Strategi Raden Wijaya: Langkah Licik yang Jadi Asal Mula Kabupaten Blitar Terbentuk
Findika Pratama• Jumat, 8 Agustus 2025 | 01:00 WIB
Strategi Raden Wijaya: Langkah Licik yang Jadi Asal Mula Kabupaten Blitar Terbentuk
BLITAR - Nama Kabupaten Blitar tak bisa dilepaskan dari manuver brilian Raden Wijaya dalam menaklukkan dua musuh sekaligus: Jaya Katwang dari Kediri dan pasukan Mongol dari Dinasti Yuan.
Peristiwa ini menjadi babak penting yang tak hanya mengguncang tatanan politik Jawa kala itu, tetapi juga meletakkan dasar berdirinya Kerajaan Majapahit—kerajaan besar yang nantinya akan mempengaruhi wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Blitar.
Kisah ini bermula pada penghujung abad ke-13, saat tanah Jawa berada dalam kekacauan besar. Kerajaan Singhasari runtuh akibat serangan Jaya Katwang, penguasa Kediri yang bangkit melawan.
Di tengah kekacauan, seorang bangsawan muda bernama Raden Wijaya—menantu Kertanegara, raja terakhir Singhasari—berhasil melarikan diri dan menyusun strategi.
Ia menyiapkan diri untuk merebut kembali kekuasaan, yang pada akhirnya berdampak langsung pada terbentuknya kawasan penting seperti Kabupaten Blitar.
Menariknya, ketika Raden Wijaya berjuang untuk bangkit, datanglah pasukan Mongol dari Tiongkok atas perintah Kaisar Kubilai Khan.
Tujuan mereka: menghukum Kertanegara karena menolak tunduk pada Dinasti Yuan. Namun takdir berpihak pada Raden Wijaya. Ia memanfaatkan kedatangan Mongol sebagai alat untuk menghancurkan Jaya Katwang.
Dalam pertempuran besar itu, Jaya Katwang berhasil dikalahkan dan Kediri jatuh. Namun begitu kemenangan dirayakan, Raden Wijaya justru berbalik arah.
Ia menyusun pasukan kecil dan melancarkan serangan mendadak terhadap Mongol yang saat itu tengah lengah. Serangan gerilya ini sukses membuat pasukan asing itu kacau dan akhirnya mundur kembali ke negerinya, mengalami kerugian besar.
Langkah pengkhianatan ini bukan sekadar licik, tapi juga jenius secara strategi. Dengan satu gerakan, Raden Wijaya berhasil membersihkan dua musuh besar sekaligus: penguasa lokal Kediri dan penjajah asing dari daratan Tiongkok.
Kemenangan ini menjadi fondasi berdirinya Majapahit dan awal dari ekspansi wilayah yang kemudian meliputi kawasan selatan Jawa, termasuk yang kini menjadi Kabupaten Blitar.
Setelah pasukan Mongol dipukul mundur, Raden Wijaya menobatkan dirinya sebagai raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Ia sadar, masih banyak wilayah pinggiran yang rawan, terutama di selatan Sungai Brantas.
Daerah ini belum terjamah, dipenuhi hutan lebat, dan diyakini menjadi tempat persembunyian sisa pasukan Tartar yang tercerai-berai. Untuk itu, Raden Wijaya mengutus pengikut setianya, Nila Suwarna, membuka dan mengamankan wilayah tersebut.
Misi Nila Suwarna menjadi kunci pembentukan kawasan Blitar. Konon, nama “Blitar” berasal dari istilah “Bali Tartar” (kembalinya atau mundurnya bangsa Tartar) yang kemudian diserap lidah lokal menjadi Blitar.
Dari sinilah akar historis Kabupaten Blitar terbentuk: dari strategi militer hingga misi babat alas.
Dalam tradisi tutur masyarakat Blitar, kisah ini tetap hidup sebagai memori kolektif. Peran Raden Wijaya dan Nila Suwarna dihormati bukan hanya sebagai tokoh kerajaan, tapi juga sebagai pendiri wilayah yang kini berkembang menjadi Kabupaten Blitar.
Drama Sejarah yang Layak Difilmkan
Kisah aliansi Raden Wijaya dengan pasukan Mongol menawarkan narasi penuh intrik, drama, dan kejutan yang bisa dibandingkan dengan epos sejarah manapun di dunia.
Dibalut taktik militer licik dan keberanian tak terkira, episode ini merupakan titik balik yang membentuk masa depan Majapahit, sekaligus menjadi akar dari pembentukan Kabupaten Blitar.
Narasi ini mengingatkan kita bahwa sejarah bukan sekadar rentetan tanggal dan peristiwa, tetapi juga kisah strategi, kecerdikan, dan keberanian.
Kabupaten Blitar hari ini adalah bukti nyata bagaimana satu keputusan militer pada abad ke-13 bisa membentuk arah sejarah ratusan tahun ke depan.