Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Lahir di Surabaya, Dimakamkan di Blitar: Kontroversi Sejarah Soekarno

Anggi Septiani • Rabu, 20 Agustus 2025 | 00:30 WIB

 

Lahir di Surabaya, Dimakamkan di Blitar: Kontroversi Sejarah Soekarno
Lahir di Surabaya, Dimakamkan di Blitar: Kontroversi Sejarah Soekarno

Blitarkawentar.jawapos.com – Nama Soekarno identik dengan Blitar, kota di Jawa Timur yang menjadi tempat peristirahatan terakhir sang proklamator. Banyak orang bahkan masih percaya bahwa Bung Karno lahir di Blitar. Narasi ini mengakar kuat hingga kini, padahal fakta sejarah menyebutkan ia lahir di Surabaya.

Menurut penelusuran dari YtCrash Claims YouTube, Soekarno lahir di Kampung Peneleh, Surabaya, pada 6 Juni 1901. Rumah kelahirannya masih ada hingga saat ini dan menjadi saksi bisu perjalanan awal hidup sang proklamator. Namun, narasi Orde Baru perlahan mengaburkan fakta tersebut.

Masyarakat dibuat percaya bahwa Blitar bukan hanya tempat dimakamkannya Soekarno, tetapi juga kota kelahirannya. Mitos ini bertahan lama karena minimnya edukasi sejarah yang jujur pada masa pemerintahan Orde Baru.

Baca Juga: ATR/BPN Ajak Warga Saksikan Karnaval Kemerdekaan HUT ke-80 RI, Jangan Lupa Beri Vote

Peneleh, Surabaya: Jejak Awal Sang Proklamator

Rumah sederhana di kawasan Peneleh, Surabaya, menjadi tempat lahir Soekarno. Di rumah itu, ia menghabiskan masa kecil bersama orang tuanya, Raden Sukemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.

Surabaya menjadi kota penting dalam pembentukan jati dirinya. Di kota inilah Soekarno mulai mengenal dunia pendidikan modern dan pergerakan nasional.

Namun sayangnya, fakta sejarah ini jarang diangkat. Nama Blitar jauh lebih populer dalam narasi besar tentang Soekarno karena makamnya berada di sana.

Baca Juga: Serapan APBD 2025 Kabupaten Blitar Masih 48 Persen, Ini Faktor Penyebabnya

Blitar: Dari Makam Keluarga hingga Ikon Ziarah

Ketika Soekarno wafat pada 21 Juni 1970, jenazahnya dimakamkan di Blitar. Lokasi itu dipilih karena di sana juga terdapat makam ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai.

Sejak saat itu, Blitar menjadi pusat ziarah nasional. Ribuan orang dari berbagai daerah datang setiap tahun untuk menghormati Bung Karno.

Narasi Orde Baru memanfaatkan fakta ini dengan menekankan Blitar sebagai “kota Bung Karno”. Lambat laun, masyarakat lupa bahwa ia sebenarnya lahir di Surabaya.

Baca Juga: Kota Blitar Mulai Realisasikan Jadi Pusat Perdagangan usai Jalin Kerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta

Politik Orde Baru dan Manipulasi Narasi

Keputusan memakamkan Soekarno di Blitar tidak lepas dari kepentingan politik Soeharto. Menurut banyak pengamat, Soeharto ingin menjauhkan makam Bung Karno dari pusat kekuasaan Jakarta.

Dengan memindahkan makam ke Blitar, pengaruh Soekarno dianggap bisa ditekan. Namun kebijakan itu juga berdampak pada munculnya mitos bahwa Blitar adalah kota kelahiran sekaligus makamnya.

Narasi ini sejalan dengan strategi Orde Baru yang berusaha mengendalikan memori kolektif bangsa. Fakta yang tidak sesuai seringkali dihapus atau digeser agar sesuai kepentingan rezim.

