Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Blitar: Asal-Usul Nama dari “Bali Tartar” hingga Jadi Kota Bersejarah

Anggi Septiani • Selasa, 12 Agustus 2025 | 13:00 WIB

 

Sejarah Blitar: Asal-Usul Nama dari “Bali Tartar” hingga Jadi Kota Bersejarah
Sejarah Blitar: Asal-Usul Nama dari “Bali Tartar” hingga Jadi Kota Bersejarah

BLITAR – Sejarah Blitar menyimpan kisah unik yang jarang diketahui banyak orang. Salah satunya adalah asal-usul penamaan Blitar yang ternyata berkaitan dengan pasukan Tartar dari Mongolia dan sosok Adipati Aryo Blitar I.

Dalam catatan sejarah Blitar, tokoh sentral yang mengawali berdirinya wilayah ini adalah Nila Suwarna atau Gusti Sudomo. Ia merupakan anak dari Adipati Wilatika Tuban dan orang kepercayaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-15. Saat itu, Blitar masih berupa hamparan hutan lebat di wilayah selatan.

Majapahit menugaskan Nila Suwarna untuk menumpas pasukan Tartar yang bersembunyi di hutan selatan Blitar. Pasukan Tartar ini dianggap mengancam stabilitas kerajaan karena kerap melakukan pemberontakan di berbagai wilayah.

Baca Juga: Terlibat Kasus Dugaan Korupsi DD, Kades di Blitar Ini Harus Diberhentikan Sementara oleh Pemkab

Tugas berat itu diemban Nila Suwarna dengan penuh keberanian. Ia memimpin pasukan Majapahit menelusuri hutan lebat yang belum terjamah manusia. Perlawanan sengit pun terjadi di medan perang yang kini dikenal sebagai wilayah Blitar selatan.

Pertempuran itu berakhir dengan kemenangan pasukan Majapahit. Seluruh pasukan Tartar berhasil diusir dari hutan. Kemenangan ini menjadi catatan penting dalam sejarah Blitar, karena menandai dimulainya pembukaan wilayah tersebut bagi pemukiman dan pemerintahan.

Atas jasa besarnya, Kerajaan Majapahit memberikan hadiah kepada Nila Suwarna berupa hak mengelola hutan selatan. Wilayah ini kelak menjadi pusat kekuasaan baru yang dipimpin langsung oleh dirinya.

Baca Juga: Sunset Memukau di Pantai Serang Blitar Jadi Daya Tarik Wisatawan Sekaligus Tempat Nongkrong

Selain itu, Majapahit juga menganugerahi gelar Adipati Aryo Blitar I kepada Nila Suwarna. Gelar ini menandakan pengakuan resmi kerajaan atas kedudukan dan jasanya dalam menjaga keamanan wilayah.

Nama “Blitar” sendiri berasal dari gabungan kata “Bali” dan “Tartar”. “Bali” berarti kembali atau mengusir, sedangkan “Tartar” merujuk pada pasukan Mongolia yang berhasil dikalahkan. Nama ini dipilih sebagai pengingat keberhasilan Adipati Aryo Blitar I mengusir musuh dari wilayah tersebut.

Sejak itu, Aryo Blitar I mulai memimpin pemerintahan Kadipaten Blitar di bawah naungan Majapahit. Pemerintahannya berjalan dengan baik, membawa kemakmuran bagi rakyatnya. Ia juga menikah dengan Dewi Rayung Bulan dan dikaruniai seorang putra bernama Joko Kandung.

Baca Juga: Peringati HUT ke-80 Kemerdekaan RI, Jurnalis Blitar Raya Gelar Aksi Tanam Pohon di Candi Gambar Wetan

Namun, perjalanan kepemimpinan Aryo Blitar I tidak selalu mulus. Patih Kadipaten Blitar, Ki Sengguh, melakukan pemberontakan dan merebut kekuasaan. Dalam pertempuran, Aryo Blitar I dikabarkan gugur.

Ki Sengguh kemudian mengambil alih gelar Adipati Aryo Blitar II dan berniat menikahi Dewi Rayung Bulan. Kabar kematian ayahnya membuat Joko Kandung murka dan bertekad menuntut balas.

Joko Kandung pun mengobarkan pemberontakan melawan Aryo Blitar II. Pertempuran berlangsung sengit, namun akhirnya Joko Kandung berhasil mengalahkan penguasa tiran tersebut. Meski dianugerahi gelar Adipati Aryo Blitar III, ia menolak secara resmi memegang tahta, walau tetap memimpin rakyatnya.

Baca Juga: Utamakan Kualitas Daripada Kuantitas, Saatnya Berinvestasi Pada Tenaga Pendidik Untuk Melahirkan Generasi Unggul

Seiring berjalannya waktu, Blitar mengalami berbagai perubahan politik. Pada 1723, di masa pemerintahan Kerajaan Kartasura Hadiningrat, Raja Amangkurat menyerahkan Blitar kepada Belanda sebagai hadiah atas bantuan mereka dalam perang saudara.

Penyerahan ini mengakhiri eksistensi Kadipaten Blitar sebagai daerah perdikan. Masa penjajahan Belanda membawa penderitaan bagi rakyat Blitar. Namun, perlawanan rakyat tidak pernah padam.

Pemerintah kolonial Belanda akhirnya menetapkan pembentukan Gemeente Blitar pada 1906. Momen ini kemudian dianggap sebagai hari lahirnya Kota Blitar. Bersamaan dengan itu, sejumlah kota lain di Jawa juga dibentuk, seperti Bandung, Cirebon, Malang, dan Surabaya.

Baca Juga: Hanya 12% Kepala Rumah Tangga Lulusan S1, Apa Dampaknya Bagi Masa Depan Generasi Muda?

Pada 1930, Kota Praja Blitar telah memiliki lambang daerah sendiri bergambar Gunung Kelud dan Candi Penataran. Lambang ini menggambarkan identitas geografis dan sejarah yang melekat pada Blitar.

Masa penjajahan berganti ketika Jepang masuk pada 1942. Di bawah kekuasaan Jepang, Blitar kembali bergejolak. Puncaknya adalah Pemberontakan PETA pada 14 Februari 1945 yang dipimpin oleh Supriadi.

Meski pemberontakan itu hanya berlangsung beberapa jam dan berakhir dengan tertangkapnya sebagian besar pasukan, peristiwa ini menginspirasi perjuangan rakyat Indonesia menuju kemerdekaan.

Baca Juga: Komisi III DPRD Mulai Sidak Progres Proyek Pembangunan Fisik di Kota Blitar, Ini Hasil Temuannya

Pada 17 Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan disambut meriah oleh rakyat Blitar. Mereka mengikrarkan kesetiaan kepada Republik Indonesia. Pemerintah kemudian mengesahkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1945 yang menetapkan perubahan nama menjadi Kota Blitar.

Kini, sejarah Blitar tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga identitas yang melekat kuat pada warganya. Dari kisah perjuangan Aryo Blitar I hingga perlawanan rakyat di masa kolonial, semuanya menjadi bagian penting dari perjalanan panjang kota ini.

Dengan memahami sejarah Blitar, generasi sekarang dapat belajar arti keberanian, pengorbanan, dan persatuan. Nilai-nilai itu yang membuat Blitar tetap dikenang sebagai kota yang lahir dari perjuangan dan kemenangan melawan penindasan.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#dewi kilisuci #sejarah blitar