BLITAR – Pendopo Hand Asta Sih di Blitar bukan sekadar bangunan kayu jati berukuran raksasa, tetapi juga simbol perjalanan hidup penuh inspirasi dari sang pemilik, dr. Handoko. Pendopo ini kini tercatat sebagai salah satu pendopo kayu terbesar di dunia, memadukan keindahan arsitektur tradisional dengan nilai perjuangan hidup yang panjang.
Kisah berdirinya Pendopo Hand Asta Sih berawal dari masa tugas Handoko di Puskesmas Kedewan, Bojonegoro. Saat itu, ia sering mengunjungi rumah-rumah tradisional berbahan kayu jati, joglo, dan gebyok khas Jawa yang membuatnya terpesona. Dari sanalah bibit kecintaan terhadap kayu jati mulai tumbuh.
Pengalaman melihat kemegahan rumah joglo di pedesaan Bojonegoro mendorong Handoko untuk bermimpi membangun sebuah pendopo besar. Impian itu tidak lahir dalam semalam, tetapi dirawat selama puluhan tahun hingga akhirnya mewujud dalam bentuk Pendopo Hand Asta Sih yang kini berdiri megah di tanah kelahirannya.
Terinspirasi dari Rumah Kayu Pedesaan
Bagi Handoko, rumah kayu jati memiliki aura hangat, kokoh, dan penuh makna. Saat bertugas di Kedewan yang kala itu belum teraliri listrik, ia sering berinteraksi dengan warga yang rumahnya dihiasi gebyok berukir indah.
Setiap ukiran, setiap pilar, seolah bercerita tentang sejarah keluarga dan filosofi hidup pemiliknya. Itulah yang membuatnya yakin bahwa kayu jati bukan sekadar bahan bangunan, tetapi bagian dari identitas budaya Jawa.
Pengalaman itu kemudian menjadi pendorong utama untuk membangun pendopo raksasa yang bukan hanya indah, tetapi juga menyimpan cerita perjuangan.
Proses Panjang Menuju Pendopo Rekor Dunia
Pembangunan Pendopo Hand Asta Sih bukan perkara mudah. Handoko harus mencari kayu jati berkualitas tinggi dari berbagai daerah di Jawa. Proses ini memakan waktu bertahun-tahun demi mendapatkan material yang benar-benar sesuai standar kekuatan dan estetika.
Arsitektur pendopo ini menggabungkan teknik konstruksi tradisional dengan ketelitian modern. Setiap sambungan kayu menggunakan sistem pasak tanpa paku, mempertahankan keaslian metode nenek moyang.
Hasilnya, pendopo ini bukan hanya memecahkan rekor sebagai yang terbesar, tetapi juga menjadi representasi warisan budaya yang lestari.
Filosofi di Balik Nama Hand Asta Sih
Nama Hand Asta Sih memiliki arti mendalam. “Hand” diambil dari nama Handoko, “Asta” berarti tangan atau delapan, dan “Sih” berarti kasih. Filosofinya, delapan tangan kasih ini adalah simbol kerja sama, cinta, dan kepedulian kepada sesama.
Pendopo ini diharapkan menjadi ruang pertemuan yang membawa kebaikan, bukan sekadar tempat megah untuk dipamerkan.
Selain digunakan untuk acara keluarga, pendopo ini juga terbuka bagi kegiatan sosial, budaya, dan edukasi. Masyarakat dapat memanfaatkannya untuk pagelaran seni, diskusi budaya, bahkan kegiatan amal.
Dari Dokter ke Pecinta Arsitektur Tradisional
Perjalanan Handoko dari seorang dokter di pelosok Bojonegoro hingga menjadi pemilik pendopo terbesar di dunia adalah kisah tentang konsistensi dan visi besar.
Profesi kedokteran yang digelutinya mengajarkan arti pengabdian, sementara kecintaannya pada kayu jati mengasah rasa seni dan budaya. Perpaduan keduanya melahirkan karya yang monumental.
Pendopo ini menjadi bukti bahwa mimpi yang dirawat dengan kerja keras akan menemukan jalannya untuk terwujud.
Baca Juga: Pantai Jebring, Surga Tersembunyi Berpasir Hitam di Desa Ngadipuro Blitar Selatan
Menarik Minat Wisatawan dan Peneliti
Kini, Pendopo Hand Asta Sih tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga Handoko, tetapi juga daya tarik wisata di Blitar. Banyak peneliti arsitektur, pecinta seni ukir, hingga wisatawan lokal dan mancanegara datang untuk melihat langsung kemegahannya.
Detail ukiran, pilar-pilar raksasa, dan tata ruang yang lapang menjadi daya pikat utama. Banyak pengunjung mengabadikan momen di sini untuk dibagikan di media sosial, membuat pendopo ini semakin terkenal.
Pemerintah daerah pun melihat potensi besar pendopo ini sebagai ikon budaya dan pariwisata.
Pesan Inspiratif untuk Generasi Muda
Dari cerita hidupnya, Handoko berharap generasi muda berani bermimpi besar dan menjaga warisan budaya.
Ia percaya, nilai luhur seperti kejujuran, kerja keras, dan cinta terhadap budaya lokal adalah bekal penting untuk membangun masa depan.
“Pendopo ini bukan hanya milik saya, tapi milik semua orang yang ingin belajar dan melestarikan budaya Jawa,” ujarnya.
Baca Juga: Harga Sewa Sound Horeng Capai Rp30 Juta, Paket Lengkap Bisa Tembus Rp2 Miliar
Pendopo Hand Asta Sih adalah cermin dari perjalanan panjang seorang anak bangsa yang tidak melupakan akar budaya, meski berkarier di bidang modern. Dari rumah kayu sederhana di Bojonegoro hingga pendopo berukuran rekor dunia di Blitar, kisah ini menjadi pengingat bahwa inspirasi bisa datang dari tempat yang paling sederhana, lalu tumbuh menjadi karya monumental yang menginspirasi banyak orang.
Editor : Anggi Septian A.P.