BLITAR – Candi Simping menyimpan misteri besar. Bangunan suci yang dipercaya sebagai tempat pendarmaan Raden Wijaya, pendiri Majapahit, kini hanya menyisakan puing batu berserakan.
Kerusakannya begitu parah hingga mustahil direkonstruksi kembali seperti sedia kala. Tak ada yang bisa memastikan kapan tepatnya candi ini dibangun. Namun, jejak sejarah dan artefak yang ditemukan menunjukkan nilai pentingnya bagi peradaban Nusantara.
Sebagian sejarawan memperkirakan Candi Simping berdiri pada masa Raja Jayanegara, sekitar 12 tahun setelah wafatnya Raden Wijaya. Ada pula yang merujuk angka tahun 1361 Masehi yang terukir di salah satu batu, mengaitkannya dengan masa setelah era Hayam Wuruk.
Baca Juga: Lima Proyek Strategis Milik Pemkot Blitar Belum Masuk Situs Lelang SPSE
Di masa lalu, Candi Simping berdiri megah sebagai simbol penghormatan dan pemujaan leluhur raja-raja Majapahit. Bangunan ini terbuat dari kombinasi bata merah dan batu andesit, material umum pada masa itu. Bata merah digunakan sebagai inti struktur, sedangkan batu andesit menjadi lapisan luar yang memperindah tampilan.
Sayangnya, kombinasi ini juga menjadi titik lemah. Sejak masa Majapahit, kerusakan sudah mulai terlihat. Bahkan, dalam naskah Negarakertagama disebutkan, menara candi ini pernah miring ketika Hayam Wuruk memerintah. Sang raja pun datang langsung untuk melakukan perbaikan.
Tak hanya menjadi situs bersejarah, Candi Simping juga menyimpan artefak bernilai tinggi. Dulu, di lokasi ini ditemukan arca Siwa Wisnu bertangan empat, pahatan kura-kura dan naga yang melambangkan kisah Samudra Manthana, hingga berbagai fragmen Lingga-Yoni dan patung hewan. Sayang, sebagian besar artefak kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta.
Pertanyaan terbesar yang belum terjawab hingga kini adalah: apa penyebab runtuhnya Candi Simping? Apakah akibat bencana alam seperti gempa atau letusan gunung, atau justru faktor manusia yang menyebabkan kerusakan? Sejarawan belum menemukan bukti yang pasti.
Beberapa warga setempat percaya, keruntuhan ini mungkin dipicu oleh kelemahan konstruksi. Perbedaan sifat material bata merah dan batu andesit membuat bangunan rentan terhadap pergeseran tanah dan cuaca ekstrem. Ada pula dugaan bahwa perusakan disengaja pernah terjadi di masa lalu.
Misteri ini semakin menarik karena meskipun runtuh, nilai sakral Candi Simping tidak luntur. Bagi masyarakat Blitar, situs ini tetap dianggap keramat. Bahkan, sumber-sumber lokal menyebut tempat ini sebagai salah satu makam keluarga kerajaan Singasari dan Majapahit.
Lokasi candi yang menghadap ke timur mengisyaratkan penghormatan terhadap matahari terbit, simbol kehidupan dan harapan baru. Seandainya masih utuh, para ahli memperkirakan tinggi Candi Simping bisa mencapai 20 meter, setara dengan kemegahan candi-candi besar lainnya di Jawa Timur.
Kini, yang tersisa hanyalah batu-batu berukir dalam berbagai ukuran, menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu. Meski sebagian sudah tak lagi berada di lokasi aslinya, puing-puing itu tetap menyampaikan pesan sejarah tentang betapa besarnya peradaban Majapahit.
Sejak ditemukan dan diidentifikasi pada 1908, Candi Simping telah menjadi perhatian para peneliti, arkeolog, dan pecinta sejarah. Namun, keterbatasan sumber dan kerusakan yang sudah parah membuat upaya rekonstruksi nyaris mustahil dilakukan.
Baca Juga: Hubungan Eksekutif-Legislatif di Kabupaten Blitar Memburuk, Bupati Blitar Klaim Baik-baik Saja
Meski begitu, para pemerhati sejarah menekankan pentingnya melestarikan situs ini. Tidak hanya sebagai warisan budaya fisik, tetapi juga sebagai simbol identitas bangsa. Seperti pesan yang diwariskan nenek moyang: jika tidak bisa memperbaiki, setidaknya rawat dan jaga agar tetap dikenang.
Candi Simping mengajarkan bahwa sejarah tidak selalu memberi jawaban pasti. Ada kalanya misteri dibiarkan terbuka, mengundang generasi berikutnya untuk mencari kebenaran. Yang jelas, runtuhnya Candi Simping bukanlah akhir cerita. Sebaliknya, ini menjadi awal bagi kesadaran kolektif untuk menghormati masa lalu dan menjaga warisan budaya agar tidak hilang lagi di masa depan.
Editor : Anggi Septian A.P.