Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Legenda Gunung Kelud: Pesan Moral Jangan Main-main dengan Perasaan & Alam

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Selasa, 12 Agustus 2025 | 15:30 WIB
Kisah Dewi Kilisuci bukan hanya sekadar cerita rakyat yang menghibur. Legenda ini mengandung pesan moral yang dalam terutama tentang akibat dari mengkhianati perasaan dan mengabaikan keseimbangan alam
Kisah Dewi Kilisuci bukan hanya sekadar cerita rakyat yang menghibur. Legenda ini mengandung pesan moral yang dalam terutama tentang akibat dari mengkhianati perasaan dan mengabaikan keseimbangan alam

BLITAR – Kisah Dewi Kilisuci bukan hanya sekadar cerita rakyat yang menghibur. Legenda ini mengandung pesan moral yang dalam, terutama tentang akibat dari mengkhianati perasaan dan mengabaikan keseimbangan alam. Gunung Kelud menjadi simbol nyata dari peringatan tersebut.

Menurut tayangan TVRI Nasional, Dewi Kilisuci adalah putri jelita yang hidup di masa Kerajaan Airlangga. Kecantikannya membuat banyak kesatria sakti terpikat, termasuk Jatasura dan Mahesa Sura. Persaingan keduanya memicu rangkaian peristiwa tragis.

Bagi masyarakat Kediri, Blitar, dan Tulungagung, kisah ini tidak hanya bicara soal cinta. Ada pelajaran hidup yang diwariskan turun-temurun melalui cerita Dewi Kilisuci dan dendam Jatasura.

Baca Juga: Terlibat Kasus Dugaan Korupsi DD, Kades di Blitar Ini Harus Diberhentikan Sementara oleh Pemkab

Dalam legenda, Dewi Kilisuci awalnya menjadi rebutan dua ksatria sakti. Pertarungan sengit terjadi, namun pada akhirnya Jatasura yang berhasil memenangi hati sang dewi. Kemenangan itu bukan akhir bahagia, melainkan awal tragedi.

Sang dewi memberi syarat unik sebelum pernikahan: Jatasura harus membuat sumur di puncak Gunung Kelud. Tanpa curiga, Jatasura menyanggupi tantangan itu. Ia bekerja keras demi membuktikan cintanya.

Namun, ketika sumur hampir selesai, Dewi Kilisuci menjatuhkan batu besar yang menimpa Jatasura. Tertimbun di dalam sumur, Jatasura mengucap sumpah dendam yang mengutuk Kediri dan sekitarnya.

Baca Juga: Pemkot Blitar Sabet Predikat KLA Kategori Nindya, Wali Kota Mas Ibin: Ini Wujud Komitmen Penuhi Hak Anak

Masyarakat percaya, sumpah itu menjadi penyebab spiritual setiap letusan Gunung Kelud. Fenomena alam itu dipandang sebagai simbol kemarahan yang lahir dari pengkhianatan. Cinta yang dikhianati, dalam legenda ini, bisa menggerakkan alam.

Pesan moralnya jelas: jangan mempermainkan perasaan orang. Tindakan yang terlihat kecil atau licik bisa berdampak besar, bahkan berakibat bencana. Dalam budaya Jawa, menjaga hati orang lain sama pentingnya dengan menjaga alam.

Dari sisi lingkungan, legenda ini juga mengajarkan agar manusia tidak meremehkan kekuatan alam. Gunung Kelud adalah gunung api aktif yang letusannya telah terjadi berkali-kali. Masyarakat lereng gunung selalu diingatkan untuk hidup selaras dengan alam.

Baca Juga: Sunset Memukau di Pantai Serang Blitar Jadi Daya Tarik Wisatawan Sekaligus Tempat Nongkrong

Sejumlah budayawan melihat kisah Dewi Kilisuci sebagai cermin nilai-nilai sosial masa lalu. Kesetiaan, kejujuran, dan tanggung jawab adalah hal yang dijunjung tinggi. Pelanggaran terhadap nilai-nilai itu dianggap bisa mengundang murka, baik dari manusia maupun alam.

Di era modern, legenda ini tetap relevan. Banyak orang memaknainya sebagai pengingat agar tidak serakah dan egois dalam hubungan. Apa pun bentuknya, pengkhianatan selalu membawa konsekuensi.

Gunung Kelud kini menjadi destinasi wisata populer di Jawa Timur. Selain keindahan kawahnya, cerita Dewi Kilisuci menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin merasakan nuansa mistis dan nilai budaya lokal.

Baca Juga: Usai Dapat Informasi dari Masyarakat, Komisi I DPRD Kota Sidak Proyek SMPN 6 Blitar dan SDN Sukorejo 01, Ini Hasilnya

Pemandu wisata sering menceritakan ulang kisah ini dengan berbagai versi. Ada yang menekankan aspek romansa, ada pula yang menyoroti pesan moral dan hubungan manusia dengan alam. Semua versi sepakat bahwa cerita ini layak dijaga.

Bagi masyarakat sekitar, Dewi Kilisuci bukan hanya tokoh legenda, tapi bagian dari identitas. Namanya melekat di ingatan kolektif, mengajarkan bahwa kehidupan harus dijalani dengan hati-hati, menjaga harmoni antara manusia dan alam.

Sejarah mungkin tidak bisa memastikan kebenaran peristiwa ini. Namun, kebenaran dalam legenda seringkali terletak pada pesan yang disampaikannya. Dan pesan dari Gunung Kelud ini akan terus hidup selama cerita Dewi Kilisuci masih diceritakan.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Dewi Kili Suci #sejarah blitar