Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Petilasan Pra-Majapahit di Blitar: Rambut Monte dan Kisah Mbah Ronggo Sang Pembabat Pertama

Anggi Septiani • Rabu, 13 Agustus 2025 | 23:40 WIB

Petilasan Pra-Majapahit di Blitar: Rambut Monte dan Kisah Mbah Ronggo Sang Pembabat Pertama
Petilasan Pra-Majapahit di Blitar: Rambut Monte dan Kisah Mbah Ronggo Sang Pembabat Pertama

 

Blitar – Rambut Monte di Kabupaten Blitar bukan hanya dikenal sebagai destinasi wisata alam dan cagar budaya. Situs ini juga menyimpan jejak sejarah yang diyakini berasal dari masa pra-Majapahit, lengkap dengan kisah Mbah Ronggo, tokoh legendaris yang disebut sebagai pembabat alas pertama di kawasan ini.

Berada di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Rambut Monte menjadi perpaduan antara telaga jernih, Candi Rambut Monte, dan sejumlah petilasan bersejarah. Keberadaannya mengundang minat wisatawan, sejarawan, hingga peneliti yang tertarik mengungkap lapisan sejarah di balik pesonanya.

Menurut penuturan warga yang dikutip dari kanal YouTube Sultan Kedeiri, jejak awal kawasan Rambut Monte tidak lepas dari peran Mbah Ronggo, sosok yang diyakini membuka hutan dan menjadikannya tempat hunian pertama.

Warisan Pra-Majapahit yang Masih Bertahan

Rambut Monte dipercaya telah dihuni jauh sebelum Kerajaan Majapahit berdiri. Keberadaan Candi Rambut Monte yang bercorak Hindu menjadi petunjuk penting bahwa kawasan ini sudah memiliki aktivitas keagamaan sejak masa kerajaan-kerajaan awal Jawa Timur.

Bahan batu andesit yang digunakan serta relief sederhana di candi menunjukkan kemungkinan pembangunannya pada masa Kerajaan Kadiri atau Singhasari, yang kemudian berlanjut hingga masa Majapahit.

Telaga di Rambut Monte pun diyakini telah menjadi pusat kehidupan masyarakat sejak era itu, baik sebagai sumber air maupun tempat ritual. Airnya yang jernih tetap mengalir tanpa henti hingga kini.

Mbah Ronggo: Sang Pembabat Alas

Dalam cerita rakyat, Mbah Ronggo adalah sosok sakti yang pertama kali membuka kawasan Rambut Monte dari hutan lebat menjadi pemukiman. Ia dikenal sebagai figur bijak yang menjaga hubungan harmonis dengan alam dan masyarakat.

Mbah Ronggo disebut memiliki kesaktian luar biasa, mampu menenangkan binatang buas, dan memahami tanda-tanda alam. Karena jasa-jasanya, masyarakat setempat menganggapnya sebagai leluhur yang patut dihormati.

Petilasan Mbah Ronggo hingga kini masih dijaga dan menjadi bagian dari situs Rambut Monte. Setiap tahun, warga mengadakan doa bersama di lokasi ini untuk mengenang jasanya.

Candi Rambut Monte: Simbol Keagamaan Masa Lalu

Candi Rambut Monte berdiri kokoh di tepi telaga, menghadap ke arah barat. Struktur ini diperkirakan berfungsi sebagai tempat pemujaan Dewa Wisnu atau Dewa Siwa, sesuai dengan tradisi Hindu pada masa itu.

Letaknya yang berdekatan dengan telaga memperkuat anggapan bahwa lokasi ini adalah pusat kegiatan religius sekaligus sumber kehidupan masyarakat pada zamannya.

Kini, candi tersebut menjadi objek studi sejarah sekaligus daya tarik wisata yang memperkaya pengalaman pengunjung.

Telaga Suci dan Ikan Keramat

Selain candi, telaga Rambut Monte terkenal dengan ikan sengkaring yang diyakini keramat. Warga setempat meyakini ikan ini tidak boleh diambil atau diganggu karena akan membawa kesialan atau gangguan mistis bagi pelanggarnya.

Mitos ini turut menjaga kelestarian ikan dan ekosistem telaga. Air telaga yang berwarna biru kehijauan menjadi salah satu ciri khas yang membuat pengunjung betah berlama-lama.

Kesakralan telaga membuat warga menerapkan aturan ketat bagi wisatawan, termasuk larangan berenang dan memberi makan ikan sembarangan.

Pusat Ritual dan Tradisi Adat

Rambut Monte masih menjadi lokasi penting untuk ritual adat, terutama yang berkaitan dengan keselamatan desa dan pelestarian alam. Upacara biasanya dipimpin sesepuh dan dilakukan di area petilasan maupun telaga.

Tradisi seperti nyadran atau doa bersama di petilasan Mbah Ronggo menjadi momen sakral yang mempererat hubungan warga dengan leluhur mereka.

Upacara ini juga menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah lokal kepada generasi muda agar tidak terputus dari akar budaya.

Daya Tarik Wisata dan Edukasi

Pemerintah Kabupaten Blitar memanfaatkan potensi Rambut Monte sebagai destinasi wisata budaya dan alam. Infrastruktur pendukung terus diperbaiki tanpa menghilangkan nuansa asli dan nilai sakralnya.

Wisatawan yang datang tidak hanya disuguhi keindahan alam, tetapi juga mendapatkan pengetahuan tentang sejarah pra-Majapahit, legenda Mbah Ronggo, dan peran candi dalam kehidupan masyarakat kuno.

Rambut Monte menjadi contoh harmoni antara pelestarian warisan leluhur dengan pengembangan pariwisata modern.

Baca Juga: Siswa di MTsN 7 Blitar Diajak Praktik Berbahasa Inggris Langsung dari Penutur Aslinya, Ini Keseruannya

Warisan yang Terus Dijaga

Legenda Mbah Ronggo dan keberadaan situs pra-Majapahit di Rambut Monte menegaskan bahwa Blitar memiliki kekayaan sejarah yang patut dibanggakan.

Cerita ini menjadi pengikat identitas lokal sekaligus sumber inspirasi untuk menjaga kelestarian alam dan budaya.

Rambut Monte pun akan terus mengalirkan kisahnya, sama seperti sumber airnya yang tak pernah kering sepanjang zaman.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #rambut monte