BLITAR - Gunung Kelud, salah satu gunung berapi aktif di Jawa Timur, tak hanya menyimpan kisah bencana, namun juga harapan baru.
Letusan dahsyat yang terjadi pada 13 Februari 2014 silam, yang menyelimuti kota-kota seperti Kediri, Blitar, dan Malang dengan abu vulkanik tebal, sempat meninggalkan luka mendalam.
Kini, sembilan tahun pasca-erupsi besar itu, Gunung Kelud justru menjelma menjadi destinasi wisata alam dan edukasi yang ramai dikunjungi wisatawan.
Gunung Kelud yang berada di perbatasan Kabupaten Kediri, Blitar, dan Malang ini mengalami perubahan besar pasca-letusan 2014. Kaldera baru terbentuk, dan bekas kubah lava yang dulu menutup kawah kini menyisakan danau biru kehijauan yang memikat.
Dengan kondisi alam yang menantang namun menakjubkan, kawasan ini kini menjadi pusat minat para wisatawan, peneliti, hingga pelajar yang ingin belajar langsung tentang geologi dan sejarah vulkanik Indonesia.
Fenomena ini mengundang perhatian banyak kalangan. Dikutip dari Channel YouTube Legenda Nusantara, narasi visual tentang Gunung Kelud mengajak penonton melihat lebih dekat bagaimana sisa-sisa kehancuran justru dimanfaatkan sebagai potensi wisata yang mengedukasi.
Video tersebut menampilkan lanskap terkini Gunung Kelud yang telah tertata, jalur pendakian yang aman, hingga fasilitas penunjang edukasi seperti museum mini dan papan informasi sejarah letusan.
Letusan Gunung Kelud 2014 dikenal sebagai salah satu yang paling destruktif dalam sejarah gunung tersebut. Dengan letusan vertikal setinggi belasan kilometer dan hujan kerikil yang menghantam wilayah sekitarnya, ribuan warga harus mengungsi.
Namun kini, luka itu perlahan sembuh. Pemerintah daerah bersama masyarakat lokal bahu-membahu memulihkan kawasan tersebut dan mengubahnya menjadi kawasan wisata vulkanik yang menarik.
Para wisatawan yang datang ke Gunung Kelud dapat menikmati panorama kaldera, mendaki jalur eksotis menuju kawah, atau mengamati sisa-sisa erupsi yang masih terlihat jelas di beberapa titik.
Kawasan ini juga dilengkapi dengan gardu pandang, warung lokal, serta akses jalan yang sudah jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu.
“Kelud sekarang nggak cuma soal keindahan alamnya, tapi juga soal pelajaran hidup dari bencana. Di sini kita bisa belajar gimana alam bekerja, dan gimana manusia harus beradaptasi,” ujar salah satu pengunjung yang ditemui tim Legenda Nusantara.
Revitalisasi kawasan Gunung Kelud tak lepas dari peran komunitas lokal dan dukungan pemerintah daerah. Berbagai program telah dijalankan, mulai dari pelatihan pemandu wisata, pembangunan jalur evakuasi, hingga pembentukan desa wisata.
Salah satunya adalah Desa Sugihwaras di Kabupaten Kediri yang kini menjadi pintu masuk utama ke area wisata Gunung Kelud.
Pemerintah Kabupaten Kediri juga membangun museum mini Gunung Kelud yang menampilkan kronologi letusan-letusan besar sejak era kolonial hingga masa kini. Ini menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung, terutama pelajar dan peneliti yang ingin mengenal lebih dalam karakter vulkanik Kelud.
Selain itu, komunitas pecinta alam dan relawan kebencanaan turut berperan dalam menjaga kelestarian dan keselamatan kawasan. Mereka aktif memberikan edukasi tentang mitigasi bencana dan cara aman menikmati alam gunung berapi kepada para pengunjung.
Gunung Kelud kini tak hanya sekadar objek wisata biasa. Ia menjadi simbol ketahanan dan transformasi.
Keindahan kaldera, udara segar pegunungan, serta jejak sejarah letusan membuatnya layak menjadi salah satu destinasi vulkanik unggulan di Jawa Timur. Bahkan, beberapa travel influencer dan videografer alam telah banyak mempromosikan kawasan ini sebagai tempat healing sekaligus belajar.
“Dari luka bencana, lahir kekuatan baru. Gunung Kelud jadi pengingat bahwa kehancuran bisa menjadi awal dari keindahan baru,” demikian narasi penutup dalam video Legenda Nusantara.
Dengan meningkatnya minat wisatawan lokal dan mancanegara, diharapkan kawasan Gunung Kelud bisa terus dikembangkan tanpa melupakan prinsip konservasi dan keselamatan.
Wisata edukasi seperti ini perlu terus digaungkan, agar masyarakat tak hanya menikmati keindahan, tetapi juga memahami risiko dan sejarah yang menyertainya.
Editor : Anggi Septian A.P.