BLITAR – Tidak banyak yang tahu, bahwa sebelum Kabupaten Blitar resmi terbentuk, wilayah Srengat ternyata lebih dulu pernah berstatus sebagai kabupaten. Fakta sejarah ini masih jarang diketahui masyarakat luas. Padahal, Srengat memiliki peran penting dalam perjalanan berdirinya Kabupaten Blitar.
Menurut catatan sejarah yang dikupas Radar Blitar TV bersama pegiat literasi sejarah Insan Widodo, Srengat berstatus kabupaten pada sekitar tahun 1770-an hingga akhirnya dihapus oleh Pemerintah Hindia Belanda pada 1830. Penghapusan itu dilakukan segera setelah Perang Diponegoro atau Perang Jawa berakhir. Sejak saat itu, nama Kabupaten Srengat seolah hilang dari ingatan.
Widodo, pemilik Perpustakaan Kartini Srengat, menjelaskan bahwa jejak Srengat sebagai kabupaten bisa ditelusuri dari berbagai dokumen tua yang tersimpan rapi. Mulai arsip Belanda, transkrip asli, hingga catatan dalam arsip nasional. “Serengat itu adalah embrio Kabupaten Blitar. Tanpa Serengat, sejarah Blitar tidak akan terbentuk seperti sekarang,” tegasnya.
Baca Juga: Serapan APBD 2025 Kabupaten Blitar Masih 48 Persen, Ini Faktor Penyebabnya
Bukti Tertulis di Perpustakaan Kartini
Perpustakaan Kartini yang berlokasi di Kelurahan Kauman, Srengat, menyimpan banyak dokumen penting. Arsip-arsip itu menjadi bukti kuat bahwa Srengat memiliki struktur pemerintahan kabupaten jauh sebelum Blitar. Bahkan dalam dokumen tahun 1848, masih tercatat istilah “district Serengat and district Blitar”, menunjukkan adanya masa transisi antara dua wilayah tersebut.
Widodo menambahkan, penghapusan Srengat sebagai kabupaten dilakukan Belanda bukan tanpa alasan. Salah satunya karena wilayah ini dianggap rawan menjadi pusat perlawanan. Banyak pengikut Pangeran Diponegoro bermigrasi ke Srengat setelah Perang Jawa. Belanda khawatir, semangat perlawanan bisa kembali muncul.
Akhirnya, melalui Resolusi 31 Desember 1830, Pemerintah Hindia Belanda resmi menghapus Kabupaten Srengat. Sejak itu, wilayah ini hanya menjadi distrik, sementara pusat pemerintahan perlahan bergeser menuju Blitar.
Baca Juga: Menteri Nusron dan Wamen Ossy Ikuti Rangkaian Lengkap Upacara HUT ke-80 RI
Srengat, Pintu Gerbang Perlawanan
Posisi Srengat sangat strategis pada masa itu. Wilayah ini menjadi jalur lintasan penting dari Madiun, Kediri, Nganjuk, hingga Tulungagung. Karena letaknya, Srengat kerap menjadi tempat berkumpul para pengikut Diponegoro.
Lebih unik lagi, mereka menggunakan kode rahasia berupa penanaman pohon sawo, manggis, dan kepel sebagai penanda antar-sesama. Pohon-pohon ini berfungsi sebagai simbol untuk saling mengenali, sekaligus sarana konsolidasi.
“Srengat itu semacam pintu gerbang. Para pengikut Diponegoro banyak yang melewati atau singgah di sini sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah timur Jawa,” kata Widodo.
Baca Juga: Petaka Pesta Miras di Kota Blitar, Dua Pembunuh Sempat Kabur usai Habisi Korban
Dari Pakunden ke Alun-Alun Blitar
Setelah Srengat dihapus, pusat pemerintahan sempat berpindah ke Pakunden. Namun, akibat letusan Gunung Kelud tahun 1848 yang merusak wilayah itu, pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke utara alun-alun, lokasi yang sekarang menjadi Pendopo Kabupaten Blitar.
Barulah pada 1 April 1863, Bupati pertama Blitar, Raden Tumenggung Arya Adinegoro, dilantik secara resmi oleh Pemerintah Hindia Belanda. Jika dihitung, butuh waktu sekitar 33 tahun sejak penghapusan Srengat hingga terbentuknya Kabupaten Blitar secara formal.
“Jadi jelas, Srengat adalah embrio Blitar. Dari sanalah proses panjang hingga lahirnya Kabupaten Blitar yang kita kenal sekarang,” ungkap Widodo.
Baca Juga: Petaka Pesta Miras di Kota Blitar, Dua Pembunuh Sempat Kabur usai Habisi Korban
Bupati Anti-Belanda
Sejumlah nama bupati Srengat tercatat dalam sejarah. Namun, sebagian besar dinilai tidak loyal pada Belanda. Bahkan ada yang diasingkan ke Ambon karena dianggap berseberangan dengan kepentingan kolonial. Kondisi ini membuat Belanda semakin curiga dan mempercepat penghapusan Srengat.
Kondisi itu berlanjut hingga masa awal Kabupaten Blitar. Bupati pertama, Arya Adinegoro, disebut sebagai sosok visioner. Namun, ia juga dituding tetap melindungi pengikut Diponegoro.
Karena alasan itu, Belanda memaksanya mundur pada 1868. Posisinya kemudian digantikan oleh menantunya, Raden Tumenggung Arya Warso Kusumo, pada 1869.
Baca Juga: Festival Sound di JLS Blitar Batal Digelar, Ini Sebabnya
Generasi Muda Perlu Melek Sejarah
Insan Widodo menegaskan, kisah hilangnya Kabupaten Srengat ini perlu diketahui generasi muda Blitar. Menurutnya, banyak informasi sejarah yang terputus karena strategi Belanda pada masa lalu. Tujuannya agar masyarakat lupa akan kejayaan leluhur.
“Kalau anak muda tidak mengenal sejarah, maka akan kehilangan identitasnya. Srengat itu bukti bahwa Blitar punya akar kuat sejak era Majapahit hingga masa perlawanan Diponegoro,” pesannya.
Sejarah panjang Srengat sebagai kabupaten memang telah terkubur lebih dari seabad. Namun, fakta ini menjadi pengingat bahwa perjalanan Blitar tidak bisa dilepaskan dari peran besar Srengat. Dari sanalah embrio sebuah kabupaten lahir, sebelum akhirnya menjadi Blitar yang dikenal saat ini.
Editor : Anggi Septian A.P.