Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kenapa Candi Penataran Penuh Arca Naga? Ini Teori Gila Sejarawan

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Kamis, 7 Agustus 2025 | 21:30 WIB
Ada yang berbeda dari Candi Penataran dibandingkan candi-candi lain di Indonesia. Bukan hanya karena ukurannya yang megah atau reliefnya yang detail. Tapi karena satu hal yang mencolok secara visual:
Ada yang berbeda dari Candi Penataran dibandingkan candi-candi lain di Indonesia. Bukan hanya karena ukurannya yang megah atau reliefnya yang detail. Tapi karena satu hal yang mencolok secara visual:

BLITAR - Ada yang berbeda dari Candi Penataran dibandingkan candi-candi lain di Indonesia. Bukan hanya karena ukurannya yang megah atau reliefnya yang detail. Tapi karena satu hal yang mencolok secara visual: arca naga ada di mana-mana.

Hampir semua bagian candi dihiasi relief atau patung naga: dari gerbang, tangga, dinding candi, hingga bangunan utama. Tak heran, kompleks ini dijuluki “sarang naga” oleh banyak peneliti dan wisatawan. Tapi apa sebenarnya maksud dari simbol naga ini? Apakah sekadar hiasan, atau ada makna yang lebih dalam?

Para sejarawan dan arkeolog punya berbagai teori, dari yang ilmiah sampai yang terdengar “gila”. Mulai dari mitologi Hindu, ajaran Tantra, hingga kisah Samudra Mantana versi Jawa yang memicu perdebatan panjang soal makna naga dalam ikonografi Candi Penataran.

Baca Juga: Gegara Guyon Bendera One Piece, Bakesbangpol Kabupaten Blitar Panggil Kades

Naga, Energi, dan Mitologi Samudra Mantana

Dalam ikonografi Hindu dan Buddha, naga seringkali melambangkan kekuatan alam, pelindung air, dan energi bawah sadar manusia. Tapi di Candi Penataran, keberadaan arca naga sangat dominan—tidak hanya satu atau dua, tapi puluhan. Relief naga ini terlihat membelit bangunan, menaungi manusia, bahkan menyelimuti tubuh candi secara utuh.

Salah satu teori paling mencengangkan datang dari penafsiran terhadap kisah Samudra Mantana—cerita klasik Hindu tentang upaya para dewa dan asura (raksasa) mengaduk samudra menggunakan Gunung Mandara sebagai alat aduk dan naga Basuki sebagai talinya. Tujuannya: memperoleh air kehidupan (amerta).

Namun, versi lokal kisah ini yang diyakini tertuang dalam relief Candi Penataran berbeda. Tidak ada Asura. Hanya ada sembilan figur manusia berseragam pendeta yang menyangga tubuh naga besar. Beberapa sejarawan percaya ini adalah versi lokal dari Samudra Mantana, yang menampilkan naga sebagai kekuatan kosmis yang dikendalikan sepenuhnya oleh para dewa dan pendeta.

Baca Juga: Penggemar Anime One Piece di Blitar Bereaksi usai Ramai Penertiban Bendera Berlebihan

Pro-Kontra Sejarawan Soal Arca Naga

Tak semua peneliti sepakat bahwa relief tersebut merepresentasikan Samudra Mantana. Beberapa arkeolog menilai, ketidakhadiran Asura mengubah konteks cerita dan mungkin menjadikan naga di sini sebagai lambang dari energi kundalini, atau kekuatan spiritual yang bangkit dari dasar tubuh ke kepala—simbol utama dalam ajaran Tantra.

Pendapat ini diperkuat dengan keberadaan banyak simbol Tantra lain di Candi Penataran: arca Bhairawa, bentuk bangunan bertingkat (mandala), dan arah baca relief yang prasawya (berlawanan jarum jam), sebagaimana arah ritual pembersihan dalam Tantra.

Sementara itu, pendapat minor lain menyebut bahwa naga-naga ini melambangkan penguasa spiritual. Figur manusia yang membelitkan naga dianggap sebagai perwujudan raja atau pendeta yang telah mencapai kedewaan—menyatu dengan naga sebagai simbol kekuatan alam semesta.

 

Baca Juga: Kabupaten Blitar Mulai Bersiap Jalankan Program MBG, Disini Lokasi Dapurnya

Naga Bukan Sekadar Dekorasi

Di banyak budaya, naga biasanya diasosiasikan dengan kekuatan destruktif. Tapi tidak di sini. Dalam konteks Candi Penataran, naga justru diasosiasikan sebagai penjaga kesucian, pengantar menuju spiritualitas yang lebih tinggi.

Misalnya, Candi Naga—bangunan unik yang seluruh dindingnya dililit naga besar—diyakini sebagai tempat penyimpanan alat upacara. Naga di sini bukan makhluk yang menakutkan, tapi penjaga yang sakral. Begitu pula dengan relief naga bersayap di teras tertinggi candi induk, yang digambarkan seperti malaikat dengan aura pelindung.

Beberapa pengkaji bahkan berani menyebut Candi Penataran sebagai puncak integrasi antara Tantra, Hindu Jawa, dan simbolisme lokal. Dalam bangunan ini, naga adalah benang merah yang menyatukan ketiganya, menjadi jembatan antara bumi dan langit, manusia dan dewa.

Baca Juga: Di Desa Suru, Heru Tjahjono Ajak Warga 'Mangayubagyo' Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis

Asal-Usul Spiritualitas Naga Jawa

Pertanyaan selanjutnya: kenapa simbol naga begitu dominan di Jawa, khususnya di Candi Penataran? Jawabannya mungkin berkaitan dengan kearifan lokal dan pengaruh Tiongkok kuno. Budaya naga di Jawa bukanlah adopsi murni dari India, melainkan hasil akulturasi panjang yang juga menyerap unsur naga dari budaya Asia Timur dan mitologi lokal.

Naga dalam kepercayaan Jawa sering dianggap sebagai penjaga gunung, penguasa sungai, atau roh leluhur. Dalam konteks Gunung Kelud yang letusannya berkali-kali mengancam wilayah Blitar, naga bisa dipahami sebagai simbol kekuatan alam yang harus dijinakkan secara spiritual.

Di sinilah makna arca naga di Candi Penataran menjadi sangat dalam: bukan sekadar relief, tapi bagian dari upaya masyarakat Jawa kuno menjinakkan dan menyelaraskan diri dengan alam.

Baca Juga: Heru Tjahjono Dorong Generasi Sehat Lewat Sosialisasi Program MBG di Sumberjo

Penutup: Teori Gila atau Simbol Agung?

Entah mana teori yang benar, satu hal pasti: keberadaan naga di Candi Penataran bukanlah kebetulan artistik. Ia adalah bagian dari narasi besar yang melibatkan ajaran spiritual, simbol energi, dan kesadaran akan hubungan manusia dengan alam.

Apakah relief itu menggambarkan versi Jawa dari Samudra Mantana? Atau simbolisasi kundalini ala Tantra? Atau bahkan keduanya yang sengaja dikombinasikan dalam narasi lokal?

Yang jelas, arca naga di Candi Penataran akan terus memancing rasa penasaran, debat ilmiah, dan mungkin juga pengalaman spiritual mendalam bagi siapa pun yang mencoba memahaminya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #candi penataran blitar