candi Penataran hanya menjadi objek wisata dan penelitian, warisan spiritual yang terkandung di dalamnya masih menggema. Ia bukan sekadar situs bersejarah, tapi juga menjadi pengingat bahwa kebesaran seorang raja sejati bukan hanya dari takhta, melainkan dari kesadaran diri dan penyatuannya dengan alam semesta.
Editor : Anggi Septian A.P.