Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Berjualan Sejak 1975, Pedagang Kerupuk di Blitar Mampu Sekolahkan 4 Anaknya hingga Lulus

Alzena Beuty Metya • Rabu, 13 Agustus 2025 | 02:00 WIB
GIGIH: Yateno dan Nur Aini, penjual kerupuk legendaris asal Desa Sumberingin, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar.
GIGIH: Yateno dan Nur Aini, penjual kerupuk legendaris asal Desa Sumberingin, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar.

 

BLITAR - Di tengah hiruk pikuk Blitar, kerupuk masih tetap eksis di masyarakat. Berjualan kerupuk sejak tahun 1975, hingga saat ini masih di lakoni Yateno warga Desa Sumberingin, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar. Beraneka macam kerupuk di jajakan dengan rasa yang nagih.

Usia yang tak terbilang muda, tidak menghalangi Yateno untuk tetap berjualan kerupuk. Ia telah menjual kerupuk sejak lulus sekolah dasar, karena ingin membantu orang tua.

"Pada 1972 saya lulus SD, karena nggak lanjut sekolah, saya bantu orang tua kerja serabutan. Salah satunya jual kerupuk keliling naik sepeda," ujar pria 67 tahun ini.

Kegigihan Yateno membuahkan hasil manis. Bersama sang istri mencoba produksi kerupuk uyel dan lempeng sendiri.

"Saya buka usaha sendiri pada 1990, waktu itu cuma dua karyawan. Dua tahun berjalan ada 12 karyawan yang ikut membantu produksi," ungkapnya.

Yateno menuturkan, dibalik kesuksesannya memproduksi kerupuk, juga sempat mengalami naik-turun hingga kerugian. Bahkan usahanya sempat gulung tikar, dan terpaksa mengambil kerupuk  dari produsen lain.

Yateno tetap menjual kerupuk mentah dan matang, kerupuk ini diambil dari produsen asal Kediri.

Kini, bukan hanya kerupuk uyel dan lempeng saja, tapi berbagai macam kerupuk, mulai dari kerupuk kedelai, kerupuk rambak, kerupuk koi, dan kerupuk pipa. Harga terjangkau mulai Rp 13 ribu satu plastik kerupuk matang, dan Rp 36 ribu/kg untuk kerupuk mentah.

Keramahan pelayanan dan kerenyahan kerupuk yang mampu dijaga oleh Yateno, membuat pembeli ketagihan.

"Kalau yang matang saya goreng sendiri, karena lebih banyak pelanggan. Pelanggan itu hampir Blitar Raya beli kesini untuk dijual lagi atau di konsumsi sendiri," ujarnya.

Kesabaran dan telaten dalam diri pria 67 tahun ini adalah kunci agar bisa konsisten.

"Kuncinya itu sabar, ikhlas, dan telaten mbak. Saya dan suami bisa menyekolahkan 4 anak saya ya dari jualan kerupuk ini, jadi sampai sekarang anak diajari agar bisa melanjutkan usaha kerupuk," jelas Nur Aini Yanuarsih istri owner kerupuk. (mg4/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Sanankulon #blitar #Nagih #berjualan #pedagang #rasa #anak #kerupuk #sekolahkan