Baca Juga: Komisi II DPRD Kota Blitar Soroti KMP usai Diresmikan Presiden Prabowo Subianto, Ini Katanya

Rumah Kelahiran di Surabaya yang Terlupakan

Di sisi lain, rumah kelahiran Soekarno di Peneleh, Surabaya, justru tidak mendapat perhatian sebesar makamnya di Blitar. Padahal bangunan itu menyimpan nilai sejarah yang luar biasa.

Rumah berarsitektur kolonial tersebut masih berdiri hingga kini. Beberapa komunitas sejarah berupaya merawatnya dan menjadikannya destinasi wisata edukasi.

Namun perhatian masyarakat masih kalah jauh dibandingkan dengan animo ziarah ke Blitar. Inilah bukti betapa kuatnya narasi yang dibangun selama puluhan tahun.

Baca Juga: HUT Ke-80 Kemerdekaan RI, Pemkot Blitar Siap Perkuat Persatuan dan Semangat Gotong Royong Bangun Daerah

Dua Kota, Dua Identitas Sejarah

Jika ditarik benang merah, Surabaya dan Blitar sama-sama penting dalam perjalanan Soekarno. Surabaya adalah tempat ia dilahirkan, sementara Blitar menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.

Sayangnya, masyarakat lebih sering mengingat Blitar saja. Padahal Surabaya memiliki klaim historis yang tak kalah sahih dan penting.

Inilah yang memicu kontroversi sejarah. Fakta kelahiran Soekarno di Surabaya sering tersisih oleh mitos yang dilekatkan pada Blitar.

Baca Juga: Kesalahan Fatal Saat Karantina Ikan Koi yang Bisa Memicu Outbreak

Pendidikan Sejarah yang Timpang

Banyak generasi muda yang tumbuh dengan pemahaman keliru mengenai asal-usul Soekarno. Mereka diajari bahwa Blitar adalah kota lahir sekaligus makamnya.

Minimnya sumber bacaan alternatif dan dominasi kurikulum Orde Baru menjadi penyebab utama kesalahpahaman ini. Baru setelah era reformasi, diskusi sejarah mulai terbuka kembali.

Namun jejak manipulasi narasi masih terasa. Hingga kini, sebagian masyarakat masih sulit menerima bahwa Soekarno lahir di Surabaya.

Baca Juga: Dengarkan Pidato Kenegaraan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI, DPRD Kota Blitar Harap Program Nasional Segera Terealisasi di Daerah

Warisan Sejarah yang Perlu Diluruskan

Mengutip YtCrash Claims YouTube, meluruskan sejarah bukan sekadar soal lokasi kelahiran. Lebih dari itu, ini tentang bagaimana bangsa menghargai kebenaran.

Soekarno adalah milik seluruh rakyat Indonesia. Mengetahui fakta lahirnya di Surabaya dan dimakamkan di Blitar justru memperkaya pemahaman kita tentang sosoknya.

Kedua kota tersebut layak diapresiasi sebagai bagian dari perjalanan hidup Bung Karno, tanpa harus dipertentangkan.

Baca Juga: ⁠Festival Sound di JLS Blitar Batal Digelar, Ini Sebabnya

Penutup: Kebenaran di Atas Mitos

Kontroversi sejarah tentang Soekarno membuktikan bahwa narasi politik dapat membentuk persepsi kolektif bangsa. Apa yang diyakini masyarakat belum tentu sesuai dengan fakta.

Sudah saatnya bangsa ini jujur pada sejarahnya sendiri. Soekarno lahir di Surabaya, dimakamkan di Blitar, dan diingat oleh rakyat sepanjang masa.

Meluruskan fakta bukan berarti mengurangi kehormatan Bung Karno. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk penghormatan tertinggi pada sang proklamator dengan menempatkannya pada kebenaran sejarah yang sesungguhnya

Editor : Anggi Septian A.P.
#blitar #soekarno