BLITAR – Dalam sejarah Jawa, tak sedikit raja yang mengklaim dirinya sebagai titisan dewa. Tapi tak semua berakhir dengan kejayaan. Dua nama besar yang sering dibandingkan adalah Raja Hayam Wuruk dari Majapahit dan Raja Kertajaya dari Kerajaan Kediri. Sama-sama memakai gelar Dewa-Raja, tapi arah sejarah membuktikan bahwa nasib keduanya jauh berbeda.
Candi Penataran, yang berdiri gagah di Blitar, jadi saksi bisu kisah dua penguasa besar ini. Tempat suci yang menyatukan kepercayaan, kekuasaan, dan spiritualitas ini pernah digunakan baik oleh Kertajaya maupun Hayam Wuruk. Ironisnya, meski menempati situs yang sama, hasil akhir dari kepemimpinan mereka bertolak belakang.
Gunung Kelud—simbol amarah alam dalam kepercayaan Jawa—ikut hadir dalam narasi keduanya. Tapi hanya satu yang mampu menyelaraskan kekuatan spiritual, rakyat, dan alam: Hayam Wuruk. Sementara Kertajaya justru tumbang karena dianggap menyinggung kekuatan yang lebih tinggi dari dirinya.
Baca Juga: Susilo, Sang Juru Kunci Candi Simping: Menjaga Warisan Majapahit Seorang Diri
Kertajaya: Raja yang Mengaku Dewa, Tapi Diusir Pendeta
Pada awal abad ke-13, Raja Kertajaya dari Kadiri mengangkat dirinya sebagai Bhatara atau dewa yang harus disembah rakyat, termasuk oleh kaum brahmana dan pendeta. Ia menuntut penghormatan bak makhluk suci, dan mencampuri urusan keagamaan secara otoriter.
Langkah ini justru jadi bumerang. Para pendeta merasa dilecehkan dan lari ke Tumapel, meminta perlindungan pada Ken Arok, penguasa baru yang kemudian mengalahkan Kertajaya. Dari sinilah lahir Kerajaan Singhasari, lalu berkembang jadi Majapahit.
Nama Kertajaya pun dikenang sebagai raja yang jatuh karena kesombongannya—seorang “dewa” yang lupa batas, dan kalah oleh restu rakyat serta para resi.
Baca Juga: 5 Ribu Lebih Warga Kabupaten Blitar Jalani Tes Hepatitis B, Ini Hasilnya
Hayam Wuruk: Raja Dewa yang Membumi
Bandingkan dengan Raja Hayam Wuruk, yang juga dianggap titisan dewa oleh rakyat Majapahit. Bedanya, Hayam Wuruk merangkul para spiritualis, membangun sistem yang menghormati rakyat, adat, dan agama. Ia dikenal sebagai penguasa cerdas yang menjadikan spiritualitas bukan sebagai alat kekuasaan, tapi sebagai penyeimbang alam dan pemerintahan.
Salah satu buktinya adalah perjalanan suci Hayam Wuruk ke Candi Penataran, yang dicatat dalam Kitab Nagarakretagama karangan Mpu Prapanca. Ia melakukan ziarah dan upacara untuk menyatukan harmoni antara kerajaan dan kekuatan alam, terutama Gunung Kelud yang terkenal meletus dahsyat.
Ziarah itu bukan sekadar simbol, tapi strategi politik spiritual untuk meneguhkan legitimasi kekuasaan, tanpa menginjak keyakinan rakyat.
Baca Juga: BPBD Kota Blitar Mulai Waspada Kekeringan, Tunggu Laporan Masyarakat Kesulitan Air
Candi Penataran: Tempat Bertemunya Dua Takdir
Candi Penataran berdiri sejak masa Raja Kertajaya, lalu diperluas di masa Singhasari dan Majapahit. Situs ini menjadi saksi bagaimana dua raja bertakhta dengan pendekatan spiritual yang sama-sama kuat, tapi dengan niat berbeda.
Kertajaya menjadikan spiritualitas sebagai alat penindasan. Hayam Wuruk menjadikannya sebagai jembatan keharmonisan. Maka tak heran jika nama Hayam Wuruk harum sepanjang masa, sementara Kertajaya menjadi pelajaran akan bahayanya kekuasaan tanpa rasa hormat pada spiritualitas dan rakyat.
Dewa-Raja: Antara Mitos dan Politik
Konsep Dewa-Raja bukan sekadar kepercayaan, tapi juga strategi politik di era kuno. Dengan mengklaim dirinya sebagai titisan dewa, raja menguatkan legitimasi di mata rakyat. Tapi rakyat Jawa terbiasa menyaring makna. Rakyat bisa menghormati, tapi tak akan tunduk pada kesewenang-wenangan.
Baca Juga: Gegara Guyon Bendera One Piece, Bakesbangpol Kabupaten Blitar Panggil Kades
Kisah Hayam Wuruk dan Kertajaya adalah ilustrasi kontras tentang cara memakai mitos untuk memimpin. Ketika mitos dijadikan topeng kesombongan, ia runtuh. Tapi ketika mitos dijadikan alat membangun keseimbangan, ia hidup sepanjang masa.
Pelajaran dari Sejarah: Saat Kekuasaan Bertemu Ego
Bagi pembaca masa kini, perbandingan Hayam Wuruk dan Kertajaya bisa jadi refleksi penting. Keduanya cerdas, kuat, dan dihormati. Tapi yang satu ditakuti, yang satu dikenang dengan cinta. Keduanya mengklaim sebagai dewa, tapi hanya satu yang diterima oleh semesta.
Sejarah membuktikan bahwa niat di balik kekuasaan menentukan hasil akhir. Hayam Wuruk hidup dalam harmoni dan dikenang dalam pujian. Kertajaya tenggelam dalam konflik dan ditumbangkan oleh rakyatnya sendiri.
Dan semua ini tercermin jelas di tempat yang sama: Candi Penataran, dengan Gunung Kelud sebagai saksi diam perubahan zaman.