BLITAR — Musim angin kencang yang melanda wilayah laut di Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, menjadi penghambat utama bagi para nelayan untuk melaut.
Angin besar membuat ombak tinggi dan mengganggu keseimbangan kapal, sehingga risiko kecelakaan di tengah laut meningkat.
Salah satu nelayan, Bambang mengungkapkan sudah menggeluti profesi ini selama lebih dari dua dekade sehingga paham jika mengalami kondisi alam tersebut. Akibatnya, waktu melaut menjadi sangat terbatas.
“Kalau cuaca seperti ini, biasanya menjelang tanggal 17, angin terus besar. Kesempatan melaut hanya dari sore sampai pagi, lewat dari itu sudah tidak bisa,” ungkapnya, Kamis (14/8/2025).
Dia mengatakan, jika kondisi angin terlalu kencang, lebih baik memilih untuk tidak mengambil risiko.
“Kalau angin kencang seperti ini, saya milih membenahi jaring yang robek saja, daripada ambil risiko,” ujar pria 40 tahun ini.
Perbaikan jaring menjadi pekerjaan alternatif ketika kapal tidak bisa berlayar. Jaring robek, menurut Bambang, dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah terkena tiram yang menempel pada badan kapal.
“Mau gak mau kapal harus nganggur kalau anginnya kaya begini. Alhasil, tiram banyak yang menempel di badan kapal karena kapal nganggur, mas. Itu bisa bikin jaring sobek,” jelasnya.
Selama ini, jenis ikan yang sering ditangkap nelayan Tambakrejo adalah tongkol. Namun, musim angin kencang membuat hasil tangkapan menurun drastis.
“Penghasilan ya belum cukup, wong tangkapannya sedikit-sedikit,” kata Bambang.
Bambang mengaku tidak memiliki pekerjaan sampingan seperti sebagian nelayan lain yang menjadi petani. Dia hanya mengandalkan hasil melaut.
Meski tantangan besar datang setiap musim angin kencang, Bambang tetap berharap keberuntungan selalu berpihak pada para nelayan.
“Harapannya, ikan terus ada dan harganya mahal,” pungkasnya. (mg4/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah