Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pakem Arsitektur Jawa: Bedanya Joglo dan Pendopo Menurut Pemilik Pendopo Hand Asta Sih

Anggi Septiani • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 03:30 WIB

 

Pakem Arsitektur Jawa: Bedanya Joglo dan Pendopo Menurut Pemilik Pendopo Hand Asta Sih
Pakem Arsitektur Jawa: Bedanya Joglo dan Pendopo Menurut Pemilik Pendopo Hand Asta Sih

BLITAR – Keberadaan Pendopo Hand Asta Sih di Blitar bukan hanya mengundang decak kagum karena ukurannya yang memecahkan rekor, tetapi juga karena kesetiaan sang pemilik, dr. Handoko, pada pakem arsitektur Jawa. Ia memegang teguh prinsip-prinsip klasik yang membedakan antara rumah joglo dan pendopo, baik dari segi fungsi, bentuk, maupun filosofi.

Dalam wawancaranya di kanal Radar Blitar TV YouTube, Handoko menegaskan bahwa Pendopo Hand Asta Sih dibangun sesuai konsep aslinya: ruang terbuka yang difungsikan untuk kepentingan umum. Sementara joglo, kata dia, adalah rumah induk yang biasanya menjadi bagian privat dari sebuah kompleks bangunan Jawa.

“Pendopo itu untuk masyarakat, bukan untuk pribadi,” ujarnya. Filosofi ini menjadi alasan mengapa Pendopo Hand Asta Sih kini kerap digunakan sebagai tempat pertemuan, kegiatan budaya, hingga wisata edukasi.

Baca Juga: Sertifikat Tanah Reforma Agraria Malah Dijual? Tantangan Besar Pasca Redistribusi Lahan

Pendopo vs Joglo: Perbedaan Fungsi dan Filosofi

Menurut Handoko, pendopo dan joglo sering kali disamakan karena sama-sama memiliki tiang kayu jati besar dan atap limasan. Namun, secara tradisional keduanya memiliki peran berbeda.

Pendopo berfungsi sebagai ruang penerima tamu atau pusat kegiatan bersama. Ruang ini bersifat terbuka di semua sisi untuk melambangkan keterbukaan tuan rumah terhadap masyarakat. Joglo, di sisi lain, adalah rumah inti yang bersifat lebih privat dan tertutup.

Handoko menambahkan, di masa lalu, pendopo sering menjadi pusat diskusi warga, tempat hajatan, atau lokasi menerima tamu penting. Filosofi itu ia terapkan kembali pada Pendopo Hand Asta Sih sebagai bentuk penghormatan pada budaya Jawa.

Baca Juga: Operator Sound Horeng Tahan 3 Hari Hanya Tidur 1 Jam, Mirip Pendaki Everest

Pakem Konstruksi yang Tetap Dijaga

Meski dibangun dengan ukuran raksasa dan teknologi modern, Handoko memastikan seluruh konstruksi Pendopo Hand Asta Sih mengikuti pakem asli. Tiang-tiang penyangga dibuat dari kayu jati berusia puluhan tahun, sambungan konstruksi menggunakan teknik pasak tanpa paku besi, dan ornamen ukiran disesuaikan dengan motif tradisional.

Setiap bagian pendopo dirancang untuk selaras dengan filosofi Jawa. Atapnya yang tinggi memungkinkan sirkulasi udara alami, sementara lantai kayu memberikan kenyamanan sekaligus kesan hangat.

Yulis, sang istri, ikut berperan dalam pemilihan motif gebyok dan ornamen yang menghiasi pendopo. Ia memastikan semua ukiran memiliki makna, mulai dari simbol kesuburan, perlindungan, hingga kesejahteraan.

Baca Juga: Sebelum Tampil, Sound Horeng Selalu Musyawarah dan Pindahkan Warga Sakit

Pendopo Hand Asta Sih sebagai Ruang Publik

Salah satu ciri khas Pendopo Hand Asta Sih adalah keterbukaannya untuk umum. Handoko tidak membatasi pendopo hanya untuk acara pribadi. Masyarakat dapat menggunakannya untuk berbagai kegiatan budaya, resepsi, hingga forum diskusi.

Bagi Handoko, pendopo adalah simbol gotong royong. “Kalau hanya untuk pribadi, itu bukan pendopo. Itu rumah mewah,” ujarnya. Pandangan ini membuat banyak pihak mengapresiasi keberadaannya sebagai warisan budaya hidup.

Tak jarang, pendopo ini menjadi lokasi pertunjukan seni, mulai dari wayang kulit, karawitan, hingga pameran kerajinan. Keindahan arsitekturnya juga membuatnya populer sebagai destinasi wisata dan objek fotografi.

Baca Juga: Sertifikat Tanah Reforma Agraria Malah Dijual? Tantangan Besar Pasca Redistribusi Lahan

Menghidupkan Kembali Warisan Leluhur

Handoko berharap, Pendopo Hand Asta Sih dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk kembali menghargai arsitektur tradisional. Menurutnya, warisan budaya seperti pendopo dan joglo bukan sekadar bangunan, tetapi juga simbol nilai-nilai luhur seperti keterbukaan, kebersamaan, dan rasa hormat.

Ia juga menekankan pentingnya memahami filosofi di balik arsitektur. “Kalau cuma meniru bentuk tanpa mengerti makna, itu hanya bangunan, bukan pendopo,” katanya.

Dengan memadukan koleksi kayu jati yang dikumpulkan bertahun-tahun, keahlian tukang tradisional, dan semangat melestarikan budaya, Handoko berhasil menghadirkan pendopo yang tak hanya megah, tetapi juga sarat makna.

Editor : Anggi Septian A.P.
#hand #sih #Asta #pendopo