BLITAR – Legenda Dewi Kilisuci tak hanya berbicara soal cinta dan kecantikan. Di balik paras rupawannya, tersimpan kisah penuh intrik yang membuat satu ksatria sakti terkubur hidup-hidup. Semua bermula di sebuah sumur misterius di puncak Gunung Kelud.
Cerita ini dikutip dari penelusuran TVRI Nasional yang memadukan sejarah lisan dan kepercayaan lokal. Sumur tersebut diyakini menjadi saksi siasat licik Dewi Kilisuci terhadap Jatasura. Hingga kini, tempat itu kerap disebut sebagai “sumur kutukan”.
Masyarakat di sekitar Kediri, Blitar, dan Tulungagung meyakini bahwa kisah ini adalah bagian tak terpisahkan dari legenda Gunung Kelud. Bahkan, setiap letusan gunung tersebut sering dikaitkan dengan sumpah dendam Jatasura.
Baca Juga: Terlibat Kasus Dugaan Korupsi DD, Kades di Blitar Ini Harus Diberhentikan Sementara oleh Pemkab
Awalnya, hubungan Dewi Kilisuci dan Jatasura tampak seperti kisah asmara biasa. Jatasura adalah kesatria sakti yang berhasil memenangkan hati sang dewi, mengalahkan rivalnya, Mahesa Sura. Namun, cinta itu ternyata dibalut rencana tersembunyi.
Konon, Dewi Kilisuci mengajukan syarat unik sebelum mau dinikahi. Ia meminta Jatasura membuatkan sumur di puncak Gunung Kelud. Alasannya, sumur itu akan menjadi sumber air untuk rakyat.
Jatasura, yang tengah dilanda cinta, menerima permintaan itu tanpa ragu. Ia bekerja siang malam menggali sumur dengan kekuatan saktinya. Bagi Jatasura, ini adalah bukti kesungguhan hati kepada Dewi Kilisuci.
Namun, ketika sumur hampir selesai, peristiwa mengejutkan terjadi. Dewi Kilisuci menjatuhkan batu besar ke dalam sumur. Batu itu menimpa Jatasura hingga ia terkubur di kedalaman.
Terkurung tanpa jalan keluar, Jatasura mengeluarkan sumpah mengerikan. Ia bersumpah akan membalas dendam kepada Kediri dan wilayah sekitarnya. Dendam itu, menurut masyarakat, menjelma menjadi letusan Gunung Kelud.
Bagi warga lereng gunung, sumur ini bukan sekadar lubang di tanah. Ia adalah simbol pengkhianatan dan tragedi. Setiap kali ada aktivitas vulkanik, kisah ini kembali dihidupkan dalam obrolan dan cerita rakyat.
Baca Juga: Sunset Memukau di Pantai Serang Blitar Jadi Daya Tarik Wisatawan Sekaligus Tempat Nongkrong
Sejumlah budayawan menilai, cerita Dewi Kilisuci dan sumur kutukan memiliki lapisan makna lain. Ada yang melihatnya sebagai alegori politik pada masa kerajaan. Ada pula yang menganggapnya sebagai peringatan agar tidak mudah mempercayai orang, meski dia terlihat sempurna.
Dari sisi sejarah, tidak ada bukti tertulis yang mengonfirmasi keberadaan sumur ini di era Kerajaan Airlangga. Namun, keberadaannya tetap diyakini masyarakat sebagai bagian dari identitas budaya daerah.
Gunung Kelud sendiri termasuk gunung api paling aktif di Indonesia. Letusannya telah terjadi berkali-kali, menimbulkan kerusakan sekaligus menyuburkan tanah. Fenomena alam ini membuat legenda Jatasura terasa “hidup” di setiap generasi.
Beberapa peneliti geologi berpendapat, kisah sumpah Jatasura adalah cara nenek moyang menjelaskan bencana alam sebelum ilmu pengetahuan berkembang. Namun, bagi warga lokal, hubungan antara Dewi Kilisuci, sumur kutukan, dan Gunung Kelud sudah menjadi kebenaran turun-temurun.
Hingga kini, wisatawan yang mendaki Gunung Kelud sering mencari lokasi yang disebut-sebut sebagai sumur kutukan. Meski jalurnya sulit, rasa penasaran membuat banyak orang ingin melihat langsung tempat yang konon menjadi titik awal sumpah dendam.
Legenda ini membuktikan bahwa sebuah cerita bisa bertahan ratusan tahun karena terus diceritakan. Nama Dewi Kilisuci selalu hadir, entah sebagai pahlawan, pengkhianat, atau sekadar simbol kecantikan yang berbahaya.
Bagi sebagian orang, kisah ini adalah peringatan agar berhati-hati dalam mengambil keputusan. Bagi yang lain, ini adalah hiburan penuh misteri yang mewarnai sejarah lisan Jawa Timur. Apa pun versinya, sumur kutukan Gunung Kelud akan selalu memikat rasa ingin tahu.
Editor : Anggi Septian A.P.