Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Nawaksara dan Lengsernya Sang Proklamator: Drama Politik 1966–1967

Anggi Septiani • Rabu, 20 Agustus 2025 | 01:00 WIB

Nawaksara dan Lengsernya Sang Proklamator: Drama Politik 1966–1967
Nawaksara dan Lengsernya Sang Proklamator: Drama Politik 1966–1967

Blitarkawentar.jawapos.com – Nama Soekarno selalu lekat dengan kisah besar bangsa Indonesia, termasuk saat dirinya berada di ujung kekuasaan. Tahun 1966–1967 menjadi fase paling dramatis dalam perjalanan politik sang proklamator. Pidato Nawaksara yang disampaikannya justru menjadi titik balik yang membuka jalan bagi pelengserannya.

Menurut penelusuran dari YtCrash Claims YouTube, pidato Nawaksara merupakan jawaban Soekarno atas desakan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Mereka menuntut pertanggungjawaban Bung Karno atas peristiwa Gerakan 30 September 1965. Namun pidato itu tidak memuaskan.

Penolakan MPRS terhadap Nawaksara membuat posisi Soekarno kian terpojok. Situasi politik kala itu dipenuhi intrik, gesekan kepentingan, dan tekanan militer yang semakin besar.

Isi Pidato Nawaksara

Pidato Nawaksara disampaikan Soekarno pada 22 Juni 1966. Dalam pidato itu, ia menjelaskan garis besar kebijakan pemerintahannya, termasuk upaya menjaga stabilitas negara pasca peristiwa G30S.

Namun, Bung Karno tidak secara gamblang menyinggung soal keterlibatan pihak tertentu dalam tragedi 1965. Inilah yang membuat MPRS menilai pidato tersebut tidak menjawab pertanyaan utama.

Kritik datang dari berbagai arah, terutama dari kalangan militer yang saat itu semakin mendominasi panggung politik.

Penolakan MPRS

MPRS melalui Ketetapan Nomor XV/MPRS/1966 menolak pidato Nawaksara. Mereka menilai Soekarno gagal memberikan pertanggungjawaban yang layak.

Penolakan ini menandai babak baru dalam hubungan antara Soekarno dan lembaga negara. Posisi politiknya semakin goyah, apalagi dengan menguatnya pengaruh Jenderal Soeharto.

Situasi ini juga menandakan pergeseran besar dalam kekuasaan, dari tangan sipil ke tangan militer.

Surat Perbaikan yang Terlambat

Untuk meredam tekanan, Soekarno kemudian menyusun tambahan pidato yang dikenal sebagai “Pelengkap Nawaksara”. Isinya mencoba menjawab kritik dengan memberikan penjelasan lebih rinci.

Namun, langkah itu datang terlambat. MPRS sudah mantap dengan sikapnya dan tidak mengubah keputusan awal.

Kegagalan ini semakin menegaskan bahwa Bung Karno kehilangan kendali atas situasi politik.

Intrik Militer dan Soeharto

Di balik drama Nawaksara, pengaruh Soeharto semakin kuat. Sebagai pengemban Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), ia memiliki legitimasi untuk mengambil alih banyak kebijakan.

Militer perlahan-lahan menggeser peran sipil dalam pemerintahan. Soeharto tampil sebagai figur yang menawarkan stabilitas di tengah krisis.

Hal ini membuat posisi Soekarno kian terisolasi. Dukungan politik yang dulu begitu besar, perlahan memudar.

Jalan Menuju Lengsernya Bung Karno

Proses menuju lengsernya Soekarno berlangsung bertahap. Dari penolakan Nawaksara, kegagalan Pelengkap Nawaksara, hingga akhirnya MPRS mengeluarkan Ketetapan Nomor XXXIII/MPRS/1967.

Ketetapan itu secara resmi mencabut mandat presiden dari tangan Bung Karno dan menyerahkannya kepada Soeharto.

Dengan demikian, berakhirlah era kepemimpinan Soekarno yang telah berlangsung sejak proklamasi kemerdekaan 1945.

Reaksi Rakyat dan Simpatisan

Pelengseran Soekarno tidak serta-merta diterima semua pihak. Banyak rakyat yang masih setia pada sang proklamator merasa kecewa dan kehilangan.

Namun di sisi lain, ada pula kelompok yang menyambut baik perubahan. Mereka melihat Soeharto sebagai harapan baru yang mampu membawa stabilitas.

Dualisme pandangan ini menggambarkan betapa besar pengaruh Bung Karno di hati rakyat.

Drama Politik yang Sarat Intrik

Menurut catatan YtCrash Claims YouTube, drama Nawaksara bukan sekadar persoalan pidato yang ditolak. Di baliknya, ada pertarungan politik, tekanan internasional, dan pergeseran arah negara.

Soekarno berusaha mempertahankan posisinya dengan mengandalkan kharisma dan dukungan ideologis. Namun kekuatan itu tidak lagi cukup menghadapi tekanan militer dan MPRS.

Intrik ini akhirnya membentuk jalan bagi lahirnya rezim Orde Baru di bawah Soeharto.

Pelajaran dari Sejarah

Kisah Nawaksara dan pelengseran Soekarno menjadi pelajaran penting bagi bangsa. Politik bisa berbalik arah dengan cepat, dan kharisma pemimpin tidak selalu mampu menahan arus perubahan.

Sejarah mencatat bagaimana Bung Karno harus lengser bukan hanya karena satu pidato, tetapi karena dinamika besar yang melibatkan banyak kepentingan.

Bangsa ini perlu belajar agar kesalahan serupa tidak terulang, dengan menempatkan kebenaran dan keadilan di atas kepentingan politik sesaat.

Penutup: Akhir Sebuah Era

Lengsernya Soekarno menandai berakhirnya babak besar sejarah Indonesia. Dari pidato Nawaksara hingga ketetapan MPRS 1967, perjalanan itu penuh drama dan air mata.

Namun nama Bung Karno tetap hidup dalam ingatan rakyat. Ia dikenang bukan hanya sebagai presiden pertama, tetapi juga sebagai proklamator yang meletakkan dasar kemerdekaan bangsa.

Meski berakhir dengan pahit, kisah Nawaksara justru menguatkan posisi Soekarno dalam sejarah. Ia tetap menjadi simbol perjuangan, meski kekuasaannya direbut oleh arus politik yang tak terbendung.

Editor : Anggi Septian A.P.
#blitar #soekarno