Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Wasiat yang Diabaikan: Misteri di Balik Pemakaman Soekarno di Blitar

Anggi Septiani • Selasa, 19 Agustus 2025 | 23:00 WIB

Wasiat yang Diabaikan: Misteri di Balik Pemakaman Soekarno di Blitar
Wasiat yang Diabaikan: Misteri di Balik Pemakaman Soekarno di Blitar
Blitarkawentar.jawapos.com – Nama Soekarno selalu lekat dalam sejarah bangsa Indonesia. Sang proklamator yang dijuluki penyambung lidah rakyat ini menutup usia pada 21 Juni 1970. Namun, di balik kepergiannya, masih tersimpan misteri tentang di mana jenazahnya dimakamkan.

Menurut sumber dari YtCrash Claims YouTube, Soekarno sejatinya meninggalkan wasiat agar dikebumikan di Kebun Raya Bogor, berdampingan dengan istrinya Hartini. Akan tetapi, pemerintah pada masa Presiden Soeharto justru mengabaikan permintaan tersebut. Jenazah sang proklamator akhirnya dikirim ke Blitar, Jawa Timur.

Keputusan itu memunculkan berbagai spekulasi politik. Bagi sebagian kalangan, pemindahan jenazah Soekarno ke Blitar dianggap sebagai strategi Soeharto untuk menjauhkan simbol perlawanan rakyat dari pusat kekuasaan di Jakarta. Hal ini sekaligus mempertegas adanya dinamika politik pasca 1965 yang masih penuh intrik.

Wasiat Bung Karno yang Tak Tersampaikan

Dalam catatan sejarah, Soekarno pernah menulis surat wasiat pada 1965. Isinya jelas, ia ingin dimakamkan di Bogor dekat istrinya. Sayangnya, keinginan itu tidak pernah terwujud.

Keluarga Bung Karno, termasuk Hartini dan Ratna Sari Dewi, sempat mengusulkan agar makam sang proklamator berada di Batutulis Bogor. Namun, pemerintah tetap menolak. Dengan alasan bahwa di Blitar telah dimakamkan ayah dan ibu Soekarno, pemerintah bersikeras menetapkan lokasi pemakaman di kota tersebut.

Alasan tersebut memang terdengar masuk akal. Namun para pengamat sejarah menilai keputusan Soeharto sarat dengan kepentingan politik. Menguburkan Soekarno di Blitar dianggap sebagai upaya mengendalikan memori kolektif rakyat agar tak terlalu dekat dengan pusat pemerintahan.

Blitar, Antara Simbol dan Pengaburan Sejarah

Blitar kemudian menjadi kota bersejarah bagi bangsa Indonesia karena menjadi tempat peristirahatan terakhir Soekarno. Namun, muncul pula narasi lain yang menimbulkan polemik.

Pada masa Orde Baru, berkembang cerita bahwa Soekarno lahir di Blitar. Narasi ini bahkan sempat memengaruhi pidato Presiden Jokowi yang salah menyebutkan tempat kelahiran Bung Karno di Blitar, padahal fakta sejarah menyebutkan ia lahir di Peneleh, Surabaya.

Pengaburan sejarah ini dinilai sebagai upaya sistematis Orde Baru untuk memindahkan ingatan kolektif rakyat. Surabaya yang dikenal sebagai pusat revolusi, seakan dihapus dari kisah lahirnya sang proklamator. Dengan begitu, citra Blitar semakin dilekatkan pada sosok Soekarno.

Tangis Rakyat Saat Pemakaman

Prosesi pemakaman Bung Karno di Blitar pada 22 Juni 1970 berlangsung penuh haru. Ratusan ribu rakyat tumpah ruah memenuhi jalan dan area pemakaman. Militer bahkan harus bekerja ekstra untuk mengendalikan lautan manusia.

Setelah liang lahat ditutup, tangisan keluarga pecah disusul oleh pelayat lain. Banyak rakyat yang tidak rela beranjak, bahkan hingga malam hari peziarah terus berdatangan.

Fenomena yang paling menyentuh adalah ketika taburan bunga di makam habis dipungut. Warga kemudian membawa segenggam tanah dari pusara Bung Karno sebagai kenang-kenangan. Tanah di atas makam pun rata karena begitu banyak orang yang mengambilnya.

Politik di Balik Pemakaman

Pemakaman Soekarno di Blitar tak bisa dilepaskan dari konteks politik masa itu. Soeharto, yang baru saja mengonsolidasikan kekuasaan pasca peristiwa 1965, dinilai khawatir popularitas Bung Karno tetap membayanginya.

Pengaruh Soekarno, meski sudah lengser, masih sangat kuat di hati rakyat. Pemerintah Orde Baru tidak menginginkan adanya dua figur besar yang dianggap “dua matahari” dalam politik Indonesia.

Karena itu, jenazah Bung Karno dijauhkan dari Jakarta, agar rakyat tidak menjadikannya simbol perlawanan. Meski demikian, justru dari Blitar, cinta rakyat terhadap Soekarno semakin nyata. Hingga kini, makam Bung Karno selalu ramai peziarah dari berbagai daerah di Indonesia.

Meluruskan Fakta Sejarah

Seiring berjalannya waktu, polemik pemakaman Bung Karno masih terus dibicarakan. Pertanyaan utama tetap sama: mengapa wasiatnya tidak dipenuhi? Mengapa pemerintah kala itu bersikeras memakamkan di Blitar?

Sejarawan menilai, jawaban atas misteri ini lebih banyak terkait intrik politik dibanding sekadar alasan keluarga dimakamkan di sana. Blitar dipilih untuk menekan potensi simbol perlawanan di Jakarta maupun Bogor.

Kini, setelah reformasi, muncul kesadaran baru bahwa sejarah harus diluruskan. Fakta kelahiran Bung Karno di Surabaya dan wasiat pemakaman di Bogor harus disampaikan sebagaimana adanya. Hal ini penting agar generasi mendatang tidak terjebak dalam pengaburan sejarah.

Makam yang Menjadi Magnet Rakyat

Ironisnya, upaya menjauhkan Bung Karno dari pusat politik justru menjadikan Blitar semakin terkenal. Makam Soekarno kini menjadi salah satu situs sejarah dan wisata ziarah paling ramai di Jawa Timur.

Ribuan orang datang setiap hari untuk berdoa, berziarah, dan mengingat jasa besar sang proklamator. Bahkan, pada momen tertentu, makam ini menjadi pusat peringatan hari nasional yang penuh dengan nilai historis.

Meski wasiatnya diabaikan, Soekarno tetap hidup dalam hati rakyat. Ia bukan hanya seorang presiden pertama, melainkan simbol perjuangan dan pemersatu bangsa. Misteri di balik pemakamannya di Blitar menjadi bukti betapa besar pengaruhnya, bahkan setelah ia tiada.

Editor : Anggi Septian A.P.
#blitar #soekarno