Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dulu Bebas Pajak, Kini Dikeramatkan: Desa Palah Tempat Candi Penataran Berdiri

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Kamis, 7 Agustus 2025 | 21:00 WIB

Tak banyak yang tahu bahwa di balik megahnya Candi Penataran, ada sebuah desa kecil yang dulunya begitu istimewa: Palah. Desa ini bukan hanya lokasi berdirinya kompleks candi terbesar di Jawa Timur
Tak banyak yang tahu bahwa di balik megahnya Candi Penataran, ada sebuah desa kecil yang dulunya begitu istimewa: Palah. Desa ini bukan hanya lokasi berdirinya kompleks candi terbesar di Jawa Timur

BLITAR – Tak banyak yang tahu bahwa di balik megahnya Candi Penataran, ada sebuah desa kecil yang dulunya begitu istimewa: Palah. Desa ini bukan hanya lokasi berdirinya kompleks candi terbesar di Jawa Timur, tapi juga dipercaya sebagai tempat sakral yang pernah bebas pajak karena berjasa “menjinakkan” Gunung Kelud yang meletus berkali-kali.

Ya, Palah bukan sembarang kampung. Menurut prasasti dan kisah tutur, wilayah ini pernah diberi keistimewaan oleh raja-raja Jawa karena dianggap sebagai pusat spiritual yang mampu meredam murka alam. Pusat ketenangan itu tak lain adalah Candi Penataran, yang dahulu digunakan sebagai tempat ritual keagamaan untuk menenangkan Gunung Kelud.

Kini, Palah bukan lagi tempat bebas pajak. Tapi status keramatnya tak pernah pudar. Bahkan makin kuat—dianggap sakral oleh masyarakat dan dikeramatkan sebagai situs sejarah, budaya, dan spiritual sekaligus.

Baca Juga: BPBD Kota Blitar Mulai Waspada Kekeringan, Tunggu Laporan Masyarakat Kesulitan Air

Dari Bencana ke Kepercayaan: Letusan Kelud Jadi Titik Balik

Letusan Gunung Kelud yang dahsyat sejak abad ke-10 telah menjadi momok bagi wilayah Blitar dan sekitarnya. Tapi justru dari rangkaian bencana inilah, Palah naik pamor sebagai pusat ritual penetral bencana. Konon, seorang resi bernama Empu Iswara menerima wahyu dan membangun tempat suci untuk memohon keselamatan dari kemurkaan Gunung Kelud.

Candi Penataran yang berdiri di Palah bukanlah candi pemujaan dewa semata, tapi dianggap sebagai “panembahan” terhadap kekuatan alam. Relief-relief yang ada di dinding candi juga tak hanya berkisah tentang dewa, tapi juga tentang Gunung Mandara, simbol gunung sebagai pusat energi, sekaligus perlambang dari Gunung Kelud itu sendiri.

Pengaruhnya begitu besar, hingga pada masa Raja Airlangga dan kemudian Raja Hayam Wuruk, wilayah Palah disebut dalam prasasti sebagai tanah bebas pajak. Alasannya? Karena para pendetanya dianggap menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Baca Juga: Gegara Guyon Bendera One Piece, Bakesbangpol Kabupaten Blitar Panggil Kades

Palah dalam Prasasti dan Ingatan Kolektif

Nama Palah muncul dalam berbagai catatan kuno, salah satunya dalam Prasasti Palah yang bertarikh 1197 Masehi. Dalam prasasti itu, Palah ditetapkan sebagai “tanah suci” karena dianggap berjasa menjaga ketenteraman kerajaan lewat aktivitas spiritual di Candi Penataran.

Tak cuma itu, warga sekitar juga mewarisi banyak cerita lisan tentang tempat ini. Salah satu yang paling populer adalah kisah tentang “air kawah Kelud yang bisa reda karena doa Empu Iswara” di Palah. Masyarakat percaya bahwa tempat ini menyimpan energi spiritual yang mampu menenangkan gejolak bumi.

Itulah mengapa hingga sekarang, tak jarang warga Blitar melakukan ziarah atau ngalap berkah di area Candi Penataran, terutama pada malam Jumat Kliwon atau saat bulan Sura tiba.

Baca Juga: Penggemar Anime One Piece di Blitar Bereaksi usai Ramai Penertiban Bendera Berlebihan

Candi Penataran: Simbol Keseimbangan Alam dan Spiritual

Sebagai tempat utama di Palah, Candi Penataran memang unik. Dibangun selama tiga dinasti besar—Kadiri, Singhasari, dan Majapahit—candi ini dirancang bukan hanya untuk upacara keagamaan, tapi juga ritual keraton dan penetralan bencana. Bahkan beberapa reliefnya menggambarkan ritual pemujaan terhadap gunung dan dewa api.

Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat Jawa kuno memiliki konsep spiritual yang sangat kuat terhadap alam. Gunung tidak sekadar objek geologis, tapi dianggap makhluk hidup yang harus dihormati. Dan Palah menjadi episentrum dari keyakinan tersebut.

Simbol naga, api, dan gunung dalam candi adalah bentuk visualisasi dari kekuatan alam yang disakralkan. Ini memperkuat posisi Candi Penataran bukan sebagai tempat wisata biasa, tapi pusat energi spiritual yang dihormati hingga kini.

Baca Juga: Kabupaten Blitar Mulai Bersiap Jalankan Program MBG, Disini Lokasi Dapurnya

Dari Desa Bebas Pajak ke Warisan Budaya Nasional

Saat ini, Palah memang sudah menjadi desa biasa dalam sistem administratif. Tapi nilai sejarah dan spiritualnya membuat tempat ini jauh dari biasa. Ia kini menjadi ikon sejarah Blitar, situs warisan budaya nasional, sekaligus tempat ziarah budaya.

Banyak akademisi, budayawan, bahkan komunitas spiritual lokal dan nasional yang menaruh perhatian besar terhadap Palah dan Candi Penataran. Upaya pelestarian pun terus digencarkan, baik dari pemerintah daerah, arkeolog, maupun warga yang menyadari bahwa tanah kelahiran mereka menyimpan energi leluhur yang tak ternilai.

Sementara di sisi lain, wisata edukasi dan spiritual mulai berkembang. Palah tak sekadar dilihat sebagai desa sejarah, tapi juga ruang kontemplasi dan penyambung ingatan akan hubungan manusia dengan alam.

Baca Juga: Di Desa Suru, Heru Tjahjono Ajak Warga 'Mangayubagyo' Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis

Penutup: Palah, Di Mana Doa dan Bumi Bertemu

Desa Palah, tempat berdirinya Candi Penataran, adalah contoh nyata bagaimana masyarakat Jawa memaknai bencana sebagai bagian dari keseimbangan alam yang harus dijaga secara spiritual. Dari letusan Gunung Kelud yang mematikan, lahir sebuah tempat yang dikeramatkan, dihormati, dan dikenang hingga hari ini.

Dulu bebas pajak karena jasanya bagi kerajaan. Kini dihormati karena warisan spiritual dan sejarahnya. Palah bukan sekadar tempat, melainkan jembatan antara manusia, sejarah, dan alam.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #candi penataran blitar