BLITAR – Candi Simping, situs bersejarah di Blitar yang menjadi pendarmaan Raden Wijaya, menyimpan rahasia konstruksi yang menarik. Bangunan ini memadukan bata merah dan batu andesit dalam strukturnya.
Perpaduan tersebut membuat Candi Simping tampak kokoh sekaligus anggun di masa lalu. Bata merah digunakan sebagai inti bangunan, sedangkan batu andesit menjadi lapisan luar yang memperindah. Namun, justru kombinasi inilah yang menjadi titik lemah candi sejak berabad-abad lalu.
Sejarawan mencatat, bahkan pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, Candi Simping sudah mengalami kerusakan. Dalam naskah Negarakertagama disebutkan menara candi pernah miring sehingga sang raja datang untuk melakukan perbaikan.
Baca Juga: Lima Proyek Strategis Milik Pemkot Blitar Belum Masuk Situs Lelang SPSE
Perbedaan sifat fisik bata merah dan batu andesit membuat keduanya merespons cuaca dan pergeseran tanah secara berbeda. Bata merah yang terbuat dari lempung lebih mudah menyerap air dan rapuh jika terkena kelembapan berlebihan.
Sementara itu, batu andesit lebih tahan terhadap cuaca, namun berat dan dapat memberi tekanan besar pada struktur bata merah di dalamnya. Akibatnya, dari waktu ke waktu, candi menjadi rentan retak dan runtuh.
Bukti kerentanan ini terlihat dari kondisi Candi Simping saat ditemukan kembali pada 1908. Bangunan sudah dalam keadaan roboh dan berserakan, meninggalkan puing-puing batu berukir yang sulit direkonstruksi.
Meski demikian, puing-puing itu tetap menunjukkan betapa megahnya candi di masa lalu. Ukuran batu yang besar menunjukkan candi ini bisa mencapai tinggi sekitar 20 meter jika masih berdiri utuh.
Candi Simping bukan hanya unggul dalam konstruksi, tetapi juga kaya ornamen. Terdapat pahatan kura-kura, naga, hingga relief kisah Samudra Manthana. Artefak-artefak seperti arca Siwa Wisnu kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta demi pelestarian.
Posisi candi yang menghadap ke timur diyakini melambangkan penghormatan kepada matahari terbit, simbol kehidupan dan awal yang baru. Fungsinya sebagai candi makam keluarga kerajaan Singasari dan Majapahit menambah nilai historisnya.
Kerusakan yang menimpa Candi Simping juga diperkirakan dipicu faktor alam, seperti gempa atau pergeseran tanah. Namun, kelemahan konstruksi tetap menjadi salah satu penyebab yang sulit dihindari.
Masyarakat lokal memandang Candi Simping sebagai situs keramat. Hingga kini, banyak peziarah dan peneliti datang untuk mempelajari sisa-sisa bangunannya sekaligus merenungkan nilai sejarahnya.
Pelestarian situs ini memerlukan perhatian khusus. Konstruksi kuno seperti Candi Simping menjadi pelajaran berharga bagi dunia arsitektur modern, bahwa keindahan harus dibarengi dengan ketahanan material.
Baca Juga: Hubungan Eksekutif-Legislatif di Kabupaten Blitar Memburuk, Bupati Blitar Klaim Baik-baik Saja
Warisan Majapahit ini mengajarkan kita bahwa meski teknologi masa lalu canggih untuk zamannya, setiap bahan memiliki keterbatasan. Tugas generasi kini adalah menjaga agar sisa-sisanya tidak lenyap dimakan waktu.
Candi Simping mungkin tak lagi utuh, namun kisah di balik konstruksinya akan terus hidup. Ia menjadi pengingat bahwa peradaban besar pun bisa runtuh jika tak mampu melawan waktu dan alam.
Editor : Anggi Septian A.P.