Nila Suwarna: Pembabat Alas yang Jadi Fondasi Awal Kabupaten Blitar
Findika Pratama• Jumat, 8 Agustus 2025 | 00:30 WIB
Nila Suwarna: Pembabat Alas yang Jadi Fondasi Awal Kabupaten Blitar
BLITAR - Asal-usul Kabupaten Blitar tak bisa dilepaskan dari sosok legendaris bernama Nila Suwarna.
Ia bukan hanya seorang panglima setia Raden Wijaya, pendiri Majapahit, tetapi juga tokoh utama di balik pembukaan wilayah hutan belantara di selatan Sungai Brantas—wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Blitar.
Dikisahkan dalam berbagai sumber tutur dan naskah babad, Nila Suwarna memegang peran penting dalam menjalankan misi strategis kerajaan.
Setelah Majapahit berdiri pasca pengusiran pasukan Mongol, Raden Wijaya menyadari bahwa wilayah selatan masih menyimpan ancaman tersembunyi, mulai dari sisa-sisa pasukan Tartar hingga kelompok liar yang bisa mengganggu kestabilan.
Maka, dipilihlah Nila Suwarna untuk memimpin ekspedisi pembukaan wilayah baru—tugas berat yang akan menjadi fondasi berdirinya Kabupaten Blitar.
Kabupaten Blitar hari ini berdiri di atas hasil kerja keras orang-orang seperti Nila Suwarna. Ia tidak hanya membawa pasukan untuk menaklukkan alam, tetapi juga membawa semangat membangun dan menjaga wilayah strategis di selatan Majapahit.
Dari babat alas hingga menjadi penguasa lokal, peran Nila Suwarna menandai fase awal terbentuknya identitas Blitar.
Setelah Kediri jatuh dan pasukan Mongol diusir, Majapahit berada di persimpangan penting: konsolidasi kekuasaan.
Wilayah pinggiran harus segera diamankan. Salah satunya adalah hutan lebat di selatan Brantas, daerah yang masih liar dan rawan dihuni sisa musuh. Raden Wijaya, dengan visi jauh ke depan, memberikan titah kepada Nila Suwarna: membuka dan menguasai kawasan tersebut.
Misi itu bukan sekadar pembukaan lahan. Itu adalah ekspedisi penuh risiko: menghadapi alam liar, penyakit, binatang buas, dan potensi serangan musuh yang belum menyerah.
Nila Suwarna menerima perintah itu dengan penuh keyakinan. Ia berangkat bersama rombongan pasukan, menyeberangi Brantas, dan mulai membabat hutan yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Blitar.
Pembabatan alas berlangsung berbulan-bulan. Dengan hanya peralatan sederhana dan tekad kuat, mereka menebang pohon, mendirikan pemukiman awal, dan menjelajahi setiap sudut hutan untuk memastikan keamanan.
Legenda menyebut bahwa keberanian dan kesaktian Nila Suwarna menjadi sumber semangat seluruh rombongan.
Salah satu aspek menarik dari kisah ini adalah asal-usul nama Blitar itu sendiri. Konon, setelah pengusiran pasukan utama Tartar dari Kediri dan Tuban, beberapa di antara mereka melarikan diri ke arah selatan.
Hutan lebat yang belum terjamah di kawasan Brantas menjadi tempat persembunyian. Misi Nila Suwarna tidak hanya untuk membuka lahan, tetapi juga membersihkan sisa-sisa kekuatan musuh.
Setelah memastikan tidak ada lagi ancaman tersisa, kabar kemenangan Nila Suwarna tersebar. Istilah “Bali Tartar” atau “kembalinya pasukan Tartar ke negerinya” menjadi buah bibir.
Frasa itu, dalam dialek lokal, disebut-sebut mengalami perubahan lidah menjadi “Balitar” lalu “Blitar”. Nama ini kemudian melekat sebagai identitas wilayah yang berhasil diamankan.
Atas jasanya, Raden Wijaya mengangkat Nila Suwarna sebagai Adipati Ario Blitar I, penguasa pertama wilayah baru tersebut.
Sejak saat itu, kawasan Blitar ditetapkan sebagai kadipaten di bawah naungan Majapahit—menjadi struktur awal yang kemudian berkembang menjadi Kabupaten Blitar seperti yang kita kenal hari ini.
Sang Pendiri, Sang Pengayom
Sebagai adipati pertama, Nila Suwarna tidak hanya dikenal sebagai pembabat alas, tetapi juga sebagai pemimpin yang membangun.
Ia menarik penduduk untuk menetap, mengatur pemerintahan lokal, dan menjaga stabilitas wilayah. Ia menjadi simbol keberanian, loyalitas, dan kerja keras yang diwariskan secara turun-temurun.
Hingga kini, nama Adipati Ario Blitar I masih dihormati oleh masyarakat Kabupaten Blitar. Peringatan Hari Jadi Blitar yang jatuh pada 5 Agustus 1324 Masehi sering dikaitkan dengan momentum pengangkatan dirinya sebagai adipati.
Walaupun versi sejarahnya memiliki banyak narasi berbeda, kisah ini tetap menjadi bagian penting dari identitas lokal yang kuat.
Warisan yang Tak Lekang Zaman
Di balik nama “Blitar” tersimpan kisah tentang hutan lebat yang dijinakkan, pasukan asing yang diusir, dan pengikut setia yang rela mempertaruhkan nyawa demi tanah airnya.
Sosok Nila Suwarna menjadi penanda bagaimana kekuasaan Majapahit tak hanya dibangun lewat perang besar, tapi juga lewat ketekunan orang-orang kecil yang membangun dari pinggiran.
Masyarakat Kabupaten Blitar hari ini mewarisi semangat itu. Dari para petani di lereng Kelud hingga pegiat sejarah lokal, semua membawa semangat perjuangan yang sama: menjadikan tanah ini layak huni, aman, dan bermartabat.
Dan semuanya bermula dari langkah pertama seorang satria: Nila Suwarna, sang pembabat alas.