BLITAR – Candi Simping di Blitar bukan hanya tumpukan batu berserakan. Situs ini adalah tempat pendarmaan Raden Wijaya, pendiri Majapahit, sekaligus simbol kejayaan masa lalu. Bagi masyarakat setempat, Candi Simping adalah tempat keramat yang sarat nilai sejarah dan spiritual. Meski kini hanya tersisa puing, jejak kejayaannya masih terasa kuat.
Nilai inilah yang menjadikan Candi Simping penting bagi jati diri bangsa Indonesia. Sejak ditemukan kembali pada 1908, Candi Simping telah menjadi perhatian peneliti dan pecinta sejarah. Berdasarkan catatan sejarah, bahkan pada masa Raja Hayam Wuruk, bangunan ini sudah pernah mengalami kerusakan dan perbaikan.
Fungsi Candi Simping sebagai candi makam keluarga kerajaan Singasari dan Majapahit memberi makna lebih dari sekadar bangunan kuno. Ia adalah monumen penghormatan kepada leluhur yang berperan membentuk peradaban Nusantara.
Baca Juga: Lima Proyek Strategis Milik Pemkot Blitar Belum Masuk Situs Lelang SPSE
Posisinya yang menghadap ke timur melambangkan harapan dan kehidupan baru, sejalan dengan tradisi spiritual Jawa. Kini, meski bentuk aslinya sulit direkonstruksi, artefak-artefak penting dari Candi Simping tetap menjadi saksi bisu kejayaannya. Di antaranya arca Siwa Wisnu bertangan empat, pahatan kura-kura dan naga dari kisah Samudra Manthana, serta relief Tirta Parakewa.
Sebagian besar artefak ini kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta demi pelestarian. Namun, keberadaan replika dan dokumentasi di lokasi tetap memberi gambaran tentang kemegahan aslinya.
Candi Simping dibangun dengan kombinasi bata merah sebagai inti struktur dan batu andesit sebagai lapisan luar. Perpaduan ini indah, tetapi juga membuat bangunan rentan terhadap cuaca dan pergeseran tanah.
Kelemahan konstruksi inilah yang diperkirakan menjadi salah satu penyebab keruntuhan. Meski begitu, faktor alam seperti gempa atau letusan gunung juga tidak dapat dikesampingkan.
Bagi masyarakat Blitar, menjaga Candi Simping berarti menjaga warisan leluhur. Pelestarian situs ini bukan hanya tentang mempertahankan fisik bangunan, tetapi juga tentang menjaga ingatan kolektif bangsa.
Pesan moral yang bisa dipetik adalah pentingnya gotong royong dalam merawat peninggalan sejarah. Seperti yang dilakukan Raja Hayam Wuruk di masa lalu, perbaikan dilakukan bukan untuk menyalahkan masa lalu, melainkan untuk melanjutkan warisan yang ada.
Candi Simping mengingatkan bahwa kejayaan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kekuatan ekonomi atau militernya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga sejarah. Identitas bangsa tumbuh dari pemahaman akan akar budayanya sendiri.
Warisan seperti Candi Simping adalah bukti nyata bahwa peradaban besar pernah ada di Nusantara. Menjaganya berarti menjaga jati diri kita sebagai pewaris Majapahit.
Bagi generasi muda, mengunjungi Candi Simping bukan hanya wisata sejarah, tetapi juga pelajaran tentang pentingnya menghormati masa lalu. Meski fisiknya runtuh, nilai dan makna Candi Simping akan terus berdiri tegak sebagai penopang identitas bangsa Indonesia.
Editor : Anggi Septian A.P.