Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Perpustakaan Kartini Srengat: Menyimpan Dokumen Asli Sejarah Blitar dari Belanda hingga Majapahit

Findika Pratama • Rabu, 20 Agustus 2025 | 04:30 WIB

Perpustakaan Kartini Srengat: Menyimpan Dokumen Asli Sejarah Blitar dari Belanda hingga Majapahit
Perpustakaan Kartini Srengat: Menyimpan Dokumen Asli Sejarah Blitar dari Belanda hingga Majapahit

BLITAR – Tidak banyak masyarakat yang tahu bahwa di Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, terdapat sebuah perpustakaan yang menyimpan dokumen bersejarah penting. Namanya Perpustakaan Kartini, yang terletak di Kelurahan Kauman. Tempat ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang Blitar sejak masa Majapahit hingga era kolonial Belanda.

Perpustakaan ini dikelola oleh Insan Widodo, pegiat literasi sejarah yang lahir dan besar di Srengat. Ia menuturkan, koleksi yang dimiliki Perpustakaan Kartini sebagian besar berupa arsip dokumenter. Ada foto-foto lawas, salinan dokumen Belanda, hingga catatan arsip nasional yang memperkuat fakta-fakta sejarah Blitar.

Srengat memiliki sejarah yang lebih tua dari Kabupaten Blitar sendiri. Banyak bukti otentik yang tersimpan di sini, yang membuktikan bahwa Srengat pernah berperan penting sebelum Blitar resmi terbentuk,” ungkap Widodo dalam bincang bersama Radar Blitar TV.

Baca Juga: ATR/BPN Ajak Warga Saksikan Karnaval Kemerdekaan HUT ke-80 RI, Jangan Lupa Beri Vote

Arsip Belanda hingga Majapahit

Koleksi utama Perpustakaan Kartini berasal dari berbagai sumber. Ada dokumen lama dalam bahasa Belanda, transkrip hasil penelitian lembaga KITLV, hingga salinan arsip nasional. Widodo menjelaskan, dokumen-dokumen itu sebagian sudah dicetak ulang untuk kepentingan literasi masyarakat.

Dalam catatan tersebut, disebutkan bahwa Srengat sempat berstatus kabupaten pada abad ke-18, jauh sebelum Kabupaten Blitar berdiri. Bahkan dalam beberapa dokumen, terdapat istilah “district Serengat and district Blitar” yang menunjukkan adanya masa transisi pemerintahan.

Tak hanya dari era kolonial, Perpustakaan Kartini juga menyimpan catatan terkait Majapahit. Salah satunya mengenai hari jadi Blitar yang jatuh pada 5 Agustus 1324, di masa pemerintahan Raja Jayanegara. Catatan ini mempertegas bahwa Blitar memiliki akar sejarah panjang yang berawal dari era kerajaan besar di Jawa.

Baca Juga: Seragam Sekolah Gratis Kota Blitar Tahap Finalisasi, Kapan Mulai Dibagikan?

Pusat Diskusi Sejarah dan Kebangsaan

Widodo menyebut Perpustakaan Kartini tidak hanya menjadi ruang penyimpanan arsip. Tempat ini juga sering dipakai untuk diskusi, bedah buku, dan kajian kebangsaan. Tema yang dibahas pun beragam, mulai dari sejarah lokal, kebudayaan, hingga perjalanan nasional.

“Banyak komunitas yang datang ke sini untuk belajar. Kami ingin anak muda, khususnya generasi Blitar, tidak kehilangan jati diri dan paham asal-usul daerahnya,” ujar Widodo.

Menurutnya, literasi sejarah penting agar masyarakat tidak tercerabut dari akarnya. Ia khawatir jika generasi muda melupakan sejarah lokal, maka akan kehilangan identitas dan kebanggaan terhadap leluhur mereka.

Baca Juga: Serapan APBD 2025 Kabupaten Blitar Masih 48 Persen, Ini Faktor Penyebabnya

Jejak Srengat yang Terhapus Belanda

Sejarah mencatat, Srengat dihapus dari status kabupaten pada 1830. Itu dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda pasca Perang Diponegoro. Salah satu alasannya, Srengat menjadi lokasi konsentrasi pengikut Diponegoro yang bermigrasi ke wilayah timur Jawa.

Belanda khawatir wilayah ini kembali menjadi pusat perlawanan. Karena itulah, lewat Resolusi 31 Desember 1830, Srengat resmi dihapus. Sejak saat itu, wilayah ini hanya menjadi distrik, sementara pusat pemerintahan beralih ke Blitar.

Namun, Widodo menegaskan bahwa hilangnya Srengat dari peta pemerintahan tidak serta merta menghapus jejak sejarahnya. Arsip-arsip yang tersimpan di Perpustakaan Kartini menjadi bukti bahwa Srengat pernah berdiri sebagai kabupaten dan menjadi embrio Blitar.

Baca Juga: Kota Blitar Mulai Realisasikan Jadi Pusat Perdagangan usai Jalin Kerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta

Simbol Rahasia Pengikut Diponegoro

Menariknya, dari berbagai catatan yang ada, diketahui bahwa para pengikut Diponegoro di Srengat memiliki cara unik untuk saling mengenali. Mereka menanam pohon sawo, manggis, dan kepel sebagai kode rahasia. Pohon-pohon ini menjadi penanda identitas sekaligus media konsolidasi di tengah tekanan penjajah.

Kode ini digunakan karena banyak bangsawan Jawa yang melarikan diri ke wilayah Blitar dan Srengat setelah Perang Jawa. Mereka harus menyembunyikan identitas agar tidak ditangkap Belanda. Dengan sandi pohon itu, mereka bisa berkomunikasi dengan aman.

Menjaga Sejarah untuk Masa Depan

Widodo berharap keberadaan Perpustakaan Kartini Srengat bisa terus dijaga dan dikembangkan. Ia ingin generasi muda tidak hanya mengenal sejarah nasional, tapi juga sejarah lokal yang membentuk identitas Blitar.

Baca Juga: ⁠Petaka Pesta Miras di Kota Blitar, Dua Pembunuh Sempat Kabur usai Habisi Korban

“Tanpa Srengat, mungkin tidak ada Kabupaten Blitar seperti sekarang. Jadi penting sekali menjaga arsip dan literasi sejarah agar tidak hilang,” pesannya.

Perpustakaan Kartini Srengat kini menjadi salah satu pusat literasi berharga di Blitar. Di balik bangunan sederhana itu, tersimpan catatan penting perjalanan sebuah daerah. Dari era Majapahit, kolonial Belanda, hingga lahirnya Kabupaten Blitar, semua tersimpan rapi sebagai pengingat bahwa sejarah tidak boleh dilupakan.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #srengat