blitarkawentar.jawapos.com – Perjalanan hidup dokter Handoko dari pelosok Bojonegoro hingga membangun Pendopo Hand Asta Sih yang meraih rekor dunia, adalah kisah yang sarat inspirasi. Semua bermula dari tugas mengabdi di Puskesmas Kedewan, daerah terpencil yang kala itu belum tersentuh listrik.
Saat itu, listrik belum masuk, air dipompa manual, dan malam hari hanya ditemani cahaya petromaks. Meski kondisi sulit, dokter Handoko dan istrinya, Yulis, tetap bertahan. Di sanalah benih kecintaan terhadap kayu jati mulai tumbuh. Rumah-rumah joglo warga dengan gebyok khas menjadi inspirasi yang kelak membawanya pada gagasan membangun Pendopo Hand Asta Sih.
Kisah ini bukan hanya tentang membangun pendopo terbesar di dunia, tetapi juga tentang kerja keras, kesabaran, dan kesetiaan pada mimpi. Dari desa yang dikelilingi hutan jati, dokter Handoko membawa pulang pengalaman berharga dan koleksi kayu jati berkualitas tinggi. Semua itu menjadi modal utama berdirinya Pendopo Hand Asta Sih di kemudian hari.
Awal Perjalanan di Kedewan
Dokter Handoko memulai kariernya di Puskesmas Kedewan sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) selama tiga tahun. Kedewan, yang berbatasan dengan Blora dan dikelilingi hutan jati, kala itu terisolasi dari kemajuan. Jalan-jalan curam, sebagian dengan kemiringan hingga 50 derajat, menjadi tantangan sehari-hari.
Meski demikian, ia selalu siap dipanggil kapan saja. Tengah malam pun, jika warga mengetuk pintu meminta bantuan, ia langsung bergerak. Transportasi utama adalah motor Honda Win, yang ia kendarai menembus pegunungan dan medan sulit demi mengobati pasien.
Istrinya, Yulis, yang saat itu baru menikah, ikut mendampingi tanpa mengeluh. Mereka bahkan harus menempuh 30 kilometer keluar dari hutan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Tantangan berat itu tidak mematahkan semangat mereka, justru mempererat ikatan dan menumbuhkan kecintaan terhadap kayu jati.
Benih Cinta pada Kayu Jati
Selama di Bojonegoro, dokter Handoko terpesona dengan rumah kayu warga. Ada yang menggunakan papan jati tebal, ada pula yang memakai kulit kayu jati sebagai dinding untuk rumah sederhana. Kekuatan dan keindahan jati inilah yang membekas di hatinya.
Ketika bertugas, ia sering ditawari warga untuk membeli rumah atau perabot jati bekas. Ia pun mulai mengoleksi lemari, meja, dan bupet dengan kayu jati utuh—beberapa di antaranya masih bertahan dalam kondisi 95% meski sudah hampir 30 tahun.
Pengalaman ini menjadi fondasi penting dalam membangun Pendopo Hand Asta Sih. Ia memahami betul karakter kayu, cara merawatnya, dan bagaimana memadukannya dengan arsitektur Jawa.
Dari Koleksi ke Pendopo Rekor Dunia
Sepulang dari Bojonegoro, dokter Handoko memilih menetap di Blitar. Setiap Minggu, ia dan istri menghabiskan waktu berburu kayu jati di berbagai daerah. Bagi mereka, enam hari kerja penuh kesungguhan harus diimbangi satu hari untuk berlibur dan menekuni hobi.
Suatu ketika, ia mendapatkan rumah joglo tipe limasan dari Desa Dadap Langon. Rumah itu dibongkar, dibawa pulang, dan diperbaiki. Pengalaman membangun kembali rumah joglo ini menjadi salah satu batu loncatan menuju pendopo impian.
Pendopo Hand Asta Sih dibangun dengan pakem arsitektur Jawa. Ia menjelaskan, joglo adalah rumah Jawa, sedangkan pendopo adalah bangunan joglo yang difungsikan untuk umum. Filosofi inilah yang ia pegang, sehingga pendoponya tidak hanya megah secara fisik tetapi juga memiliki makna sosial dan budaya.
Filosofi di Balik Nama “Hand Asta Sih”
Nama Hand Asta Sih bukan sekadar penanda fisik bangunan. “Hand” diambil dari nama Handoko, “Asta” berarti delapan dalam bahasa Jawa yang melambangkan arah mata angin, dan “Sih” berarti kasih. Maknanya, pendopo ini adalah pusat kasih yang terbuka bagi semua orang dari segala penjuru.
Dengan luas dan kemegahan yang tak tertandingi, pendopo ini meraih rekor sebagai pendopo terbesar di dunia. Namun, bagi dokter Handoko, kebanggaan terbesar adalah ketika pendopo ini menjadi tempat berkumpul, berdiskusi, dan menjaga warisan budaya.
Menginspirasi Generasi Muda
Kisah dokter Handoko membuktikan bahwa impian besar bisa tumbuh dari tempat terpencil. Tekad, konsistensi, dan kesabaran mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Dari Puskesmas Kedewan tanpa listrik, ia melangkah hingga ke panggung dunia melalui Pendopo Hand Asta Sih.
“Senin sampai Sabtu kita kerja sungguh-sungguh. Hari Minggu kita dolan sungguh-sungguh,” pesannya. Filosofi sederhana ini menjadi rahasia keseimbangan hidupnya: bekerja keras, menikmati hasil, dan selalu memberi ruang untuk mimpi.
Kini, pendopo ini tidak hanya menjadi ikon Blitar, tetapi juga simbol bahwa warisan budaya Jawa dapat dikemas dengan megah tanpa kehilangan akar tradisinya. Sebuah pelajaran berharga bagi siapa saja yang ingin menggabungkan tradisi dengan visi besar masa depan.
Editor : Anggi Septian A.P.