Blitar– Rambut Monte di Kabupaten Blitar tidak hanya memikat wisatawan dengan pemandangan indah, tetapi juga menyimpan kisah mistis yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah legenda ikan sengkaring, atau yang dikenal sebagai ikan dewa.
Menurut kepercayaan warga setempat, ikan sengkaring yang hidup di telaga Rambut Monte tidak boleh diambil, apalagi dimakan. Konon, siapa pun yang melanggar akan terkena azab atau musibah.
Cerita ini sudah lama menjadi bagian dari identitas Rambut Monte. Mitosnya, ikan tersebut adalah makhluk keramat yang muncul bersamaan dengan berdirinya petilasan bersejarah di kawasan tersebut.
Ikan Keramat Berwujud Unik
Warga menggambarkan ikan sengkaring memiliki ciri khas yang tidak dimiliki ikan air tawar pada umumnya. Bentuk kepalanya ceper, ekornya mengarah ke atas, dan warnanya berbeda dari ikan biasa.
Ikan ini tidak pernah dipanen atau dijadikan konsumsi. Jumlahnya pun terbatas, kadang hanya terlihat satu atau dua ekor dalam setahun.
“Kalau sampai ada yang mengambil, biasanya akan kena balak. Ada yang kesurupan, ada yang jatuh sakit,” kata Mbah Paidi, sesepuh yang sering berada di sekitar telaga, seperti dikutip dari kanal YouTube Sultan Kedeiri.
Kisah Ratu Boko dan Asal Usul Rambut Monte
Legenda menyebutkan, telaga ini terbentuk dari potongan rambut Ratu Boko yang disimpan di lokasi tersebut. Dari tempat itu, muncul sumber mata air yang kini dikenal sebagai Telaga Rambut Monte.
Bersamaan dengan kemunculan sumber air, muncullah ikan sengkaring yang dipercaya sebagai penjaga telaga. Keberadaannya dianggap simbol keseimbangan dan kesakralan tempat ini.
Selain itu, kawasan Rambut Monte juga terkait dengan sejarah pra-Majapahit. Di dekat telaga berdiri Candi Rambut Monte, yang diyakini sebagai bagian dari situs pemujaan pada masa lampau.
Larangan yang Dijaga Ketat
Larangan mengambil ikan sengkaring di Rambut Monte bukan sekadar mitos. Warga setempat menjadikannya aturan tak tertulis yang harus dipatuhi semua pengunjung.
Bahkan, setiap ada orang yang mencoba melanggar, warga akan segera memperingatkan. Cerita tentang orang yang mendapat musibah setelah melanggar larangan ini kerap dijadikan pelajaran.
Menurut kepercayaan, menjaga ikan sengkaring sama artinya menjaga keselamatan kampung dan kelestarian alam sekitar.
Daya Tarik Wisata yang Mistis
Justru karena kisahnya yang mistis, Rambut Monte semakin menarik minat wisatawan. Banyak pengunjung datang untuk melihat langsung ikan sengkaring dan mendengar cerita mitosnya.
Beberapa wisatawan mencoba memotret telaga. Ada yang mengaku mendapatkan hasil foto dengan bayangan misterius, yang diyakini sebagai penampakan penjaga telaga.
Perpaduan antara keindahan alam, sejarah, dan mitos membuat Rambut Monte menjadi destinasi unik yang tidak hanya menawarkan wisata alam, tetapi juga pengalaman spiritual.
Pelestarian Melalui Kepercayaan Lokal
Meskipun cerita azab dan kesurupan terdengar menyeramkan, larangan mengambil ikan sengkaring memberi dampak positif bagi lingkungan. Populasi ikan tetap terjaga, dan ekosistem telaga tetap alami.
Pemerintah daerah bersama masyarakat setempat berupaya menjaga kawasan ini agar tetap lestari. Papan peringatan dipasang, dan petugas atau warga setempat rutin memberikan informasi kepada wisatawan tentang aturan di sini.
Kepercayaan yang diwariskan turun-temurun ini menjadi bentuk kearifan lokal yang membantu pelestarian alam. Mitos ikan sengkaring tidak hanya menjadi cerita, tetapi juga alat edukasi lingkungan.
Harmoni Antara Mitos dan Wisata Modern
Rambut Monte kini menjadi contoh bagaimana mitos dan wisata modern dapat berjalan berdampingan. Wisatawan bisa menikmati panorama alam dan situs sejarah, sambil memahami cerita budaya yang mengiringinya.
Warga setempat tetap memegang teguh tradisi, sementara pengunjung mendapatkan pengalaman unik yang sulit ditemui di tempat lain.
Mitos ikan sengkaring di Rambut Monte adalah warisan cerita rakyat yang terus hidup, menjadi bagian dari identitas budaya Blitar, sekaligus menjaga kelestarian alam untuk generasi mendatang.
Editor : Anggi Septian A.P.